Mata Pelajaran Sanu, Sang Guru
Tentang Wanita-Wanita
sekarang dan dulu wanita menjual membeli menjual membeli
inilah bisnis asal inilah
pria menjadi angkuh padahal dia hewan pekerja hewan piaraan
pria adalah hewan piaraan wanita
dipelihara ibu
dipelihara kekasih
dipelihara isteri
dipelihara isteri piaraan
jangan dusta akui jangan dusta
akui akui akui seni berfikir wanita
akuilah akuilah pria pekerja kerajinan tangan
sekedar hewan pekerja sekedar hewan
hamba-hamba pria dengan busana priyayi
cuma berbusana keangkuhan demi leadership
tanpa seni fikir kecuali craftsmanship
Wanita: art
seni total
He, kau dengarkah Sanu?
Sumber: Horison (April, 1985)
Analisis Puisi:
Puisi “Tentang Wanita-Wanita” karya Motinggo Boesje merupakan puisi yang bernuansa satiris dan filosofis. Melalui gaya bahasa yang lugas, provokatif, dan penuh pengulangan, penyair menghadirkan pandangan tentang relasi antara pria dan wanita dalam kehidupan sosial.
Dalam puisi ini, sosok Sanu sebagai guru tampaknya sedang menyampaikan sebuah pelajaran yang tidak biasa kepada murid-muridnya. Ia membalik pandangan umum tentang dominasi laki-laki dengan menegaskan bahwa di balik keangkuhan pria, terdapat peran besar wanita yang membentuk, memelihara, dan memengaruhi kehidupan mereka.
Puisi ini tidak sekadar membahas hubungan gender, tetapi juga mengangkat persoalan kekuasaan, kecerdasan, dan penghargaan terhadap peran perempuan dalam kehidupan manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah peran dan pengaruh wanita dalam kehidupan manusia serta kritik terhadap keangkuhan pria. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang relasi gender, kekuasaan sosial, kecerdasan, dan penghargaan terhadap kemampuan berpikir perempuan.
Puisi ini bercerita tentang pandangan seorang guru bernama Sanu mengenai hubungan antara pria dan wanita. Menurut pandangan yang disampaikan dalam puisi, pria sering kali merasa lebih unggul dan berkuasa. Namun kenyataannya, sejak lahir hingga dewasa, kehidupan pria selalu dipengaruhi dan "dipelihara" oleh perempuan.
Penyair menggambarkan bahwa seorang pria dibesarkan oleh ibunya, dicintai oleh kekasihnya, dan kemudian didampingi oleh istrinya. Dengan kata lain, perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk kehidupan laki-laki.
Sanu kemudian mengkritik sikap pria yang sering merasa angkuh karena jabatan, kepemimpinan, atau kekuasaan yang dimilikinya. Menurutnya, banyak pria hanya unggul dalam pekerjaan atau keterampilan teknis, sementara perempuan memiliki kekuatan dalam seni berpikir dan memahami kehidupan.
Pada bagian akhir, penyair menyimpulkan bahwa perempuan merupakan representasi seni yang utuh dan menyeluruh dalam kehidupan manusia.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kekuasaan yang tampak di permukaan tidak selalu menunjukkan siapa yang sesungguhnya memiliki pengaruh terbesar.
Puisi ini menyiratkan bahwa perempuan sering kali dipandang berada di belakang laki-laki, padahal mereka memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter, pola pikir, dan perjalanan hidup pria.
Ungkapan:
"pria adalah hewan piaraan wanita"
bukan dimaksudkan secara harfiah, melainkan sebagai sindiran bahwa pria sangat bergantung pada peran perempuan dalam berbagai tahap kehidupannya.
Selain itu, puisi ini mengajak pembaca untuk menghargai kecerdasan emosional, intuisi, dan kemampuan berpikir perempuan yang sering kali kurang mendapatkan pengakuan dalam masyarakat patriarkal.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Amanat yang terkandung dalam puisi ini antara lain:
- Jangan memandang rendah peran perempuan dalam kehidupan.
- Keangkuhan dan rasa superior tidak selalu mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya.
- Pengaruh seseorang tidak hanya diukur dari jabatan atau kekuasaan formal.
- Hargailah kecerdasan, pemikiran, dan kontribusi perempuan dalam masyarakat.
- Hubungan antara pria dan wanita seharusnya dilandasi saling menghormati, bukan dominasi.
Puisi “Tentang Wanita-Wanita” karya Motinggo Boesje merupakan puisi satiris yang mengangkat tema relasi antara pria dan wanita. Melalui berbagai metafora dan sindiran, penyair mengkritik keangkuhan laki-laki sekaligus menegaskan pentingnya peran perempuan dalam kehidupan manusia. Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat perempuan bukan sebagai pihak yang berada di belakang, melainkan sebagai sosok yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk peradaban, pemikiran, dan kehidupan sosial. Dengan gaya yang provokatif dan reflektif, puisi ini menghadirkan pesan tentang penghargaan, kesetaraan, dan pengakuan terhadap kontribusi perempuan.
Karya: Motinggo Boesje
Biodata Motinggo Boesje:
- Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
- Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
- Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.
