Puisi: Wanita yang Kencing di Semak (Karya Mardi Luhung)

Puisi "Wanita yang Kencing di Semak" karya Mardi Luhung mengingatkan bahwa di balik rasa malu dan ketakutan manusia, terdapat proses-proses alamiah ..

Wanita yang Kencing di Semak

Wanita yang kencing di semak
takut apa, jengah apa?
kerumitan-rahasianya terbuka

pada rumput, batu dan tanah
bayangan pun tercetak lewat genangan
yang dikucurkan penuh was-was

dan udara yang berhenti di tengkuk
seperti tak mau surut
lebih memilih bersuntuk

untuk mengintip apa yang akan
terbit, tumbuh dan menua, lalu kembali
pada lorong yang seperti itu-itu juga

yang lembab dengan aroma rempah
yang rempah dengan sapuan kelabu
tempat semua pohon dan hewan dihitung


saat yang kuat masih berkata:
"Di sana, di sana, dan di sana, daging,
kuku, tulang kulit untuk nanti,"

lalu, jalan-jalan pun terbiak
dan karunia? Siapa yang menolak
jika semuanya telah digenangi?

yang jelas, kuyup dan kuncup silih-ganti,
silih-sembul, dengan sedikit guncang
mata terpejam tapi selalu saja

betapa lorong itu mengundang duga
agar segera mengkerut, seperti kerut-jeruk
yang telah lama terpetik

lalu dibiarkan utuh
di antara keberanian dan ketakutan
di antara bantu dan pinggul

dan antara resah yang bersijingkat.
"Benarlah, jika di sana daging, kuku, tulang,
kulit untuk nanti, dan di sini ketibaan untuk kini,"

Gresik, 2001

Sumber: Dari Amerika ke Catatan Langit (2005)

Analisis Puisi:

Puisi "Wanita yang Kencing di Semak" karya Mardi Luhung menghadirkan gambaran yang unik, simbolis, dan penuh tafsir. Melalui peristiwa yang tampak sederhana, yakni seorang wanita yang buang air kecil di semak-semak, penyair mengembangkan refleksi yang lebih dalam mengenai tubuh, rahasia kehidupan, ketakutan, keberanian, serta hubungan manusia dengan alam dan siklus eksistensi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah rahasia tubuh dan kehidupan manusia yang berada di antara rasa malu, keberanian, serta kodrat alamiah manusia. Selain itu, puisi juga menyentuh tema tentang kesementaraan hidup, kesuburan, dan siklus keberadaan yang terus berulang.

Puisi ini bercerita tentang seorang wanita yang sedang berada di semak-semak untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun, peristiwa tersebut tidak digambarkan secara harfiah semata. Penyair menjadikannya sebagai simbol situasi ketika manusia berada dalam posisi rentan, terbuka, dan berhadapan dengan dirinya sendiri.

Wanita itu dilukiskan berada di antara rasa takut dan canggung karena rahasianya terbuka kepada alam: rumput, batu, tanah, udara, dan lingkungan sekitarnya. Dari peristiwa tersebut, penyair kemudian mengembangkan renungan tentang tubuh, kehidupan, waktu, kelahiran, penuaan, dan kematian.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia, seberapa pun berusaha menyembunyikan dirinya, pada akhirnya tetap menjadi bagian dari alam dan hukum kehidupan.

Lorong yang berulang-ulang disebut dalam puisi dapat dimaknai sebagai simbol perjalanan hidup manusia, bahkan bisa ditafsirkan sebagai lambang kelahiran, tubuh perempuan, atau siklus kehidupan itu sendiri. Kehidupan bergerak dari lahir, tumbuh, menua, lalu kembali kepada asalnya.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa di balik rasa malu dan ketakutan manusia, terdapat proses-proses alamiah yang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan manusia sebagai makhluk hidup.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Manusia perlu menerima kodrat dan kenyataan hidup secara wajar.
  • Tubuh dan kehidupan memiliki proses alami yang tidak perlu selalu ditutupi dengan rasa malu berlebihan.
  • Kehidupan berjalan dalam siklus yang terus berulang, dari lahir hingga kembali kepada asalnya.
  • Alam menyimpan banyak pelajaran tentang kerendahan hati dan penerimaan terhadap diri sendiri.
  • Di balik peristiwa sehari-hari yang sederhana, terdapat makna filosofis yang mendalam jika direnungkan.
Puisi "Wanita yang Kencing di Semak" karya Mardi Luhung merupakan puisi simbolik yang memanfaatkan peristiwa sehari-hari untuk membahas persoalan yang jauh lebih dalam, yaitu tubuh, kehidupan, ketakutan, keberanian, dan siklus eksistensi manusia. Penyair mengajak pembaca merenungkan hubungan manusia dengan alam serta kenyataan bahwa setiap kehidupan bergerak dalam lingkaran yang terus berulang tanpa henti.

Mardi Luhung
Puisi: Wanita yang Kencing di Semak
Karya: Mardi Luhung

Biodata Mardi Luhung:
  • Mardi Luhung lahir pada tanggal pada 5 Maret 1965 di Gresik, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.