Puisi: Yaman Wulung (Karya Abdul Wachid B. S.)

Puisi "Yaman Wulung" menggambarkan makna spiritual dan keberkahan yang terkandung dalam sebuah batu akik, khususnya akik yamani.
Yaman Wulung

Al-jaza’ al-yamani
akik yamani hitam pekat
dan semoga hati kau aku akui
tidaklah terikat oleh syahwat

suatu hari kekasih para kekasih
keluar rumah dengan cincin
di tangan kanan yang
batunya berhiaskan jaza’ yamani

kekasih para kekasih
sembahyang berjamaah
usai memberikan cincin
bibir indahnya berbuah sabda

“pakailah ini di tangan kanan
sembahyanglah dengannya
maka akan sama tujuh puluh kali
sujudmu dicahayai

jaza’ yamani yang
tak henti bertasbih yang
tak henti beristighfar yang
segala pahala dia hadiahkan
kepada pemakainya”

batu-batu bersujud
ingat kau aku yang
akan merasakan waktu terhenti
di uratnadi

waktu-waktu bersujud
ingat kau aku yang
akan merasakan usia tidak terhenti
cuma di urat duniawi.

Yogyakarta, 9 April 2016

Sumber: Nun (Cinta Buku, 2018)

Analisis Puisi:

Puisi "Yaman Wulung" karya Abdul Wachid B. S. menggambarkan kedalaman makna dari sebuah batu akik yang berasal dari Yaman, khususnya jenis akik yamani.

Simbolisme Batu Akik Yamani: Puisi ini dibuka dengan menyebutkan "Al-jaza’ al-yamani," yang mengacu pada hadiah yang berasal dari Yaman, yaitu batu akik yamani. Batu akik ini kemudian dijadikan simbol dari kebesaran dan keagungan. Warna hitam pekat pada akik yamani diidentifikasi sebagai manifestasi kemurnian dan keagungan.

Kedalaman Hati yang Terikat pada Kebesaran Tuhan: Puisi menyiratkan pesan moral, bahwa hati yang diakui oleh batu akik yamani ini tidak terikat oleh syahwat atau hawa nafsu. Pemilihan kata yang kaya mendukung gagasan bahwa batu ini menghadirkan kesucian dan kontrol terhadap hawa nafsu.

Kisah Kekasih Para Kekasih: Puisi menghadirkan kekasih para kekasih yang keluar dengan cincin yang memiliki batu akik yamani. Kekasih ini melakukan sembahyang berjamaah dan memberikan cincin itu kepada orang lain. Hal ini menciptakan gambaran kebaikan, keagungan, dan keberkahan yang dapat diwariskan melalui hadiah.

Cincin Sebagai Simbol Spiritual: Cincin dengan batu akik yamani di tangan kanan diidentifikasi sebagai simbol spiritual dan nilai-nilai keagamaan. Penggunaan cincin ini tidak hanya sebagai perhiasan fisik, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada Tuhan melalui sembahyang.

Perintah dan Manfaat Spiritual: Kekasih para kekasih memberikan perintah untuk mengenakan cincin di tangan kanan dan menyatakan manfaat spiritual yang besar, seperti tujuh puluh kali sujud yang dicahayai dan pahala yang melimpah bagi pemakainya. Ini menciptakan aura keberkahan dan keagungan spiritual yang dapat diperoleh melalui pemahaman dan pengamalan ajaran agama.

Pemberian Batu Akik sebagai Hadiah Spiritual: Puisi menggambarkan batu akik yamani sebagai hadiah yang terus memberikan manfaat spiritual kepada pemakainya. Batu ini bukan hanya sekadar perhiasan, tetapi sarana untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan mencapai keberkahan dalam ibadah.

Puisi "Yaman Wulung" menggambarkan makna spiritual dan keberkahan yang terkandung dalam sebuah batu akik, khususnya akik yamani. Melalui simbolisme dan gambaran keagungan spiritual, puisi ini menyampaikan pesan tentang pentingnya menghubungkan diri dengan nilai-nilai agama dan mendekatkan diri pada Tuhan melalui amalan-amalan yang baik.

Abdul Wachid B. S.
Puisi: Yaman Wulung
Karya: Abdul Wachid B. S.
© Sepenuhnya. All rights reserved.