Puisi: Yang Kepayang Hyang (Karya Abdul Wachid B. S.)

Puisi "Yang Kepayang Hyang" karya Abdul Wachid B. S. memperlihatkan bahwa pengalaman spiritual tidak dapat diukur dengan logika duniawi, bahkan ...
Yang Kepayang Hyang

Yang kepayang Hyang
Yang berani sendiri berjaga di tengah malam
Yang berjalan tanpa kaki
Yang terbang tanpa sayap
Yang menggapai langit tanpa pesawat
Yang memeluk semesta cinta
Yang menyala oleh cinta

Yang kepayang Hyang
Yang mencinta tanpa alasan kecuali
Yang bersebab akibat karena cinta itu sendiri
Yang tak pernah sendiri sekalipun sepi
Yang meneteskan airmata bahagia
Yang saksikan orang datang orang pergi
Yang bercinta karenanya ataukah karenamu?
Hyang

Yang kepayang Hyang
Yang dalam pandang orang dia terluka dia gila dia
Yang miskin tidak merasa papa dia dekil dia menggigil dia
Yang di tiang malam mengibarkan benderang
Yang matahari dia pindah ke malam
Yang bulan dia pindah ke siang
Yang dia tidak pernah takut kepada siapapun dia
Yang dia bertekuk lutut ke haribaan
Hyang

Yang terang tatap matamu
Yang terangi tatap mataku
Yang kepayang
Hyang di atas Hyang.

Yogyakarta, 28 Desember 2011

Sumber: Kepayang (Cinta Buku, 2013)

Analisis Puisi:

Puisi "Yang Kepayang Hyang" karya Abdul Wachid B. S. merupakan puisi religius dan sufistik yang mengangkat tema hubungan manusia dengan Sang Hyang atau Tuhan. Melalui bahasa yang simbolis dan penuh pengulangan, penyair menggambarkan sosok yang tenggelam dalam cinta kepada Tuhan hingga melampaui batas-batas logika duniawi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta spiritual kepada Tuhan (Hyang) yang mengantarkan manusia pada penyatuan batin dengan Sang Pencipta. Tema-tema pendukung yang muncul dalam puisi ini antara lain:
  • Pencarian spiritual.
  • Ketulusan mencintai Tuhan.
  • Pengabdian dan kepasrahan.
  • Pengalaman mistik.
  • Kebebasan jiwa dari penilaian dunia.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang begitu tenggelam dalam cinta kepada Hyang sehingga seluruh hidupnya dipenuhi oleh pengalaman spiritual.

Penyair menggambarkan sosok tersebut sebagai pribadi yang memiliki kemampuan melampaui keterbatasan manusia biasa. Ia digambarkan:
  • berjalan tanpa kaki,
  • terbang tanpa sayap,
  • menggapai langit tanpa pesawat,
  • memeluk semesta dengan cinta.
Semua gambaran itu bukan dimaksudkan secara harfiah, melainkan sebagai simbol bahwa cinta kepada Tuhan membuat jiwa mampu melampaui batas fisik dan logika.

Pada bagian berikutnya, penyair menunjukkan bahwa orang yang mencintai Tuhan sering kali dianggap aneh, miskin, bahkan gila oleh pandangan masyarakat. Namun, ia tetap teguh karena hanya bersujud kepada Hyang.

Puisi ditutup dengan gambaran cahaya dari tatapan Hyang yang menerangi mata penyair, menandakan tercapainya pencerahan batin.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa cinta kepada Tuhan merupakan pengalaman batin yang melampaui nalar dan ukuran duniawi.

Ungkapan:

"Yang mencinta tanpa alasan"

menunjukkan bahwa cinta kepada Tuhan tidak membutuhkan syarat atau imbalan.

Sementara itu, larik:

"Yang matahari dia pindah ke malam / Yang bulan dia pindah ke siang"

menyiratkan perubahan cara pandang seseorang yang telah mencapai kedalaman spiritual. Bagi orang yang mencintai Tuhan, terang dan gelap tidak lagi dipahami secara lahiriah, melainkan sebagai pengalaman batin.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa orang yang sungguh-sungguh menempuh jalan spiritual sering kali disalahpahami oleh lingkungan sekitarnya.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Cinta kepada Tuhan hendaknya dilandasi ketulusan, bukan karena mengharapkan balasan.
  • Pengalaman spiritual sering kali tidak dapat diukur dengan logika manusia.
  • Jangan mudah menilai seseorang hanya dari penampilan atau kehidupan lahiriahnya.
  • Kedamaian sejati diperoleh melalui kedekatan dengan Tuhan.
  • Kepasrahan kepada Tuhan akan melahirkan keberanian, keteguhan, dan ketenangan batin.
Puisi "Yang Kepayang Hyang" karya Abdul Wachid B. S. merupakan puisi religius yang menggambarkan perjalanan jiwa menuju kedekatan dengan Tuhan melalui cinta yang tulus. Penyair memperlihatkan bahwa pengalaman spiritual tidak dapat diukur dengan logika duniawi, bahkan sering kali membuat seseorang tampak berbeda di mata masyarakat.

Puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa kedamaian dan cahaya sejati lahir dari hati yang sepenuhnya berserah kepada Hyang atau Tuhan.

Abdul Wachid B. S.
Puisi: Yang Kepayang Hyang
Karya: Abdul Wachid B. S.
© Sepenuhnya. All rights reserved.