Seorang Penyair Baca Sajak
di bawah lampu temaram
di batas ungu zaman
ia teriakkan tangis berbalut nyanyian
: cintaku padamu langit perak!
tapi sekitarku kabut berarak
di atas pentas yang miskin
di sela massa yang tuli
ia kuakkan luka berselimut mimpi
: betapa aib wajahmu wajahku saudara!
meradang di balik topeng kayu cendana
diseretnya peribahasa bunga
buat tawarkan kebusukan-kebusukan
dihelanya ungkapan duri
agar terkikis lumpur debu kehidupan
agar hujan membasuh bumi
di atas belahan kaca retak
penyair guratkan beribu sajak
tapi kau-aku tak juga bijak
1985
Sumber: Waswas Waswas Was! (Kopisisa, 1996)
Analisis Puisi:
Puisi "Seorang Penyair Baca Sajak" karya Soekoso DM merupakan puisi yang menggambarkan peran penyair sebagai suara nurani masyarakat. Melalui gambaran seorang penyair yang membacakan sajak di atas panggung, penyair menunjukkan bagaimana puisi tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, tetapi juga sebagai media kritik sosial dan refleksi kehidupan.
Puisi ini mengandung kegelisahan terhadap kondisi masyarakat yang masih dipenuhi kepura-puraan, ketidakadilan, dan kebijaksanaan yang belum terwujud meskipun berbagai nasihat dan karya sastra telah disampaikan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah peran penyair sebagai penyampai kritik sosial dan suara kebenaran. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema:
- Kesadaran sosial.
- Kritik terhadap kemunafikan.
- Fungsi sastra dalam kehidupan.
- Kegelisahan terhadap kondisi masyarakat.
- Harapan akan perubahan dan kebijaksanaan.
Puisi ini bercerita tentang seorang penyair yang membacakan sajaknya di hadapan banyak orang. Di bawah cahaya lampu yang temaram dan di tengah zaman yang penuh ketidakpastian, ia menyuarakan kegelisahan, tangisan, serta harapannya melalui puisi.
Penyair tersebut mengungkapkan cintanya kepada kehidupan dan cita-cita yang luhur, tetapi ia juga menyaksikan berbagai kenyataan pahit di sekelilingnya. Ia melihat kemunafikan, kebusukan moral, dan wajah masyarakat yang tersembunyi di balik topeng.
Melalui sajak-sajaknya, ia berusaha membuka luka sosial, mengungkap keburukan yang selama ini ditutupi, serta mengajak masyarakat membersihkan diri dari berbagai persoalan kehidupan. Namun pada akhirnya, ia menyadari bahwa meskipun ribuan sajak telah ditulis, manusia belum tentu menjadi lebih bijaksana.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa sastra memiliki kekuatan untuk menyadarkan manusia, tetapi perubahan tidak akan terjadi jika masyarakat tidak mau mendengarkan dan merenungkan pesan yang disampaikan.
Sosok penyair dalam puisi ini dapat dipandang sebagai simbol kaum intelektual, seniman, atau siapa pun yang berusaha menyuarakan kebenaran. Namun, suara tersebut sering kali berhadapan dengan masyarakat yang "tuli", yaitu tidak peduli terhadap kritik dan peringatan.
Puisi ini juga menyiratkan kekecewaan bahwa meskipun banyak karya sastra dan nasihat telah lahir, manusia masih sering mengulangi kesalahan yang sama.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Jadilah pribadi yang terbuka terhadap kritik dan nasihat.
- Sastra dan seni dapat menjadi sarana untuk menyampaikan kebenaran.
- Jangan menutupi keburukan dengan kepura-puraan atau kemunafikan.
- Kesadaran sosial perlu dibangun agar kehidupan menjadi lebih baik.
- Kebijaksanaan tidak cukup diperoleh dari mendengar atau membaca, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan.
Puisi ini mengajak pembaca untuk tidak hanya menikmati karya sastra sebagai hiburan, melainkan juga memahami pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Puisi "Seorang Penyair Baca Sajak" karya Soekoso DM merupakan puisi kritik sosial yang menyoroti peran penyair sebagai penyampai suara kebenaran dan nurani masyarakat. Melalui berbagai simbol seperti lampu temaram, topeng, bunga, duri, dan kaca retak, penyair menggambarkan kenyataan sosial yang penuh persoalan sekaligus harapan akan perubahan.
Puisi ini mengingatkan bahwa sastra memiliki kekuatan untuk menyadarkan manusia, tetapi kebijaksanaan hanya dapat terwujud apabila masyarakat bersedia mendengarkan, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai yang disampaikan.
Karya: Soekoso DM
Biodata Soekoso DM:
- Soekoso DM, lahir di Purworejo, 17 Juli 1949.
