Puisi: Panggil Aku Puisi (Karya Moh. Ghufron Cholid)

Puisi "Panggil Aku Puisi" karya Moh. Ghufron Cholid mengangkat tema tentang kebebasan berekspresi, ketulusan hati, perjuangan menegakkan nilai ...
Panggil Aku Puisi

Bila kau kehabisan cara
Menyuarakan segala

Panggil aku puisi
Aku yang akan menyuarakan
Sampai kebenaran
Benar-benar sampai dalam genggaman

Barangkali kau menganggap
Sebatas guyon pereda gugup

Percayalah, akulah suara kebenaran
Yang lahir dari kedalaman hatimu yang murni

Panggil aku puisi
Aku bisa menembus segenap hati
Bisa mengobati segenap nyeri

Tak ada yang mustahil bagiku
Selama Ilahi berkenan
Menjadikanku wasilah

Aku nama lain dari keberanian
Nama lain dari kebenaran
Yang kau idam-idamkan

Paopale Daya, 5 Juli 2022

Analisis Puisi:

Puisi "Panggil Aku Puisi" karya Moh. Ghufron Cholid merupakan puisi reflektif yang mengangkat kekuatan puisi sebagai media untuk menyuarakan kebenaran. Dalam karya ini, puisi dipersonifikasikan sebagai sosok yang hidup, mampu berbicara, mengobati luka, serta menjadi perantara (wasilah) bagi nilai-nilai kebaikan.

Melalui bahasa yang lugas namun puitis, penyair menegaskan bahwa puisi bukan sekadar rangkaian kata indah. Lebih dari itu, puisi memiliki peran sebagai suara hati, keberanian moral, dan sarana menyampaikan kebenaran yang lahir dari ketulusan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kekuatan puisi sebagai media untuk menyuarakan kebenaran dan keberanian. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kebebasan berekspresi, ketulusan hati, perjuangan menegakkan nilai-nilai kebaikan, serta keyakinan bahwa karya sastra dapat membawa perubahan.

Puisi ini bercerita tentang puisi yang berbicara seolah-olah memiliki kehidupan sendiri. Ia menawarkan diri sebagai penyambung suara bagi siapa saja yang tidak mampu mengungkapkan isi hati dan memperjuangkan kebenaran.

Puisi dibuka dengan situasi ketika seseorang kehilangan cara untuk menyampaikan pikirannya.

"Bila kau kehabisan cara
Menyuarakan segala."

Sebagai solusi, puisi berkata:

"Panggil aku puisi
Aku yang akan menyuarakan."

Puisi digambarkan sebagai media yang mampu menyampaikan kebenaran hingga benar-benar dipahami.

Selanjutnya, penyair mengingatkan bahwa banyak orang mungkin menganggap puisi hanya hiburan atau permainan kata.

"Barangkali kau menganggap
Sebatas guyon pereda gugup."

Namun, anggapan tersebut dibantah dengan penegasan bahwa puisi lahir dari hati yang murni dan membawa suara kebenaran.

Pada bagian akhir, puisi semakin menegaskan perannya.

"Aku bisa menembus segenap hati
Bisa mengobati segenap nyeri."

Kemampuan tersebut tidak berasal dari dirinya sendiri, melainkan karena kehendak Tuhan.

"Selama Ilahi berkenan
Menjadikanku wasilah."

Puisi kemudian menutup dengan identitasnya sebagai simbol keberanian dan kebenaran.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa karya sastra, khususnya puisi, memiliki kekuatan moral yang dapat menjadi media untuk menyampaikan kebenaran, membangkitkan kesadaran, dan menyentuh hati manusia.

Puisi juga menyiratkan bahwa keberanian tidak selalu diwujudkan melalui tindakan yang keras. Kata-kata yang lahir dari hati yang tulus dapat menjadi sarana perjuangan yang kuat dan bermakna.

Selain itu, penyair menekankan bahwa segala kemampuan manusia pada akhirnya berasal dari izin Tuhan. Karena itu, karya sastra hendaknya menjadi jalan untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan, bukan sekadar hiburan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Jadikan puisi dan karya sastra sebagai media untuk menyuarakan kebenaran.
  • Jangan meremehkan kekuatan kata-kata yang lahir dari hati yang tulus.
  • Beranilah menyampaikan nilai-nilai kebaikan dengan cara yang bijaksana.
  • Ingatlah bahwa setiap kemampuan merupakan anugerah dari Tuhan dan hendaknya digunakan untuk tujuan yang baik.
  • Percayalah bahwa kata-kata yang jujur dapat menyentuh hati dan memberi harapan kepada orang lain.
Puisi "Panggil Aku Puisi" karya Moh. Ghufron Cholid menegaskan bahwa puisi bukan sekadar karya sastra yang indah, melainkan sarana untuk menyuarakan keberanian, kebenaran, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan mempersonifikasikan puisi sebagai sosok yang hidup, penyair menunjukkan bahwa kata-kata yang lahir dari hati yang tulus mampu menyentuh nurani, mengobati luka batin, dan menginspirasi perubahan.

Moh. Ghufron Cholid
Puisi: Panggil Aku Puisi
Karya: Moh. Ghufron Cholid

Biodata Moh. Ghufron Cholid:
  • Moh. Ghufron Cholid lahir pada tanggal 7 Januari 1986 di Bangkalan. Karya-karyanya tersiar di Mingguan Malaysia, Mingguan Wanita Malaysia, Utusan Malaysia, Utusan Borneo, dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.