Ada yang Mengusik
Ketika di Trotoar Kota
Membaca Koran
Belati yang kuasah semenjak kanak-kanak
kutikamkan ke tengah-tengah ulu hatiku
pedihnya tidak juga lebih kuat
daripada lapar yang dirasakan sahabatku
hampir di seperempat dunia.
Sumber: Horison (Februari, 1976)
Analisis Puisi:
Puisi "Ada yang Mengusik Ketika di Trotoar Kota Membaca Koran" karya Handrawan Nadesul merupakan puisi pendek yang mengandung kritik sosial yang sangat kuat. Meski hanya terdiri atas lima larik, puisi ini mampu menggugah kesadaran pembaca tentang penderitaan manusia, khususnya persoalan kelaparan yang masih dialami jutaan orang di berbagai belahan dunia.
Penyair menggunakan pengalaman batinnya sebagai pintu masuk untuk menunjukkan bahwa rasa sakit pribadi tidak sebanding dengan penderitaan orang lain yang hidup dalam kekurangan. Judul puisi yang menyebut aktivitas membaca koran di trotoar kota juga memperlihatkan bagaimana berita tentang tragedi kemanusiaan dapat mengguncang hati seseorang yang masih memiliki empati.
Puisi ini tidak hanya berbicara tentang lapar secara fisik, tetapi juga mengajak pembaca mempertanyakan kepedulian sosial di tengah kehidupan modern yang sering kali membuat manusia sibuk dengan dirinya sendiri.
Tema
Tema utama puisi ini adalah empati terhadap penderitaan sesama manusia dan kritik terhadap ketimpangan sosial. Tema-tema pendukung dalam puisi ini meliputi:
- Kemanusiaan.
- Kelaparan.
- Penderitaan global.
- Kepekaan sosial.
- Refleksi batin.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang merenung setelah membaca berita di koran. Berita tersebut tampaknya mengungkap penderitaan akibat kelaparan yang dialami banyak orang di berbagai belahan dunia.
Penyair kemudian membandingkan penderitaan batinnya sendiri dengan penderitaan sahabat-sahabatnya yang hidup dalam kelaparan. Ia menggunakan gambaran ekstrem, yaitu menikam ulu hatinya dengan belati yang telah diasah sejak kecil. Namun, rasa sakit akibat tikaman itu tetap tidak lebih besar daripada rasa lapar yang dialami orang lain.
Melalui perbandingan tersebut, penyair menunjukkan bahwa penderitaan pribadi sering kali terasa kecil ketika dibandingkan dengan tragedi kemanusiaan yang lebih luas.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia seharusnya memiliki empati yang lebih besar terhadap penderitaan orang lain daripada hanya terfokus pada kesulitan dirinya sendiri.
Belati yang diasah sejak masa kanak-kanak melambangkan luka batin, pengalaman hidup, atau beban yang telah lama dipendam. Namun, penyair menyatakan bahwa semua luka itu tidak sebanding dengan penderitaan orang-orang yang bahkan kesulitan memperoleh makanan.
Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap dunia yang masih dipenuhi kemiskinan dan ketidakadilan, meskipun peradaban telah berkembang pesat.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Tumbuhkan empati terhadap penderitaan sesama manusia.
- Jangan hanya memikirkan kesulitan diri sendiri, tetapi pedulilah terhadap orang lain yang hidup dalam kondisi lebih berat.
- Kelaparan dan kemiskinan merupakan persoalan kemanusiaan yang harus menjadi perhatian bersama.
- Gunakan informasi yang diperoleh dari media untuk meningkatkan kepedulian sosial, bukan sekadar sebagai bahan bacaan.
- Bersyukurlah atas kehidupan yang dimiliki sekaligus berupaya membantu mereka yang membutuhkan.
Puisi "Ada yang Mengusik Ketika di Trotoar Kota Membaca Koran" karya Handrawan Nadesul merupakan puisi reflektif yang mengangkat isu kemanusiaan melalui sudut pandang yang sederhana tetapi menggugah. Dengan membandingkan luka pribadi dan penderitaan akibat kelaparan, penyair mengajak pembaca memperluas empati terhadap sesama.
Puisi ini mengingatkan bahwa kepekaan sosial merupakan salah satu bentuk kemanusiaan yang harus terus dipelihara agar penderitaan orang lain tidak sekadar menjadi berita yang berlalu begitu saja.
Karya: Handrawan Nadesul
Biodata Handrawan Nadesul:
- Dr. Handrawan Nadesul (Gouw Han Goan) lahir pada tanggal 31 Desember 1948 di Karawang, Jawa Barat.
