Puisi: Alun (Karya Sugiarta Sriwibawa)

Puisi "Alun" karya Sugiarta Sriwibawa menggambarkan pergulatan batin seseorang yang berusaha berdamai dengan masa lalu sekaligus menerima perubahan ..
Alun

Aku jumpa wajahmu tidur di pagi cerah
Aku gugah dengan takzim orang yang salah
Kuyup resah suara yang mengetuk lirih
Semalam kini gemetar luluh tersisih

Aku tunggu cahayamu dalam mangu mayung
Mengarah bias pagi rinduku malam hari
Sibakkan dosa, pecah-pecah di pipi cekung
Menyuruk semangat dalam letih jari

Aku kira kau telah terdampar di tanah, tanah air baru
O jiwa, jiwa yang kuseru dalam pupus rasa
Tinggal terlepas dari pagimu yang mengepakkan deru
Aku pun mengerti kecewa, di jenjang hari berangkat tua.

Hamburg, 1961

Sumber: Garis Putih (1983)

Analisis Puisi:

Puisi "Alun" karya Sugiarta Sriwibawa merupakan puisi liris yang sarat dengan nuansa reflektif dan emosional. Melalui ungkapan-ungkapan simbolik, penyair menggambarkan perjumpaan dengan seseorang atau sesuatu yang telah berubah, disertai rasa penyesalan, kerinduan, dan kesadaran akan perjalanan waktu.

Judul "Alun" dapat dimaknai sebagai gelombang, irama, atau gerak yang berulang. Makna tersebut sejalan dengan isi puisi yang memperlihatkan gelombang perasaan penyair, mulai dari harapan, kegelisahan, penyesalan, hingga penerimaan terhadap kenyataan hidup. Bahasa yang padat metafora menjadikan puisi ini terbuka terhadap berbagai penafsiran, baik sebagai kisah tentang cinta, kehilangan, maupun perjalanan spiritual seseorang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan, penyesalan, dan penerimaan terhadap perjalanan hidup. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang perubahan, pencarian makna, pertambahan usia, dan pergulatan batin manusia.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang seolah bertemu kembali dengan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Sosok tersebut digambarkan sedang "tidur di pagi cerah", lalu dibangunkan dengan penuh hormat sekaligus rasa bersalah.

Sepanjang puisi, penyair menanti cahaya dan harapan yang pernah dimiliki. Ia juga berusaha melepaskan diri dari dosa dan penyesalan yang membebani kehidupannya. Namun, penantian itu diiringi kesadaran bahwa banyak hal telah berubah.

Pada bagian akhir, penyair menduga bahwa sosok yang dipanggilnya telah menemukan "tanah air baru", sebuah simbol perubahan atau kepergian yang tidak dapat dihindari. Akhirnya, ia menerima kenyataan bahwa kehidupan terus berjalan dan usia terus bertambah, meskipun rasa kecewa masih tersisa.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa setiap manusia akan menghadapi kehilangan, penyesalan, dan perubahan, tetapi pada akhirnya harus belajar menerima perjalanan hidup dengan lapang hati.

Sosok yang dipanggil dalam puisi dapat dimaknai sebagai orang tercinta, masa lalu, harapan, atau bahkan bagian dari diri sendiri yang telah berubah. Penyair menunjukkan bahwa manusia sering kali baru menyadari nilai sesuatu setelah kehilangannya.

Larik penutup yang menyebut "berangkat tua" menyiratkan bahwa bertambahnya usia membawa kebijaksanaan, sekaligus mengajarkan manusia untuk menerima kenyataan yang tidak dapat diubah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Jangan menunda untuk menghargai orang atau hal yang berharga dalam hidup.
  • Penyesalan hendaknya menjadi pelajaran untuk memperbaiki diri.
  • Kehidupan akan terus berubah dan manusia perlu belajar menerimanya.
  • Bertambahnya usia seharusnya membawa kedewasaan dan kebijaksanaan.
  • Harapan tetap perlu dipelihara meskipun kenyataan tidak selalu sesuai dengan keinginan.
Puisi "Alun" karya Sugiarta Sriwibawa merupakan refleksi mendalam mengenai kerinduan, penyesalan, dan perjalanan hidup manusia. Dengan memanfaatkan simbol-simbol seperti pagi, cahaya, dosa, serta tanah air baru, penyair menggambarkan pergulatan batin seseorang yang berusaha berdamai dengan masa lalu sekaligus menerima perubahan yang tidak dapat dihindari. Puisi ini mengingatkan bahwa kehidupan terus bergerak layaknya alunan gelombang. Setiap kehilangan, kekecewaan, dan pertambahan usia merupakan bagian dari proses menuju kedewasaan dan kebijaksanaan hidup.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Alun
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Biodata Sugiarta Sriwibawa:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
© Sepenuhnya. All rights reserved.