Apa Kau Masih Biru di Lautku
: seseorang di media sosial
Apakah kau masih biru
pada laut cermin mataku?
Kadang kau gemuruh
memecah keanggunan putih tubuh mega
menjadi lukisan abstrak
koyak-moyak cakrawala tabah
Kadang kala kau tenang sesaat
sekadar memberi ruang senja
sebelum remang menguasai jagat
Jika kau tanya keberadaanku
aku sebutir pasir
timbul tenggelam
dihantam amukmu tak mengenal diam
Saksikan remah silika itu, pasrah diseret ke palung kelam tanpa ampun. Di sana, tertangkap detak jantungmu berdentum serupa godam air, merontokkan butir tubuh letih dikunyah garam. Aroma lumut dan amis pasang merayap masuk pori-pori, sementara kebungkaman dihantam dongeng ketenanganmu yang palsu.
Tiap kali kau pasang, pembaca melihatnya ditelan sisa buih badai muntahan ke pesisir. Telinga perih, tergerus kerikil dan garam di atas luka lama yang belum sempat membatu. Mata kabur menatap mega yang kau cabik, rantas di langit pandang. Birumu tak lagi dikenal; kini hanya sisa bau busuk sebelum gulita menelan seluruh sisa dirimu yang kian asing.
Gresik, 29 Mei 2026
Analisis Puisi:
Puisi "Apa Kau Masih Biru di Lautku" karya Sholihul Mubarok memanfaatkan laut sebagai pusat pencitraan untuk menggambarkan hubungan emosional yang mengalami perubahan. Laut yang semula identik dengan warna biru, ketenangan, dan keindahan perlahan berubah menjadi ruang yang penuh amuk, luka, dan keterasingan.
Puisi ini mengajak pembaca menyelami dinamika batin seseorang yang berhadapan dengan perubahan sikap, hilangnya kepercayaan, dan rasa kehilangan terhadap sosok yang pernah begitu dekat.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perubahan dalam hubungan, luka batin, dan pencarian makna di tengah kekecewaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang rapuhnya harapan, pergulatan emosi, identitas, dan perubahan karakter seseorang yang tidak lagi dikenali.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa hubungan antarmanusia dapat berubah secara perlahan hingga seseorang yang dahulu memberi ketenangan justru menjadi sumber luka.
Warna biru pada laut melambangkan kedamaian, kepercayaan, dan keindahan hubungan. Ketika penyair mempertanyakan apakah laut masih "biru", sesungguhnya ia sedang mempertanyakan apakah sifat, kasih, atau ketulusan orang yang dicintainya masih tetap sama.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Puisi ini mengandung beberapa pesan penting, yaitu:
- Jagalah kepercayaan dalam sebuah hubungan karena kehilangannya dapat meninggalkan luka yang mendalam.
- Jangan mudah tertipu oleh ketenangan yang hanya tampak di permukaan.
- Terimalah bahwa perubahan merupakan bagian dari kehidupan, meskipun sering kali menyakitkan.
- Belajarlah memahami gejolak batin, baik dalam diri sendiri maupun dalam diri orang lain.
- Setiap luka dapat menjadi ruang untuk mengenali kembali siapa diri kita dan bagaimana kita memandang orang lain.
Puisi "Apa Kau Masih Biru di Lautku" karya Sholihul Mubarok merupakan puisi reflektif yang menggunakan laut sebagai metafora utama untuk menggambarkan perubahan hubungan dan luka batin manusia. Dari pertanyaan sederhana tentang "biru" laut, penyair membawa pembaca menyelami pergulatan emosi yang semakin dalam hingga berakhir pada keterasingan dan hilangnya kepercayaan.
Puisi ini mengingatkan bahwa perubahan dalam diri seseorang atau dalam sebuah hubungan dapat mengubah seluruh cara kita memandang dunia, tetapi dari luka itulah lahir kesempatan untuk memahami diri dan makna kehidupan dengan lebih mendalam.
Karya: Sholihul Mubarok
Biodata Sholihul Mubarok:
Sholihul Mubarok lahir pada tanggal 24 Februari 1985 di Gresik, Jawa Timur. Ia merupakan penyair yang aktif berkarya di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, antara lain Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, serta antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025).
Selain menulis buku puisi, ia juga aktif mengikuti kegiatan sastra daring dan menghadirkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube @SholihulMubarokOfficial. Saat ini, ia tengah mempersiapkan buku puisi terbarunya berjudul Dalam Semesta Matamu (2026).