Puisi: Bau Kemboja Tercium di Lembar-Lembar Usia (Karya Tjahjono Widarmanto)

Puisi ini mengingatkan bahwa usia terus berjalan menuju titik akhirnya. Cobaan hidup bukan sekadar penderitaan, tetapi bagian dari perjalanan ...
Bau Kemboja Tercium
Di Lembar-Lembar Usia

butir-butir rindu tercecer di rinai gerimis
Engkau yang pancangkan kangen itu
seperti memahatkan sisik-sisik pada tubuh ikan-ikan
Engkau melambai lewat angin meniup-niup deru
mengirim waktu menjadi sampan yang segera bersauh
memburu jejak-jejak rindu yang masih membayang di gerimis hujan

Engkau telah mengirimkan riak-riak itu
menjadikanku ikan dengan kangen di segenap sisiknya
memaksaku menyelami gelombang, memburu bintang
pelayaran yang menggoncang jiwa, serupa dada dicabik topan

aduhai, kangen ini perih di lambung
layarku tak bisa sibakkan hujan
namun Engkau terus melambai
layarku tercabik dalam pusaran waktu
bilangan matematika yang terus berdetak
sampai kelak berakhir di titiknya.

Engkau terus melambai. terus melambai
aku menangis tersedu tak bisa hentikan sampan
meluncur bersama layar yang telah compang-camping
dengan dada perih dicabik-cabik topan disiram garam
hujan-Mu menjadi gelombang bersama air mataku yang sia-sia
memburu jejak rindu membuatku terbanting-banting di gigir batu

layarku tinggal sobekan kafan. bilangan matematika makin meluncur jauh
dan tercium bau kamboja di lembar-lembar usia dan sisa-sisa doa
dan Engkau terus melambai juga memaksaku menggelepar sendiri.

Ngawi, 2011

Sumber: Yuk, Nulis Puisi (2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Bau Kemboja Tercium di Lembar-Lembar Usia” karya Tjahjono Widarmanto merupakan puisi reflektif yang memadukan pengalaman spiritual, kerinduan, dan kesadaran akan kefanaan hidup. Melalui rangkaian metafora tentang laut, sampan, hujan, topan, hingga bau bunga kamboja, penyair mengajak pembaca merenungkan perjalanan manusia menuju akhir kehidupan.

Kata "Engkau" yang ditulis dengan huruf kapital mengisyaratkan sosok Tuhan. Dengan demikian, puisi ini tidak sekadar berbicara tentang rindu antarmanusia, melainkan juga kerinduan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Di sisi lain, hadirnya simbol kamboja, kafan, dan lembar-lembar usia memperkuat renungan tentang kematian sebagai tujuan akhir perjalanan hidup.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan spiritual manusia kepada Tuhan di tengah perjalanan hidup yang penuh ujian dan kesadaran akan datangnya kematian. Tema-tema pendukung yang turut muncul meliputi:
  • perjalanan hidup manusia;
  • pencarian makna kehidupan;
  • ketabahan menghadapi cobaan;
  • kefanaan dunia;
  • kepasrahan kepada Tuhan.
Puisi ini memperlihatkan bahwa hidup merupakan pelayaran panjang yang akhirnya bermuara pada perjumpaan dengan Sang Pencipta.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang terus digerakkan oleh kerinduan kepada Tuhan. Kerinduan itu digambarkan sebagai sesuatu yang ditanamkan oleh Tuhan sendiri.

Hal tersebut tampak pada bait awal:

"Engkau yang pancangkan kangen itu"

Kerinduan bukan muncul karena kehendak manusia semata, melainkan merupakan panggilan Ilahi yang mengarahkan manusia untuk selalu mencari-Nya.

Selanjutnya, penyair menggambarkan kehidupan sebagai pelayaran yang penuh tantangan.

"mengirim waktu menjadi sampan yang segera bersauh"

Waktu diibaratkan sebagai sampan yang membawa manusia mengarungi kehidupan.

Dalam perjalanan itu, penyair harus menghadapi berbagai ujian.

"pelayaran yang menggoncang jiwa, serupa dada dicabik topan"

Cobaan hidup digambarkan sangat menyakitkan, tetapi perjalanan tetap harus dilanjutkan.

Pada bagian akhir, muncul simbol-simbol kematian yang sangat kuat.

"layarku tinggal sobekan kafan"

dan

"tercium bau kamboja di lembar-lembar usia"

Kedua ungkapan tersebut menandakan bahwa usia semakin mendekati akhir, sementara Tuhan tetap memanggil manusia untuk kembali kepada-Nya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan merupakan perjalanan menuju Tuhan yang dipenuhi ujian, kerinduan, dan kesadaran akan keterbatasan manusia. Beberapa makna yang dapat dipahami antara lain:
  • Kerinduan kepada Tuhan adalah fitrah setiap manusia.
  • Waktu terus berjalan tanpa dapat dihentikan.
  • Cobaan hidup merupakan bagian dari proses pendewasaan spiritual.
  • Kematian bukan akhir, melainkan tujuan dari perjalanan kehidupan.
  • Manusia tidak dapat menghindari takdir, tetapi dapat memilih untuk menjalaninya dengan keimanan.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa penderitaan bukanlah hukuman semata, melainkan jalan untuk semakin mendekat kepada Tuhan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, yaitu:
  • Kehidupan adalah perjalanan yang tidak dapat dipisahkan dari ujian.
  • Jangan menjauh dari Tuhan ketika menghadapi penderitaan.
  • Waktu akan terus berjalan menuju akhir kehidupan.
  • Kesadaran akan kematian seharusnya membuat manusia memperbaiki diri.
  • Kerinduan kepada Tuhan merupakan bekal penting dalam menjalani kehidupan.
Pesan utamanya adalah bahwa manusia hendaknya menjalani hidup dengan kesabaran, keikhlasan, dan kesiapan untuk kembali kepada Sang Pencipta.

Puisi “Bau Kemboja Tercium di Lembar-Lembar Usia” karya Tjahjono Widarmanto merupakan puisi religius yang memadukan simbol-simbol alam, perjalanan, dan kematian untuk menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Kerinduan kepada Sang Pencipta menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh bait.

Penyair mengingatkan bahwa usia terus berjalan menuju titik akhirnya. Cobaan hidup bukan sekadar penderitaan, tetapi bagian dari perjalanan spiritual agar manusia semakin mengenal dirinya, semakin dekat kepada Tuhan, dan semakin siap menghadapi kepulangan yang tak dapat dihindari.

Tjahjono Widarmanto
Puisi: Bau Kemboja Tercium di Lembar-Lembar Usia
Karya: Tjahjono Widarmanto

Biodata Tjahjono Widarmanto:
  • Tjahjono Widarmanto lahir pada tanggal 18 April 1969 di Ngawi, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.