Puisi: Beginilah Hendaknya (Karya Handrawan Nadesul)

Puisi ini mengajarkan bahwa kedewasaan tidak hanya lahir dari bertambahnya usia, tetapi juga dari kemampuan menerima kasih, mendengarkan dengan ...

Beginilah Hendaknya

Sekiranya Juga Ini Boleh Terjadi


Kecambah yang dahulu luruh dari rahim ibuku
telah tumbuh di sela-sela jemari kekasihku
yang dengan lembut membalut mataku
agar aku lebih pandai mendengar tutur katanya
selaput biru di hatinya adalah hartanya
aku mengangguk sebelum tahu siapa namanya.

Sumber: Horison (Februari, 1976)

Analisis Puisi:

Puisi "Beginilah Hendaknya Sekiranya Juga Ini Boleh Terjadi" karya Handrawan Nadesul merupakan puisi lirik yang sarat dengan simbol kehidupan, cinta, dan pertumbuhan manusia. Meskipun hanya terdiri atas beberapa larik, puisi ini menyimpan makna yang mendalam mengenai perjalanan hidup seseorang dari kelahiran hingga menemukan sosok yang dicintai.

Melalui metafora seperti kecambah, rahim ibu, jemari kekasih, dan selaput biru di hati, penyair menggambarkan bahwa kehidupan manusia terus berkembang melalui kasih sayang, baik dari seorang ibu maupun pasangan hidup. Puisi ini juga mengajak pembaca memahami bahwa cinta bukan sekadar hubungan emosional, tetapi juga proses belajar untuk mengenal, mendengar, dan memahami orang lain.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan kehidupan, cinta, pertumbuhan diri, dan penerimaan terhadap kasih sayang. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kedewasaan, hubungan antarmanusia, serta proses menemukan makna hidup melalui cinta.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang asal-usul kehidupannya sebagai "kecambah" yang lahir dari rahim ibunya. Kecambah tersebut kemudian digambarkan tumbuh kembali di sela-sela jemari sang kekasih.

Kekasih dalam puisi ini bukan hanya hadir sebagai pasangan, tetapi juga sebagai sosok yang membimbing. Ia membalut mata penyair agar mampu "lebih pandai mendengar", sebuah simbol bahwa memahami kehidupan tidak selalu bergantung pada penglihatan, melainkan juga pada kepekaan hati.

Pada bagian akhir, penyair mengakui bahwa ia telah menerima sosok tersebut bahkan sebelum benar-benar mengenalnya. Hal itu menunjukkan bahwa cinta sering kali lahir dari kepercayaan, ketulusan, dan keyakinan yang melampaui logika.

Makna Tersirat

Puisi ini mengandung berbagai makna tersirat.
  • Pertama, kecambah melambangkan awal kehidupan, harapan, dan potensi yang terus bertumbuh sepanjang perjalanan manusia.
  • Kedua, rahim ibu menjadi simbol asal kehidupan, kasih sayang pertama, serta fondasi yang membentuk karakter seseorang.
  • Ketiga, jemari kekasih menyiratkan bahwa setelah bertumbuh dalam keluarga, manusia menemukan ruang baru untuk berkembang melalui cinta dan hubungan dengan orang lain.
  • Keempat, tindakan membalut mata bukan berarti menghilangkan kemampuan melihat, melainkan mengajarkan bahwa kebijaksanaan lahir ketika seseorang lebih banyak mendengar daripada sekadar memandang.
  • Kelima, selaput biru di hati melambangkan ketulusan, kedamaian, dan kemurnian batin yang menjadi kekayaan sejati seseorang.
  • Terakhir, larik "aku mengangguk sebelum tahu siapa namanya" menunjukkan bahwa kepercayaan dan penerimaan terkadang hadir lebih dahulu daripada pengetahuan yang lengkap. Cinta tidak selalu dimulai dari kepastian, tetapi sering berawal dari keyakinan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, yaitu:
  • Kehidupan adalah proses bertumbuh yang dimulai dari keluarga dan berlanjut melalui hubungan dengan sesama.
  • Cinta yang sejati mengajarkan manusia untuk lebih banyak mendengar, memahami, dan menghargai orang lain.
  • Ketulusan merupakan kekayaan yang jauh lebih berharga daripada harta benda.
  • Kepercayaan menjadi dasar penting dalam membangun hubungan yang sehat.
  • Kedewasaan lahir ketika manusia mampu menerima kasih sayang dan belajar dari pengalaman hidup.
Puisi "Beginilah Hendaknya Sekiranya Juga Ini Boleh Terjadi" karya Handrawan Nadesul merupakan puisi reflektif yang mengangkat makna pertumbuhan manusia melalui kasih sayang ibu dan cinta seorang kekasih. Penyair menunjukkan bahwa kehidupan adalah proses panjang yang terus berkembang melalui hubungan dengan orang-orang yang mengasihi kita.

Puisi ini mengajarkan bahwa kedewasaan tidak hanya lahir dari bertambahnya usia, tetapi juga dari kemampuan menerima kasih, mendengarkan dengan hati, dan mempercayai orang lain dengan tulus.

Handrawan Nadesul
Puisi: Beginilah Hendaknya
Karya: Handrawan Nadesul

Biodata Handrawan Nadesul:
  • Dr. Handrawan Nadesul (Gouw Han Goan) lahir pada tanggal 31 Desember 1948 di Karawang, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.