Puisi: Cangkullah, Cangkullah (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Cangkullah, Cangkullah" karya Gunoto Saparie merupakan penghormatan kepada para petani yang mengabdikan hidupnya untuk mengolah tanah dan ...
Cangkullah, Cangkullah

cangkullah, cangkullah
tanah merah tumpah darah
ayunkanlah, ayunkanlah
tanganmu, kekasihku, tak kenal lelah

tanamlah, tanamlah
bibit padi benih penuh berkah
siramilah, siramilah
air kasih rahmah membasah

cintaku, wahai petaniku
hitunglah detik dan hari-hari
dengan cinta dan kesetiaanmu
bagi surga kita, negeri ini

2022

Analisis Puisi:

Puisi "Cangkullah, Cangkullah" karya Gunoto Saparie merupakan puisi yang mengangkat kemuliaan profesi petani sebagai penyangga kehidupan bangsa. Dengan bahasa yang sederhana, ritmis, dan penuh nuansa liris, penyair menggambarkan aktivitas bertani bukan sekadar pekerjaan, melainkan wujud cinta kepada tanah air, keluarga, dan kehidupan. Pengulangan kata-kata imperatif seperti cangkullah, ayunkanlah, tanamlah, dan siramilah memberikan semangat sekaligus penghormatan kepada para petani.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pengabdian petani, cinta kepada tanah air, kerja keras, dan harapan akan kesejahteraan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kesetiaan dalam mengolah tanah sebagai bentuk pengabdian bagi kehidupan bersama.

Puisi ini bercerita tentang ajakan kepada seorang petani untuk terus mengolah tanah dengan penuh semangat. Penyair menggambarkan tanah sebagai tempat lahir dan berpijak, sehingga setiap ayunan cangkul memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar bercocok tanam.

Penyair mengajak sang petani menanam benih padi, menyiraminya dengan kasih sayang, dan menjalani pekerjaannya dengan kesetiaan. Seluruh usaha tersebut dipandang sebagai jalan untuk menghadirkan kemakmuran, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi negeri.

Pada bagian akhir, penyair menyebut petani sebagai sosok yang membangun "surga kita, negeri ini". Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa hasil kerja petani menjadi fondasi bagi kehidupan masyarakat dan keberlangsungan bangsa.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa pekerjaan petani merupakan profesi yang mulia dan layak dihargai. Mengolah tanah bukan sekadar menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjaga kehidupan dan masa depan bangsa.

Puisi ini juga menegaskan bahwa keberhasilan tidak hanya lahir dari kerja keras, tetapi juga dari cinta, kesabaran, dan ketulusan. Air yang digunakan untuk menyiram benih dipadankan dengan "air kasih rahmah", sehingga proses bertani dimaknai sebagai aktivitas yang sarat nilai kemanusiaan dan spiritual.

Selain itu, tanah merah sebagai "tumpah darah" melambangkan hubungan emosional antara manusia dengan tanah air yang harus dijaga dan dirawat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Hargailah profesi petani karena mereka berperan penting dalam kehidupan masyarakat.
  • Kerja keras yang dilakukan dengan cinta dan ketulusan akan menghasilkan kebaikan.
  • Jagalah tanah sebagai sumber kehidupan dan warisan bagi generasi mendatang.
  • Kesetiaan dalam bekerja merupakan kunci untuk mencapai kesejahteraan.
  • Bangunlah negeri melalui usaha yang jujur, tekun, dan penuh tanggung jawab.

Imaji

Puisi ini menggunakan beberapa jenis imaji yang memperkuat suasana, yaitu:
  • Imaji visual, tampak pada gambaran tanah merah, cangkul, bibit padi, dan proses bercocok tanam yang mudah dibayangkan oleh pembaca.
  • Imaji gerak, terlihat melalui kata-kata cangkullah, ayunkanlah, tanamlah, dan siramilah yang menghadirkan aktivitas bertani secara dinamis.
  • Imaji perabaan, muncul pada kesan tanah yang dicangkul dan air yang membasahi tanaman.
  • Imaji perasaan, tampak melalui ungkapan cintaku, kekasihku, kasih rahmah, dan kesetiaanmu yang membangkitkan rasa cinta, penghormatan, dan kepedulian.

Majas

Puisi ini memanfaatkan berbagai majas untuk memperkuat makna, antara lain:
  • Repetisi, menjadi majas yang paling dominan melalui pengulangan kata cangkullah, ayunkanlah, tanamlah, dan siramilah. Pengulangan ini menegaskan semangat bekerja sekaligus membangun irama yang puitis.
  • Metafora, terlihat pada frasa "tanah merah tumpah darah" yang melambangkan tanah air sebagai tempat kehidupan dan pengabdian.
  • Simbolisme, penggunaan cangkul, tanah, bibit padi, dan air menjadi simbol kerja keras, harapan, kehidupan, serta kesejahteraan.
  • Apostrof, tampak pada sapaan langsung kepada "kekasihku" dan "wahai petaniku" yang membuat puisi terasa lebih akrab dan emosional.
  • Personifikasi, terlihat pada ungkapan "air kasih rahmah membasah" yang memberikan makna bahwa kasih sayang menjadi kekuatan yang menumbuhkan kehidupan.
  • Hiperbola, tampak pada ungkapan "bagi surga kita, negeri ini" yang menegaskan pentingnya peran petani dalam membangun kemakmuran bangsa.
Puisi "Cangkullah, Cangkullah" karya Gunoto Saparie merupakan penghormatan kepada para petani yang mengabdikan hidupnya untuk mengolah tanah dan menyediakan pangan bagi masyarakat. Melalui bahasa yang sederhana, ritmis, dan penuh simbol, penyair menyampaikan bahwa kerja keras yang dilakukan dengan cinta, kesetiaan, dan ketulusan akan membawa keberkahan bagi kehidupan bersama. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih menghargai profesi petani sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air sebagai sumber kehidupan yang harus terus dijaga.

Gunoto Saparie
Puisi: Cangkullah, Cangkullah
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.