Cemara Tujuh
aku terkenang tujuh tubuh
yang meninggi mengusap langit
ilusi dialiri bulir sepoi sore
bersama denting gamelan dan kicau burung
mengirimkan keharuan zaman
ke jantung matahari tembaga
rerupa bunga padma
menjadi lelampu di rantingmu
di seberang kekar pilar pilar dan
lembar selasar yang tergelar
merawi takzim agung balairung
memeram riwayat renung
dalam khusyuk kembara
berkali aku menyunting auramu, hingga
mengepul rindu. amuk risau menderu.
2012
Sumber: Elegi-Elegi Yogya (DIVA Press, 2024)
Analisis Puisi:
Puisi "Cemara Tujuh" karya Budhi Setyawan menghadirkan perpaduan antara keindahan alam, nilai budaya, dan perenungan spiritual. Melalui pilihan diksi yang puitis dan simbolik, penyair membangun suasana yang sarat kenangan, kekhidmatan, serta penghormatan terhadap ruang yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
Judul "Cemara Tujuh" mengacu pada tujuh pohon cemara yang menjadi pusat penggambaran puisi. Pohon-pohon tersebut tidak hanya hadir sebagai unsur alam, tetapi juga sebagai simbol keteguhan, saksi perjalanan waktu, dan penjaga memori kolektif. Kehadiran gamelan, bunga padma, balairung, serta pilar-pilar memperkuat nuansa budaya Jawa yang kental dalam puisi ini.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan terhadap ruang budaya dan sejarah yang menghadirkan pengalaman spiritual serta perenungan tentang perjalanan waktu. Tema pendukung dalam puisi ini meliputi:
- Hubungan manusia dengan alam.
- Penghormatan terhadap warisan budaya.
- Kenangan dan nostalgia.
- Keindahan yang melahirkan perenungan batin.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang keberadaan tujuh pohon cemara yang menjulang tinggi. Pohon-pohon tersebut menghadirkan kembali kenangan akan suasana yang damai, diiringi semilir angin sore, denting gamelan, dan kicauan burung.
Dalam perjalanan mengenang tempat itu, penyair juga menggambarkan bunga padma, pilar-pilar, selasar, dan balairung yang menunjukkan sebuah kawasan yang sarat nilai budaya dan sejarah. Semua unsur tersebut menjadi ruang kontemplasi yang menghadirkan rasa hormat terhadap masa lalu.
Pada bagian akhir, penyair mengungkapkan kerinduan yang begitu dalam terhadap tempat tersebut. Kerinduan itu tumbuh dari pengalaman spiritual yang berulang kali ia rasakan hingga akhirnya berubah menjadi gejolak batin yang sulit dibendung.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa suatu tempat dapat menjadi bagian dari identitas dan kehidupan batin seseorang karena menyimpan sejarah, nilai budaya, dan pengalaman yang mendalam.
Tujuh pohon cemara melambangkan keteguhan dan kesinambungan waktu. Sementara itu, unsur-unsur budaya seperti gamelan, bunga padma, dan balairung menggambarkan kekayaan tradisi yang tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga menjadi sumber kebijaksanaan.
Kerinduan yang muncul pada akhir puisi menunjukkan bahwa pengalaman spiritual dan budaya akan terus hidup dalam ingatan meskipun seseorang telah meninggalkan tempat tersebut.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Hargailah warisan budaya dan sejarah sebagai bagian dari identitas bangsa.
- Alam dan budaya dapat menjadi sumber ketenangan serta inspirasi hidup.
- Jangan melupakan tempat-tempat yang telah memberi pengalaman berharga dalam kehidupan.
- Kenangan yang baik dapat menjadi kekuatan untuk terus menjaga nilai-nilai luhur.
- Luangkan waktu untuk merenung agar mampu memahami makna kehidupan yang lebih dalam.
Puisi "Cemara Tujuh" karya Budhi Setyawan merupakan karya yang memadukan keindahan alam, kekayaan budaya, dan kedalaman spiritual dalam satu kesatuan yang harmonis. Pohon cemara, bunga padma, gamelan, serta balairung menjadi simbol-simbol yang menghadirkan ruang penuh kenangan dan penghormatan terhadap sejarah.
Puisi ini mengajak pembaca untuk menghargai alam dan warisan budaya sebagai bagian penting dari perjalanan hidup sekaligus sumber kebijaksanaan yang terus menghidupkan rasa rindu dan perenungan.
Karya: Budhi Setyawan
Biodata Budhi Setyawan:
- Budhi Setyawan lahir pada tanggal 9 Agustus 1969 di Purworejo.