Dan Soekarno Pun Menangis
Berjalan sendirian menempuh takdir
di antara rumput liar angin ribut gemuruh gelombang
tersaruk lecet berdarah menganga
kerikil tajam menegak menyeruak sela sela alas kaki
rumput liar subur merajalela menjalar
di sekeliling tanaman padi di sawah ladang
menghabiskan gizi makanan buat padi
angin ribut menerbangkan pohon-pohon
tercerabut hingga akarnya
suaranya memangsa sepi dan ketenangan
kerbau sapi lepas kandang menghambur keluar
cuaca gelap mengancam anak-anak bangsa
gemuruh gelombang menjulang ke langit
menabrak pertapa di tepi lautan
pertapa lenyap meninggalkan asap semangat
terkadang dibenci tak jarang digali
perjalanan penuh duri kerikil tajam
melecetkan jiwa pengembara penggembala
serta pakaian merah putih robek-robek
di bawah tiang bendera
yang lusuh dan compang-camping
Soekarno menangis tersedih
tanpa tetes air mata
Jakarta, 16 Juni 2001
Sumber: Penyadaran (Bumi Budhi, 2006)
Analisis Puisi:
Puisi "Dan Soekarno Pun Menangis" karya Budhi Setyawan merupakan puisi reflektif yang menggunakan sosok Soekarno, Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, sebagai simbol keprihatinan terhadap kondisi bangsa. Penyair menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan sosial, politik, dan moral yang dianggap menjauh dari cita-cita kemerdekaan.
Puisi ini tidak menggambarkan Soekarno secara historis, melainkan menghadirkannya sebagai representasi suara hati bangsa. Tangisan Soekarno di penghujung puisi menjadi simbol kesedihan mendalam atas kondisi Indonesia yang dipenuhi berbagai tantangan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keprihatinan terhadap kondisi bangsa Indonesia yang dinilai telah menjauh dari cita-cita perjuangan para pendiri bangsa. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang nasionalisme, perjuangan, kritik sosial, kepemimpinan, dan harapan agar bangsa kembali kepada nilai-nilai persatuan serta semangat kemerdekaan.
Makna Tersirat
Puisi ini mengandung banyak makna tersirat yang disampaikan melalui simbol-simbol alam.
- Pertama, perjalanan yang penuh duri dan kerikil menggambarkan perjuangan bangsa yang dipenuhi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri.
- Kedua, rumput liar yang menghabiskan gizi tanaman padi merupakan simbol berbagai persoalan seperti korupsi, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, atau perilaku yang menghambat kemajuan bangsa.
- Ketiga, angin ribut dan gelombang besar melambangkan konflik, krisis, serta berbagai gejolak yang mengancam persatuan nasional.
- Keempat, bendera merah putih yang lusuh menunjukkan memudarnya penghormatan terhadap nilai-nilai perjuangan yang dahulu diperjuangkan dengan pengorbanan besar.
- Kelima, tangisan Soekarno tanpa air mata mengandung makna bahwa keprihatinan terhadap bangsa telah mencapai titik yang sangat dalam. Kesedihan itu tidak lagi memerlukan air mata untuk menunjukkan besarnya luka.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini mengandung beberapa amanat penting, yaitu:
- Bangsa Indonesia harus menjaga cita-cita kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa.
- Persatuan dan nasionalisme perlu terus dipelihara agar tidak terkikis oleh berbagai kepentingan.
- Masalah-masalah yang menghambat kemajuan bangsa harus diselesaikan bersama.
- Setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehormatan Merah Putih.
- Jangan sampai pengorbanan para pahlawan menjadi sia-sia karena hilangnya kepedulian terhadap bangsa.
Secara keseluruhan, penyair mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan semangat perjuangan, persatuan, dan kecintaan kepada tanah air.
Puisi "Dan Soekarno Pun Menangis" karya Budhi Setyawan merupakan puisi kritik sosial yang menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi bangsa Indonesia melalui simbol-simbol yang kaya makna. Dengan menghadirkan sosok Soekarno sebagai representasi cita-cita kemerdekaan, penyair mengajak pembaca untuk merenungkan sejauh mana bangsa ini masih memegang nilai-nilai perjuangan para pendahulu.
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa menjaga persatuan, keadilan, dan semangat kebangsaan merupakan tanggung jawab seluruh generasi. Tangisan Soekarno dalam puisi ini bukan sekadar ungkapan kesedihan, melainkan peringatan agar bangsa Indonesia tidak melupakan cita-cita luhur yang menjadi dasar berdirinya negara.
Karya: Budhi Setyawan
Biodata Budhi Setyawan:
- Budhi Setyawan lahir pada tanggal 9 Agustus 1969 di Purworejo.