Puisi: Dzulkifli yang Ramah (Karya Asep S. Sambodja)

Puisi "Dzulkifli yang Ramah" karya Asep S. Sambodja menyampaikan pesan bahwa kehidupan dan kematian merupakan bagian dari tatanan yang saling ...
Dzulkifli yang Ramah

buah jatuh
tak jauh dari pohonnya
sikap anak
terkadang mencerminkan
sikap ayah dan ibunya

demikianlah dzulkifli
menjadi orang yang sabar
seperti ayahnya, ayyub

dzulkifli terbiasa
berpuasa di siang hari
beribadah di malam hari
dan tak pernah marah

ia membawa islam yang ramah
bukan islam yang marah

suatu kali,
dzulkifli mendapat perintah
untuk berjihad
menegakkan agama allah

tapi, kaum rum, bangsanya
menolak berjihad
mereka bilang,
"kami ini kaum yang senang hidup
dan tak senang mati
sedang jihad
adalah penyebab kematian
karena itu, kami usul
hendaknya paduka nabi
mohon pada allah
agar kami diberi panjang umur
dan tidak mematikan kami
kecuali kalau kami yang minta."

dzulkifli memohon pada tuhan
apa yang diminta kaumnya

dan allah memberikan mereka
panjang umur
bahkan teramat panjang
mereka hidup sangat lama
punya banyak anak
hingga tumpat pedat
dan kekurangan makan

akhirnya orang-orang itu
capai sendiri
mereka lelah hidup terus-menerus
sampai jompo
dan tak sanggup
melakukan apa-apa lagi
kecuali tidur
bernapas
tapi tak bergerak
hidup tak mati-mati
rambut memutih
wajah dan kulit
keriput
hidup yang panjang dan melelahkan
tapi tak mati
hanya terkapar di kasur
mendengkur
mungkin jadi parasit
bagi anak cucu

dan akhirnya
terucap sendiri dari mulut mereka
bahwa terkadang manusia sangat membutuhkan
mati

Sumber: Ballada Para Nabi (2007)

Analisis Puisi:

Puisi "Dzulkifli yang Ramah" karya Asep S. Sambodja mengangkat kisah Nabi Dzulkifli sebagai teladan kesabaran, kelembutan, dan kebijaksanaan. Dengan gaya bahasa yang sederhana dan naratif, penyair menyampaikan nilai-nilai keagamaan sekaligus mengajak pembaca merenungkan hakikat kehidupan, kematian, dan sikap manusia terhadap keduanya.

Puisi ini terinspirasi dari kisah para nabi dalam tradisi Islam. Melalui tokoh Nabi Dzulkifli, penyair menekankan bahwa agama tidak hanya mengajarkan ketegasan dalam menjalankan perintah Tuhan, tetapi juga kesabaran, kasih sayang, dan kebijaksanaan dalam menghadapi manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesabaran, kebijaksanaan, dan penerimaan terhadap ketentuan Allah. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang pendidikan karakter, makna kehidupan dan kematian, serta pentingnya memahami ajaran agama secara arif.

Puisi ini bercerita tentang Nabi Dzulkifli yang digambarkan sebagai sosok penyabar dan lembut, mewarisi sifat ayahnya, Nabi Ayyub, yang terkenal karena kesabarannya dalam menghadapi ujian.

Dzulkifli menjalani kehidupan dengan penuh ibadah. Ia berpuasa pada siang hari, beribadah pada malam hari, dan tidak mudah marah.

Penyair kemudian menegaskan:

"ia membawa islam yang ramah
bukan islam yang marah"

Larik tersebut menggambarkan bahwa dakwah dilakukan dengan kelembutan, kesabaran, dan akhlak yang baik.

Konflik muncul ketika Nabi Dzulkifli diperintahkan berjihad, tetapi kaumnya menolak karena takut mati. Mereka justru meminta umur yang sangat panjang.

Allah mengabulkan permintaan tersebut. Namun, umur panjang tanpa akhir justru membawa penderitaan. Ketika usia semakin lanjut, tubuh melemah, kehidupan menjadi berat, dan mereka akhirnya menyadari bahwa kematian merupakan bagian alami dari kehidupan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia sering menginginkan sesuatu tanpa memahami konsekuensinya.

Kaum Nabi Dzulkifli menganggap umur panjang pasti membawa kebahagiaan. Akan tetapi, pengalaman mereka menunjukkan bahwa hidup tanpa batas bukanlah anugerah yang selalu menyenangkan.

Bagian akhir puisi:

"bahwa terkadang manusia sangat membutuhkan
mati"

tidak dimaksudkan sebagai penolakan terhadap kehidupan atau ajakan untuk mengakhiri hidup. Dalam konteks puisi, larik tersebut menegaskan bahwa kematian merupakan bagian dari ketetapan Tuhan yang memberi makna pada siklus kehidupan. Tanpa adanya akhir, kehidupan dapat berubah menjadi beban yang sangat berat.

Selain itu, larik:

"ia membawa islam yang ramah
bukan islam yang marah"

menekankan bahwa nilai-nilai agama hendaknya diwujudkan melalui kesabaran, kasih sayang, dan akhlak yang baik.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Puisi ini mengandung beberapa pesan penting, yaitu:
  • Jadikan kesabaran dan kelembutan sebagai bagian dari akhlak sehari-hari.
  • Jangan memandang kematian semata-mata sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai bagian dari ketentuan Tuhan dalam siklus kehidupan.
  • Bersyukurlah atas segala ketetapan Allah karena manusia tidak selalu mengetahui mana yang terbaik bagi dirinya.
  • Jangan menginginkan sesuatu hanya berdasarkan keinginan sesaat tanpa mempertimbangkan akibatnya.
  • Sampaikan ajaran agama dengan kebijaksanaan, keramahan, dan kasih sayang.
Puisi "Dzulkifli yang Ramah" karya Asep S. Sambodja merupakan puisi religius yang mengajarkan pentingnya kesabaran, kebijaksanaan, dan penerimaan terhadap ketetapan Allah. Melalui kisah Nabi Dzulkifli dan kaumnya, penyair menunjukkan bahwa manusia sering kali tidak memahami konsekuensi dari keinginannya sendiri.

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kehidupan dan kematian merupakan bagian dari tatanan yang saling melengkapi. Karya ini mengajak pembaca untuk menjalani hidup dengan penuh syukur, bersikap sabar, serta memandang ajaran agama sebagai jalan yang menghadirkan kasih sayang dan kebijaksanaan.

Asep S. Sambodja
Puisi: Dzulkifli yang Ramah
Karya: Asep S. Sambodja

Biodata Asep S. Sambodja:
  • Asep S. Sambodja lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 15 September 1967.
  • Karya-karyanya banyak dimuat di media massa, seperti Horison, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Jurnal Puisi dan lain sebagainya.
  • Asep S. Sambodja meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 9 Desember 2010 (pada usia 43 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.