Puisi: Elegi Jimbaran (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi "Elegi Jimbaran" memadukan suasana yang sebelumnya riang menjadi gelap dan penuh kesedihan, menggambarkan tragedi yang tiba-tiba terjadi di ...
Elegi Jimbaran

belum genap rasa gurih
ikan bakar di lidah
telah kau tebar pasir
di biji mataku

bibirku kelu
menatap buih ombak bercampur darah
dan serpih daging kekasih

mengapa pasir bergetar tiba-tiba
dan ombak membuncah
tak paham malam beringsut diam-diam

ke mana lenyapnya tawa canda tadi senja
saat sepasang sejoli saling rapatkan bibir
di bawah siraman cahaya lampu-lampu kafe

hanya jerit tangis
berpadu pekik cemas camar
orang-orang panik
kursi-kursi kayu terlempar ke udara
dan puing kafe rontok

di piringku yang retak
terhidang sebongkah tangan
hampir remuk

dari balik kelam
durjana menyeringai
si bedebah bersiul riang
memandang mata hampa bocah
kehilangan ibu

Oktober, 2005

Sumber: Harian Media Indonesia (13 November 2006)

Analisis Puisi:

Puisi "Elegi Jimbaran" karya Wayan Jengki Sunarta menggambarkan peristiwa tragis yang terjadi di Jimbaran, menyampaikan perasaan kehancuran dan penderitaan dalam suasana tragedi. Penyair menampilkan kegembiraan yang tiba-tiba beralih menjadi kedukaan dan ketakutan akibat insiden mengerikan yang terjadi.

Kontras Sebelum dan Sesudah Kejadian: Puisi dimulai dengan gambaran yang menenangkan dan santai, dengan adegan ikan bakar yang nikmat di Jimbaran. Namun, suasana damai tiba-tiba berubah menjadi kekacauan dan kehancuran. Ada perpindahan mendadak dari suasana riang menjadi penderitaan yang tidak terduga.

Gambaran Tragedi Jimbaran: Penyair menggunakan bahasa yang puitis untuk menggambarkan kekacauan yang terjadi di Jimbaran, menyoroti dampak yang tragis dengan gambaran darah, puing, dan kekacauan. Peristiwa tersebut terkesan mengerikan dan penuh kehancuran, memberikan citra ketakutan dan kengerian yang melanda.

Perasaan Kehilangan dan Kesedihan: Terdapat kesedihan yang mendalam terkait dengan peristiwa tragis ini. Ketika suasana tenang berubah menjadi kekacauan dan penuh ketakutan, penyair merenungkan hilangnya kebahagiaan dan kedamaian yang tiba-tiba terhancur.

Kehadiran Durjana: Ada gambaran seorang durjana yang menyeringai dalam kegelapan, yang mungkin menjadi representasi dari kejahatan atau keganasan yang menyebabkan tragedi ini.

Kesimpulan dan Perenungan: Penyair menutup puisi dengan merenungkan kesedihan yang mendalam, yang diwakili oleh gambaran tangan hampir remuk di piring retak. Ini merujuk pada tragedi yang menyisakan luka dan kehancuran yang mendalam.

Puisi "Elegi Jimbaran" memadukan suasana yang sebelumnya riang menjadi gelap dan penuh kesedihan, menggambarkan tragedi yang tiba-tiba terjadi di Jimbaran. Penyair menggambarkan kehancuran dan perasaan kehilangan yang dalam akibat peristiwa tragis tersebut.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Elegi Jimbaran
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.