Gempa
(Puitisasi terjemahan al-Qur’an: Az-Zalzalah)
'Pabila bumi tergoncang gempa
dan memuntah-ruah segenap muatannya
lalu berseru manusia: "Kenapa dia?"
hari itu bumi sendiri akan berkisah
seolah Tuhanmu memberinya wahyu
lalu muncul manusia bertubuh gersang
menyaksikan sendiri kerja tangannya:
Setiap kenolet kebajikan akan terasa jua
setiap kenolet dosa akan terasa pula
Sumber: Kabar dari Langit (1988)
Analisis Puisi:
Puisi "Gempa" karya Mohammad Diponegoro merupakan puitisasi dari terjemahan Surah Az-Zalzalah dalam Al-Qur'an. Puisi ini mengangkat peristiwa dahsyat pada Hari Kiamat, ketika bumi diguncang hebat, mengeluarkan seluruh isinya, dan menjadi saksi atas segala perbuatan manusia selama hidup di dunia.
Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, penyair menghadirkan gambaran tentang hari pembalasan. Tidak ada lagi sesuatu yang dapat disembunyikan karena setiap amal, sekecil apa pun, akan diperlihatkan dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Tema
Tema utama puisi ini adalah hari kiamat, pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya, dan keadilan Tuhan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang keimanan, kesadaran moral, balasan amal, serta kekuasaan Allah atas seluruh alam semesta.
Puisi ini bercerita tentang datangnya Hari Kiamat yang ditandai dengan guncangan dahsyat pada bumi. Bumi digambarkan memuntahkan seluruh isinya sehingga manusia diliputi rasa heran dan bertanya mengapa semua itu terjadi.
Pada hari tersebut, bumi bukan lagi sekadar tempat berpijak, melainkan menjadi saksi yang menceritakan seluruh peristiwa yang pernah terjadi di atasnya. Hal itu terjadi karena Allah memberikan perintah kepada bumi untuk mengungkapkan semua yang pernah dilakukan manusia.
Selanjutnya, manusia hadir dalam keadaan tidak lagi memiliki kebanggaan duniawi. Mereka menyaksikan sendiri hasil dari seluruh amal yang pernah dilakukan semasa hidup. Tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari perhitungan, baik kebaikan maupun keburukan, meskipun hanya sebesar "kenolet" atau sangat kecil.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan di dunia hanyalah tempat untuk beramal, sedangkan setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan pada Hari Akhir.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia sering kali menganggap remeh perbuatan kecil. Padahal, menurut ajaran Islam, sekecil apa pun amal baik maupun dosa tetap memiliki konsekuensi di hadapan Allah.
Selain itu, bumi digambarkan sebagai saksi yang tidak pernah lupa. Semua jejak kehidupan manusia akan tercatat dan diungkapkan pada waktunya sehingga tidak ada ruang bagi kebohongan atau penyangkalan.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Amanat yang disampaikan dalam puisi ini antara lain:
- Setiap manusia harus bertanggung jawab atas seluruh perbuatannya.
- Jangan meremehkan amal baik sekecil apa pun karena semuanya memiliki nilai di sisi Allah.
- Hindarilah perbuatan dosa meskipun tampak kecil karena tetap akan mendapat balasan.
- Kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat bersifat kekal.
- Jadikan keimanan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan agar memperoleh keselamatan di akhirat.
Puisi "Gempa" karya Mohammad Diponegoro merupakan puitisasi Surah Az-Zalzalah yang menggambarkan kedahsyatan Hari Kiamat serta kepastian adanya pembalasan atas setiap amal manusia. Melalui bahasa yang padat dan simbolik, penyair mengingatkan bahwa bumi akan menjadi saksi atas seluruh perbuatan manusia, sementara setiap kebaikan dan keburukan, sekecil apa pun, akan memperoleh balasan yang setimpal.
Puisi ini mengajak pembaca untuk memperbanyak amal saleh, menjauhi perbuatan dosa, dan senantiasa mengingat bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Karya: Mohammad Diponegoro
Biodata Mohammad Diponegoro:
- Mohammad Diponegoro lahir di Yogyakarta, pada tanggal 28 Juni 1928.
- Mohammad Diponegoro meninggal dunia di Yogyakarta, pada tanggal 9 Mei 1982 (pada usia 53 tahun).
