Puisi: Gumpal Pukal, Denting Bening (Karya Sugiarta Sriwibawa)

Puisi "Gumpal Pukal, Denting Bening" karya Sugiarta Sriwibawa mengingatkan bahwa makna kehidupan sering muncul dalam kilasan-kilasan kecil yang ...
Gumpal Pukal, Denting Bening

(I)

Bila burung-burung seriti berlaga di langit
Kala kaca jendela menguning bagai kunir
Saat daku mencangkung di lulur senja
Mencoba menghirup cahaya jingga
Mengusik bulu-bulu luruh sutera maya
Di tangan terperas ruas jari
Getar meruap menoreh mega
Meniup lafas keempat penjuru
Awan lukisan, gumpal polo aksara
Itulah lambang, bukan ramalan
Namun sejarah yang padam timbul
Tanpa iringan irama sangkakala

Riak malam beserpihan
Di dadaku bergulungan tanya
Karena langit serasa menangkup bumi
Karena prahara serasa membabit langit
Dan kelelawar lumpuh di tuah tanah
Ah, tiada terjawab jua
Kala daku terbujur kandas di lubuk malam

(II)

(Aku ingat orang-orang tua)
Mereka yang tiada sempat memberi nama anaknya
Mereka yang tiada sempat mengukir prasasti
Lalu membakar diri di tengah hari
(Aku ingat orang-orang tua
justru karena takut mengingatnya)

(III)

Benar matahari seperti bapa zaman
Mendaki tangga meniti jenjang hari
Menunggu lahir hewan — kepiting, jerapah, semberani
Merawat tumbuh tanaman — jewawut, lumut, gandasuli 

Benar rembulan seperti Ibu bumi
Menitikkan air mata selepas cakrawala lelap
Setelah lahir manusia jagal, bajingan, anak jadah
Setelah mati insan - janin, sahid, penyair

(IV)

Demikianlah hikayatnya
Kapan aku terhumbalang dalam awan gemawan
Lalu-bila mendung menyisih, gerimis ripis
Di timur melengkung bianglala
Antara sawang tanpa warna
Aku tak lagi menebak, tak lagi menebak roman bumi
Arif atau menyeringai atau menekur atau durhaka
Yang timbul-tenggelam disingkat kilat
Karena warna yang bernama

Ah, apakah itu ronanya
Sekali-sekali muncul
Bagai bunyi bening sedenting demi sedenting
Dalam lekuk-liku hikayat
Dalam pangkal simpul sejarah
Lalu padam dan sunyi
Disaput hening lazuardi.

Sumber: Garis Putih (1983)

Analisis Puisi:

Puisi "Gumpal Pukal, Denting Bening" karya Sugiarta Sriwibawa merupakan puisi reflektif yang kaya akan perenungan filosofis. Penyair menggabungkan unsur alam, sejarah, ingatan, kemanusiaan, hingga perjalanan waktu dalam satu rangkaian narasi puitis yang mengajak pembaca merenungkan hubungan antara manusia, alam semesta, dan sejarah peradaban.

Puisi ini terbagi dalam empat bagian yang saling berkaitan. Bagian pertama menghadirkan kontemplasi melalui lanskap alam. Bagian kedua membawa pembaca pada ingatan tentang generasi terdahulu yang terlupakan. Bagian ketiga mempertemukan simbol matahari dan rembulan sebagai representasi kehidupan. Bagian terakhir menjadi renungan tentang sejarah, warna kehidupan, dan pencarian makna di balik perjalanan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perenungan tentang sejarah, kehidupan manusia, waktu, dan hubungan antara alam dengan keberadaan manusia. Selain tema utama tersebut, puisi ini juga memuat beberapa tema pendukung, yaitu:
  • Ingatan kolektif.
  • Siklus kehidupan.
  • Kelahiran dan kematian.
  • Kebijaksanaan hidup.
  • Hubungan manusia dengan alam semesta.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengamati perubahan alam sebagai pintu masuk untuk merenungkan kehidupan. Senja, langit, awan, burung, dan malam menjadi latar yang membangkitkan berbagai pertanyaan mengenai sejarah dan keberadaan manusia.

Selanjutnya, penyair mengenang orang-orang tua yang hidup sederhana dan bahkan tidak sempat meninggalkan nama atau prasasti bagi dirinya. Ingatan tersebut menghadirkan kesadaran bahwa banyak kehidupan berharga yang hilang tanpa dikenang oleh sejarah.

Pada bagian berikutnya, matahari digambarkan sebagai "bapa zaman" yang menghidupi dunia, sedangkan rembulan menjadi "ibu bumi" yang menyaksikan suka duka kehidupan manusia. Alam menjadi saksi lahirnya kehidupan sekaligus berbagai tragedi kemanusiaan.

Di bagian akhir, penyair tidak lagi berusaha menebak wajah dunia. Ia memilih menerima bahwa kehidupan terdiri atas kilasan-kilasan makna yang muncul sesaat, seperti denting suara bening yang kemudian kembali tenggelam dalam keheningan sejarah.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan manusia hanyalah bagian kecil dari perjalanan sejarah dan alam semesta yang sangat panjang.

Selain itu, puisi ini juga mengandung beberapa makna lain, yaitu:
  • Tidak semua pengorbanan manusia tercatat dalam sejarah.
  • Alam menjadi saksi bisu atas seluruh perjalanan peradaban.
  • Kehidupan selalu berada dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, kehilangan, dan kematian.
  • Manusia perlu belajar menerima bahwa tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang pasti.
  • Makna kehidupan sering kali hadir dalam momen-momen sederhana yang mudah terlewatkan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Hargailah sejarah dan jasa orang-orang yang telah mendahului kita.
  • Belajarlah dari alam karena alam menyimpan banyak kebijaksanaan.
  • Jangan menilai kehidupan hanya dari apa yang tampak di permukaan.
  • Terimalah bahwa hidup dipenuhi misteri yang tidak selalu dapat dijelaskan.
  • Jadikan setiap pengalaman sebagai bagian dari perjalanan menuju kedewasaan.
Puisi "Gumpal Pukal, Denting Bening" karya Sugiarta Sriwibawa merupakan puisi reflektif yang mengajak pembaca menyelami hubungan antara manusia, alam, sejarah, dan waktu. Melalui simbol-simbol alam yang kaya serta bahasa yang puitis, penyair menghadirkan perenungan tentang bagaimana kehidupan berjalan dalam siklus yang terus berulang, sementara manusia berusaha menemukan makna di dalamnya.

Puisi ini mengingatkan bahwa makna kehidupan sering muncul dalam kilasan-kilasan kecil yang bening, lalu kembali menyatu dalam keheningan sejarah dan semesta.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Gumpal Pukal, Denting Bening
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Biodata Sugiarta Sriwibawa:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
© Sepenuhnya. All rights reserved.