Puisi: Gunung Bintai Awai (Karya Korrie Layun Rampan)

Puisi “Gunung Bintai Awai” karya Korrie Layun Rampan menyiratkan kritik terhadap perubahan zaman yang sering kali mengorbankan keseimbangan alam ...

Gunung Bintai Awai

Gunung berbintang
Menerbitkan ruang
Tanda waktu nenek-moyang
Membenihkan padi

Beras yang lawas
Di dalam gantang emas
Terkecuali kuali
Tak ikut mempertinggi frekuensi

Asyik bicara asyik upacara
Membuang masa
Tergali tambang terbersihi lahan
Sawit di subur huma ibunda

Kegandrungan berlebihan
Pada lubang dan jala
Yang membersihkan cuaca
Sungai-sungai kehilangan muara

Banjur mengail toman
Di malam-malam pertunjukan
Kata-kata Singapura
Gita rupa Dewa Budjana

Semangat sosialita
Kapan tercipta bahagia?
Urat-urat penakluk
Menekuk bahasa warna

Di sini hutan
Di sana langit
Bilakah langit dijunjung tanah dipijak
Selain persiltan dolar dan rupiah?

Hanya kata-kata bahagia
Membubung di angkasa

Samarinda, 5/9/2013

Sumber: Dayak! Dayak! Di manakah Kamu? (2014)
Catatan:
Tulisan Cokorda Yudistira tentang pertunjukan Grup Dewa Budjana, Kompas, Minggu, 1 September 2013.

Analisis Puisi:

Puisi “Gunung Bintai Awai” karya Korrie Layun Rampan merupakan karya sastra yang menghadirkan refleksi tentang hubungan manusia dengan alam, kebudayaan, serta perubahan sosial yang terjadi akibat modernisasi dan kepentingan ekonomi. Melalui simbol-simbol alam seperti gunung, hutan, sungai, tanah, dan padi, penyair menggambarkan kegelisahan terhadap hilangnya nilai-nilai tradisi dan semakin kuatnya pengaruh materialisme dalam kehidupan masyarakat.

Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap perubahan zaman yang sering kali mengorbankan keseimbangan alam dan budaya. Penyair menggunakan bahasa puitis yang kaya simbol untuk menyampaikan keresahan terhadap manusia yang semakin jauh dari akar kehidupan leluhur.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerusakan hubungan antara manusia, alam, dan budaya akibat perubahan zaman serta kepentingan ekonomi. Puisi ini mengangkat persoalan tentang bagaimana kehidupan tradisional yang dahulu selaras dengan alam mulai terdesak oleh aktivitas modern seperti pertambangan, perkebunan, dan orientasi terhadap keuntungan materi. Gunung, hutan, sungai, serta tanah tidak lagi hanya dipandang sebagai bagian dari kehidupan, tetapi mulai diperlakukan sebagai sumber eksploitasi.

Selain itu, puisi ini juga memiliki tema tentang kerinduan terhadap nilai-nilai leluhur yang mulai terkikis oleh perkembangan sosial yang semakin materialistis.

Puisi ini bercerita tentang kondisi suatu masyarakat yang mengalami perubahan besar akibat masuknya kepentingan ekonomi dan budaya modern. Penyair menggambarkan bagaimana warisan nenek moyang yang dahulu menjadi pedoman hidup perlahan kehilangan tempat.

Pada bagian awal, penyair menghadirkan gambaran tentang hubungan manusia dengan alam dan tradisi:

“Tanda waktu nenek-moyang
Membenihkan padi”

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan leluhur sangat dekat dengan alam. Padi menjadi simbol kehidupan, keberlanjutan, dan kebudayaan agraris yang diwariskan secara turun-temurun.

Namun, hubungan harmonis tersebut mulai berubah ketika muncul aktivitas seperti tambang dan perkebunan sawit:

“Tergali tambang terbersihi lahan
Sawit di subur huma ibunda”

Penyair menggambarkan bahwa tanah yang dahulu menjadi ruang kehidupan kini mengalami perubahan fungsi akibat kepentingan manusia.

Puisi ini juga menyinggung tentang budaya hiburan dan kehidupan sosial modern yang kadang membuat manusia lupa terhadap persoalan lingkungan dan identitas budaya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap manusia yang semakin menjauh dari nilai-nilai kehidupan yang diwariskan leluhur. Kemajuan ekonomi dan modernisasi memang membawa perubahan, tetapi penyair mengingatkan bahwa perubahan tersebut tidak boleh menghilangkan keseimbangan alam dan kebudayaan.

Gunung, hutan, dan sungai dalam puisi ini bukan hanya unsur alam, tetapi simbol kehidupan yang harus dihormati. Ketika manusia hanya mengejar keuntungan berupa “dolar dan rupiah”, maka nilai spiritual dan budaya akan semakin terpinggirkan.

Kalimat:

“Bilakah langit dijunjung tanah dipijak
Selain persiltan dolar dan rupiah?”

mengandung pertanyaan kritis tentang apakah manusia masih menghargai alam dan tanah kelahirannya, atau hanya melihat segala sesuatu berdasarkan nilai ekonomi.

Puisi ini juga mengandung kegelisahan tentang kebahagiaan yang hanya menjadi kata-kata, bukan kenyataan:

“Hanya kata-kata bahagia
Membubung di angkasa”

Artinya, kesejahteraan yang sering dijanjikan belum tentu benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat atau pesan yang disampaikan dalam puisi ini antara lain:
  • Manusia harus menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam.
  • Kemajuan tidak boleh dilakukan dengan menghancurkan lingkungan.
  • Nilai-nilai budaya dan warisan leluhur harus tetap dihargai.
  • Kehidupan modern tidak seharusnya membuat manusia melupakan akar budayanya.
  • Jangan menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup.
  • Kekayaan berupa uang tidak akan berarti jika manusia kehilangan alam dan identitasnya.
  • Manusia perlu memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
  • Hutan, sungai, tanah, dan gunung merupakan bagian penting dari kehidupan yang harus dilindungi.
Puisi “Gunung Bintai Awai” karya Korrie Layun Rampan merupakan puisi yang menyuarakan kegelisahan terhadap perubahan zaman yang mengancam hubungan manusia dengan alam dan budaya. Dengan menggunakan simbol-simbol alam, penyair mengajak pembaca untuk menyadari bahwa pembangunan dan kemajuan tidak boleh mengorbankan lingkungan serta nilai-nilai leluhur.

Melalui bahasa yang penuh makna, puisi ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya dapat diukur dari keuntungan materi, tetapi juga dari kemampuan manusia menjaga harmoni dengan alam dan sesamanya.

Korrie Layun Rampan
Puisi: Gunung Bintai Awai
Karya: Korrie Layun Rampan

Biodata Korrie Layun Rampan:
  • Korrie Layun Rampan adalah seorang penulis (penyair, cerpenis, novelis, penerjemah), editor, dan kritikus sastra Indonesia berdarah Dayak Benuaq.
  • Korrie Layun Rampan lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur.
  • Korrie Layun Rampan meninggal dunia pada tanggal 19 November 2015 di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.