Puisi: Habib (Karya Zeffry J. Alkatiri)

Puisi "Habib" karya Zeffry J. Alkatiri menghadirkan sosok ulama yang mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan ilmu agama, membina masyarakat, dan ...
Habib (1)

Ahlan!
Serak berat bebatukan
Sepanjang kampung Arab
Pagar tinggi
Pintu mengatup sepanjang siang
Para wanita mengintip
Memastikan tamu
Dari balik jeruji jendela
Mata-mata bulat
Menukik pada sasaran
Hidung-hidung seperti lengkung gunung
Mengisap semua debu kematian
Para baksil Betawi rajin memarut tenggorokan mereka

Habib (2)

Ahlan!
(Suara dari goa faring kering)
Sang Habib sarungan
Duduk di kursi rotan
Secangkir gahwe jahe mengepul
Di tengah meja marmer segi delapan
Tasbih kecil terus berotasi di jari kiti
Tangan kanan menyangga kepalanya
yang beruban
Segumpalan awan menggantung di atasnya:

Habib (3)

Sejak umur 21 tahun
Terakhir melihat wadi gurun
Dari Aden menuju Betawi
Setelah muntah di dek kapal Inggris
Matanya menghijau royo
Tanah yang dipijak gembur-subur
Baik ditanam hadis dan fikih
Yang mengakar di setiap sel otaknya

Habib (4)

Wan mau ke mane wan?
Mau ke Pekojan
Wan mau jual ape wan?
Mau jual merjan

Sang habib membawa jadam menuju Kampung Bandan
Membawa kitab menuju maktab
Menebarkan wewangian di rumah
dan di madrasah.
Sepuluh tahun sekali menanggalkan jubah
Menuju Makah melempar jumrah…
Selama 46 tahun
Benih yang ditanam
Menyebar di pelosok Betawi
Dan Habib rindu kepingin pulang!

Habib (5)

Sepanjang kampung Arab
Dehem dan sengau keledai bersautan
Mereka tak dapat sembunyi dari para penagih
Dan baksil Betawi terus mengejar,
Menggerogoti tenggorokan serta paru-paru
mereka.

Ba’da Ashar,
Pintu-pintu mulai terbuka
Sebagian Arab di pangkalan istirahat
Duduk di bale-bale
Sambil mengisap Hoge

Ahlan… Bib!
Gahwenya sudah dingin
Saat beduk Maghrib,
Gerakan jarinya berhenti
Tasbihnya jatuh
Tangannya terkulai
Menyentuh lantai
Yang tak berpasir…

1999

Sumber: Dari Batavia sampai Jakarta 1619-1999 (Indonesia Tera, 2001)

Analisis Puisi:

Puisi "Habib" karya Zeffry J. Alkatiri merupakan puisi naratif yang mengangkat kehidupan komunitas Arab-Hadrami di Betawi. Terdiri atas lima bagian, puisi ini menghadirkan perjalanan hidup seorang habib, mulai dari kedatangannya dari tanah Arab, aktivitas dakwahnya di Nusantara, hingga akhir hayatnya.

Dengan memadukan diksi Arab, Melayu Betawi, dan bahasa Indonesia, penyair menghadirkan suasana budaya yang khas. Selain menjadi potret kehidupan seorang ulama, puisi ini juga menjadi catatan sejarah tentang perjumpaan budaya Arab dan Betawi serta peran para habib dalam perkembangan kehidupan sosial dan keagamaan di Indonesia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pengabdian seorang ulama, kehidupan diaspora Arab di Betawi, dakwah Islam, dan perjalanan hidup manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kerinduan terhadap tanah kelahiran, identitas budaya, pengabdian kepada masyarakat, serta kefanaan hidup.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang habib yang meninggalkan tanah kelahirannya di Aden menuju Betawi pada usia muda. Setelah menetap di Nusantara, ia mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan ajaran Islam melalui pengajaran hadis dan fikih, membangun madrasah, serta membimbing masyarakat.

Di tengah aktivitas dakwahnya, penyair juga menggambarkan kehidupan masyarakat Kampung Arab di Betawi dengan berbagai kebiasaan, tradisi, dan kondisi sosial yang mereka alami. Meskipun telah puluhan tahun mengabdi, sang habib tetap menyimpan kerinduan untuk kembali ke tanah suci dan kampung halamannya.

Pada bagian akhir puisi, kehidupan sang habib berakhir dengan tenang menjelang waktu Maghrib. Tasbih yang terlepas dari tangannya menjadi simbol berakhirnya perjalanan hidup seorang ulama yang telah mengabdikan dirinya kepada agama dan masyarakat.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan manusia merupakan perjalanan pengabdian yang pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

Selain itu, puisi ini menyiratkan beberapa pesan penting, yaitu:
  • Seorang pendidik meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada harta benda.
  • Identitas budaya dapat tetap terjaga meskipun seseorang hidup jauh dari tanah kelahirannya.
  • Dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi juga melalui keteladanan hidup.
  • Kerinduan terhadap kampung halaman merupakan bagian alami dari perjalanan seorang perantau.
  • Kematian adalah akhir yang pasti bagi setiap manusia, sehingga kehidupan hendaknya diisi dengan amal yang bermanfaat.
Puisi ini juga dapat dibaca sebagai penghormatan terhadap kontribusi komunitas Arab-Hadrami dalam perkembangan pendidikan Islam dan kehidupan masyarakat Betawi.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, yaitu:
  • Jadikan ilmu sebagai bekal utama dalam mengabdi kepada masyarakat.
  • Lestarikan nilai-nilai agama dan budaya dengan penuh ketulusan.
  • Pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas akan terus dikenang meskipun pelakunya telah tiada.
  • Jangan melupakan asal-usul dan identitas budaya sendiri.
  • Gunakan kehidupan untuk menebarkan manfaat bagi sesama sebelum datangnya kematian.
Amanat utama puisi ini adalah bahwa kehidupan yang paling bermakna adalah kehidupan yang dipersembahkan untuk mengabdi, mengajarkan kebaikan, dan meninggalkan warisan ilmu bagi generasi berikutnya.

Puisi "Habib" karya Zeffry J. Alkatiri merupakan puisi naratif yang memadukan sejarah, budaya, dan religiusitas dalam kisah kehidupan seorang habib di tanah Betawi. Melalui penggambaran yang kaya akan detail budaya Arab-Hadrami, penyair menghadirkan sosok ulama yang mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan ilmu agama, membina masyarakat, dan mempertahankan identitas budayanya di negeri perantauan.

Puisi ini tidak hanya menjadi penghormatan terhadap seorang habib, tetapi juga menjadi refleksi tentang makna pengabdian, kerinduan akan kampung halaman, dan kefanaan hidup. Karya ini mengajak pembaca menghargai warisan ilmu, budaya, dan keteladanan yang ditinggalkan oleh para pendahulu.

Zeffry J. Alkatiri
Puisi: Habib
Karya: Zeffry J. Alkatiri
© Sepenuhnya. All rights reserved.