Puisi: Hari Naas Bulan Naas (Karya F. Rahardi)

Puisi "Hari Naas Bulan Naas" karya F. Rahardi merupakan kritik sosial yang menolak anggapan bahwa kesialan berasal dari hari atau waktu tertentu.
Hari Naas Bulan Naas

pada hari naas bulan naas pada
tanggal buruk tahun buruk dikumpulkanlah
genderang-genderang dan palu-palu
dan ditiuplah para terompet
terompet-terompet yang manis menabuh
mulut-mulut
mulut buruk mulut jahat mulut kotor
ditabuh dipukuli dan ditiup-tiup
para terompet
genderang-genderang dan palu-palu
gemuruh berbaris
menabuh-nabuh tangan
tangan panjang tangan jahil tangan lancang
ditabuh dan dipukuli
para palu dan genderang dan terompet
gemuruh memperingati
hari-hari naas bulan-bulan naas
tanggal buruk dan tahun buruk.

1975

Sumber: Horison (Juli, 1978)

Analisis Puisi:

Puisi "Hari Naas Bulan Naas" karya F. Rahardi merupakan puisi yang bernuansa kritik sosial. Melalui pengulangan kata-kata dan simbol-simbol seperti genderang, palu, serta terompet, penyair menggambarkan suasana yang gaduh sebagai respons terhadap berbagai perilaku buruk manusia. Alih-alih membahas kesialan sebagai sesuatu yang bersifat mistis, puisi ini justru menyoroti tindakan manusia yang menjadi penyebab hadirnya "hari naas" dalam kehidupan.

Pilihan diksi yang repetitif menciptakan irama yang menyerupai bunyi tabuhan dan tiupan alat musik. Efek tersebut memperkuat kesan bahwa puisi ini adalah sebuah peringatan keras terhadap keburukan yang terus berulang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap perilaku buruk manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang tanggung jawab moral, akibat dari tindakan manusia, serta peringatan terhadap kebiasaan buruk yang dapat membawa kesengsaraan.

Puisi ini bercerita tentang sebuah suasana yang dipenuhi bunyi genderang, palu, dan terompet yang seolah dikumpulkan untuk memperingati hari-hari yang penuh kesialan.

Namun, semakin jauh puisi berkembang, tampak bahwa yang menjadi sasaran bukanlah waktu atau tanggal tertentu, melainkan perilaku manusia.

Penyair menyebut:

"mulut buruk mulut jahat mulut kotor"

dan

"tangan panjang tangan jahil tangan lancang"

Ungkapan tersebut mengacu pada berbagai perilaku negatif, seperti berkata kasar, menyebarkan kebencian, mencuri, berbuat usil, atau bertindak semena-mena.

Melalui simbol tabuhan genderang dan palu, penyair menggambarkan adanya teguran atau hukuman moral terhadap perilaku-perilaku tersebut. Pada akhirnya, "hari naas" bukanlah semata-mata karena waktu tertentu, melainkan akibat dari tindakan manusia sendiri.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kesialan sering kali lahir dari perilaku manusia, bukan dari hari, bulan, atau tahun tertentu.

Penyair mengkritik anggapan yang menghubungkan nasib buruk dengan waktu, padahal sumber utama persoalan justru berasal dari ucapan, tindakan, dan sikap manusia.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa keburukan yang dilakukan secara terus-menerus akan menciptakan suasana yang penuh kekacauan dan penderitaan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Jangan menyalahkan waktu atau nasib atas kesulitan yang terjadi jika penyebabnya berasal dari perilaku sendiri.
  • Jagalah ucapan karena mulut dapat menjadi sumber kebaikan maupun keburukan.
  • Gunakan tangan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, bukan tindakan yang merugikan orang lain.
  • Introspeksi diri lebih penting daripada mempercayai mitos tentang hari atau waktu yang dianggap membawa sial.
  • Kehidupan yang baik dibangun melalui sikap dan tindakan yang bertanggung jawab.
Puisi "Hari Naas Bulan Naas" karya F. Rahardi merupakan puisi kritik sosial yang menolak anggapan bahwa kesialan berasal dari hari atau waktu tertentu. Sebaliknya, penyair menegaskan bahwa sumber utama "hari naas" adalah ucapan dan tindakan manusia sendiri. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih bijaksana dalam berkata dan bertindak agar tidak menciptakan "hari naas" bagi diri sendiri maupun orang lain.

Floribertus Rahardi
Puisi: Hari Naas Bulan Naas
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.