Ia yang Memanggil Namaku
Ia yang memanggil namaku
datangnya bagai dari pucuk cemara
bergaunglah suaranya
setelah semenjak lama
aku tak mengenal dan tak mendengarkannya.
Ia yang memanggil namaku
datangnya memang dari pusat dada
setelah semenjak lama
aku hilang dalam rimba dengan musuhmu sebagai kawan setia.
1972
Sumber: Horison (Maret, 1975)
Analisis Puisi:
Puisi "Ia yang Memanggil Namaku" karya Adri Darmadji Woko merupakan puisi reflektif bernuansa spiritual yang mengisahkan pengalaman batin seseorang ketika kembali mendengar "panggilan" setelah sekian lama tersesat dalam perjalanan hidup. Penyair menghadirkan pergulatan antara keterasingan, kesadaran diri, dan kerinduan untuk kembali kepada jalan yang benar.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesadaran spiritual, panggilan hati, dan proses kembali menemukan jalan yang benar setelah mengalami keterasingan batin. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang introspeksi, penyesalan, pencarian jati diri, serta harapan untuk memperoleh kembali kedamaian dalam hidup.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa setiap manusia memiliki suara nurani atau panggilan menuju kebaikan yang mungkin terlupakan, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.
Ungkapan "datangnya memang dari pusat dada" menunjukkan bahwa kebenaran sejati tidak hanya datang dari luar, melainkan juga tumbuh dari kesadaran batin. Ketika seseorang mulai mendengarkan suara hatinya, ia akan menyadari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.
Sementara itu, ungkapan "hilang dalam rimba dengan musuhmu sebagai kawan setia" menyiratkan keadaan ketika manusia terjebak dalam godaan, kesesatan, atau nilai-nilai yang menjauhkan dirinya dari kebenaran. Rimba melambangkan kebingungan hidup, sedangkan "musuhmu" dapat dimaknai sebagai hawa nafsu, keburukan, atau segala sesuatu yang menghalangi manusia dari jalan yang benar.
Puisi ini mengajarkan bahwa pintu untuk kembali selalu terbuka selama seseorang masih mau mendengarkan suara nuraninya.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah:
- Jangan mengabaikan suara hati yang mengajak kepada kebaikan.
- Introspeksi diri merupakan langkah awal untuk menemukan kembali arah kehidupan.
- Kesalahan masa lalu tidak menutup kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar.
- Manusia hendaknya berhati-hati agar tidak menjadikan keburukan sebagai kebiasaan atau sahabat.
- Kedamaian sejati lahir ketika seseorang berani mendengarkan panggilan nuraninya.
Puisi ini mengingatkan bahwa perjalanan hidup sering kali dipenuhi godaan, tetapi selalu ada kesempatan untuk kembali kepada nilai-nilai kebenaran.
Puisi "Ia yang Memanggil Namaku" karya Adri Darmadji Woko merupakan puisi reflektif yang menggambarkan perjalanan batin seseorang dalam menemukan kembali suara kebenaran setelah lama tersesat. Dengan simbol-simbol seperti pucuk cemara, rimba, pusat dada, dan panggilan nama, penyair menghadirkan kisah tentang kesadaran diri, penyesalan, serta harapan untuk kembali kepada jalan yang benar.
Keindahan puisi ini terletak pada kesederhanaan bahasanya yang mampu menghadirkan makna mendalam mengenai hubungan manusia dengan hati nurani, bahkan—dalam pembacaan religius—dengan Tuhan yang senantiasa memanggil hamba-Nya untuk kembali.
Karya: Adri Darmadji Woko
Biodata Adri Darmadji Woko:
- Adri Darmadji Woko lahir pada tanggal 28 Juni 1951 di Yogyakarta.
