Inakke
Kutunggu apalagi
"Tenamo Takammana"
(yang mau jadi, jadilah)
Bikin jalan sendiri
Dan tempuh!
Jika laut bertaring,
menganga
"Pasiamaki tallasaka
ra Matea"
(satukan hidup dengan mati)
Ini jalan, semata
menuju
Allah
2007
Sumber: Jalan Menuju Jalan (2007)
Catatan:
Inakke: saya
Analisis Puisi:
Puisi "Inakke" karya Rahman Arge merupakan puisi pendek yang sarat dengan semangat keberanian, keteguhan, dan kepasrahan kepada Tuhan. Meskipun hanya terdiri atas beberapa larik, puisi ini menyampaikan pesan yang kuat tentang tekad seseorang untuk menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan.
Judul "Inakke", yang berarti "saya", menunjukkan bahwa puisi ini merupakan pernyataan sikap seorang individu. Penyair berbicara atas nama dirinya sendiri, mengungkapkan keberanian untuk menentukan jalan hidup sekaligus menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keteguhan hati, keberanian menghadapi kehidupan, dan kepasrahan kepada Allah. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang perjuangan, kemandirian, dan keyakinan bahwa setiap perjalanan hidup pada akhirnya bermuara kepada Sang Pencipta.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang telah mantap menentukan sikap dalam menjalani kehidupannya. Ia tidak lagi ragu menunggu keadaan berubah, melainkan memilih untuk menciptakan jalannya sendiri.
Semangat itu tampak pada larik:
"Bikin jalan sendiriDan tempuh!"
Ungkapan tersebut menggambarkan keberanian untuk bertindak dan tidak bergantung pada orang lain.
Puisi kemudian menghadirkan gambaran tentang berbagai tantangan hidup melalui simbol laut yang bertaring dan menganga. Walaupun perjalanan penuh bahaya, penyair tetap berpegang pada falsafah:
"Pasiamaki tallasaka ra Matea"
yang berarti "satukan hidup dengan mati." Ungkapan ini mengandung ajaran tentang kesiapan menghadapi segala risiko dalam memperjuangkan kebenaran dan tujuan hidup.
Pada akhirnya, penyair menegaskan bahwa seluruh perjalanan tersebut hanyalah jalan menuju Allah.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan menuntut keberanian untuk mengambil keputusan, menghadapi risiko, dan tetap percaya kepada Tuhan sebagai tujuan akhir perjalanan manusia.
Ungkapan:
"Tenamo Takammana"
atau "yang mau jadi, jadilah" bukan berarti menyerah pada keadaan. Dalam konteks puisi, kalimat tersebut lebih tepat dipahami sebagai sikap menerima kenyataan setelah berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Manusia tidak dapat mengendalikan seluruh hasil, tetapi dapat memilih untuk tetap melangkah dengan keyakinan.
Larik:
"Jika laut bertaring, / menganga"
melambangkan berbagai ujian, ancaman, atau kesulitan yang harus dihadapi.
Sementara itu, ungkapan:
"satukan hidup dengan mati"
bukan dimaksudkan sebagai ajakan untuk mencari kematian, melainkan simbol kesiapan total dalam menjalani perjuangan. Maknanya adalah seseorang hendaknya memiliki keberanian dan komitmen penuh terhadap nilai-nilai yang diyakininya, meskipun harus menghadapi risiko besar.
Penutup:
"Ini jalan, semata / menuju / Allah"
menegaskan bahwa seluruh perjuangan hidup pada akhirnya bermuara kepada Tuhan. Segala usaha, cobaan, dan keberhasilan memperoleh makna ketika diarahkan sebagai bentuk pengabdian kepada-Nya.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Puisi ini mengandung beberapa pesan penting, yaitu:
- Jangan takut menentukan jalan hidup sendiri selama berada dalam kebenaran.
- Hadapilah tantangan dengan keberanian dan keteguhan hati.
- Setelah berusaha secara maksimal, terimalah hasil dengan lapang dada.
- Bersiaplah menghadapi risiko dalam memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini.
- Jadikan seluruh perjalanan hidup sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.
Puisi "Inakke" karya Rahman Arge merupakan pernyataan sikap seorang individu yang memilih menjalani kehidupan dengan keberanian, kemandirian, dan keimanan. Penyair menghadirkan refleksi bahwa hidup adalah perjalanan yang menuntut tekad, kesiapan menghadapi berbagai ujian, serta kepasrahan kepada Allah sebagai tujuan akhir.
Puisi ini tidak hanya mencerminkan nilai-nilai budaya Bugis-Makassar, tetapi juga menyampaikan pesan universal bahwa keberanian dan keteguhan akan memperoleh makna sejati ketika dilandasi iman dan pengabdian kepada Tuhan.
Puisi: Inakke
Karya: Rahman Arge
Biodata Rahman Arge:
- Rahman Arge (Abdul Rahman Gega) lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 17 Juli 1935.
- Rahman Arge meninggal dunia pada tanggal 10 Agustus 2015 (pada usia 80).
- Edjaan Tempo Doeloe: Rachman Arge.