Jalan Setapak
Berapa puluh tahun sawah dan pekarangan menghidupi keluarga
simbah dan cucu menikmati hasil bumi
mengukur jarak dari dukuh ke pasar kecamatan
memanggul beras dan palawija
memberi bekal rupiah untuk anak-anak pergi merantau
jadilah transmigran atau mengubah nasib di mancanegara
Sawah tinggal sedikit memberi hasil
bakal berubah menjadi lahan non-pertanian
siapa boleh menyiangi, menugal, menandur, menuai
siapa menghalangi didirikan pabrik atau apartemen
membuat takjub sebagai pusat industri
sementara engkau hanya melihat dari kejauhan
Melewati jalan setapak pematang
begitulah membuat hati memilukan
sebentar lagi sawah-sawah menghilang
Entah kapan saya akan kembali di sini pulang
sampai waktu berganti dan pergi meninggalkan
desau angin di padi bunting memerah menguning
Sumber: Sanghyang Jaran (2017)
Analisis Puisi:
Puisi "Jalan Setapak" karya Adri Darmadji Woko merupakan puisi yang mengangkat persoalan perubahan sosial dan lingkungan pedesaan akibat alih fungsi lahan pertanian. Melalui gambaran sebuah jalan setapak di pematang sawah, penyair menghadirkan kenangan tentang kehidupan agraris yang perlahan memudar karena modernisasi dan pembangunan. Jalan setapak menjadi simbol perjalanan hidup, sejarah keluarga, sekaligus saksi perubahan zaman.
Puisi ini tidak hanya berbicara tentang hilangnya sawah, tetapi juga tentang hilangnya identitas, tradisi, dan hubungan emosional masyarakat dengan tanah yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kehidupan. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, penyair mengajak pembaca merenungkan harga yang harus dibayar ketika pembangunan menggeser ruang-ruang kehidupan masyarakat desa.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perubahan kehidupan pedesaan akibat alih fungsi lahan pertanian serta kerinduan terhadap kampung halaman. Selain tema utama tersebut, puisi ini juga mengangkat beberapa tema pendukung, yaitu:
- Kehidupan agraris.
- Modernisasi dan industrialisasi.
- Kenangan masa lalu.
- Hubungan manusia dengan tanah.
- Kerinduan akan kampung halaman.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan sebuah keluarga yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup pada sawah dan hasil pertanian. Sawah menjadi sumber penghidupan, tempat mencari nafkah, sekaligus sarana membesarkan anak-anak hingga mereka mampu merantau untuk memperbaiki kehidupan.
Namun, keadaan berubah. Sawah yang dahulu subur kini semakin sedikit dan terancam beralih fungsi menjadi kawasan industri, pabrik, atau apartemen. Aktivitas bertani yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat perlahan menghilang, tergantikan oleh pembangunan yang mengubah wajah desa.
Penyair kemudian berjalan melewati jalan setapak di pematang sawah. Jalan itu membangkitkan kesedihan karena sebentar lagi sawah-sawah yang dikenalnya akan lenyap. Pada bagian akhir, muncul kerinduan untuk kembali pulang suatu hari nanti, meskipun ia menyadari bahwa waktu terus berjalan dan mungkin hanya kenangan tentang hamparan padi yang akan tersisa.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa pembangunan yang tidak memperhatikan kelestarian lahan pertanian dapat menghilangkan identitas budaya, mata pencaharian, dan kenangan kolektif masyarakat. Selain itu, puisi ini juga mengandung beberapa makna lain, yaitu:
- Sawah bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga bagian dari sejarah keluarga.
- Kemajuan seharusnya tidak mengorbankan keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.
- Kampung halaman selalu memiliki ikatan emosional yang sulit tergantikan.
- Waktu membawa perubahan yang terkadang tidak dapat dihindari.
- Manusia perlu menghargai warisan alam dan budaya sebelum semuanya benar-benar hilang.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Jagalah lahan pertanian sebagai sumber kehidupan dan warisan budaya.
- Pembangunan hendaknya memperhatikan keseimbangan dengan kelestarian lingkungan.
- Hargailah jasa para petani yang telah menyediakan kebutuhan pangan masyarakat.
- Jangan melupakan kampung halaman dan akar kehidupan.
- Peliharalah alam agar generasi mendatang masih dapat menikmati keindahan dan manfaatnya.
Puisi "Jalan Setapak" karya Adri Darmadji Woko merupakan puisi yang merekam perubahan kehidupan pedesaan akibat berkurangnya lahan pertanian dan berkembangnya kawasan industri. Melalui simbol jalan setapak dan sawah, penyair menghadirkan refleksi tentang pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam, tanah, dan kampung halaman.
Puisi ini mengingatkan bahwa kemajuan akan kehilangan maknanya apabila harus dibayar dengan lenyapnya ruang hidup, tradisi, dan kenangan yang telah menghidupi banyak generasi.
Karya: Adri Darmadji Woko
Biodata Adri Darmadji Woko:
- Adri Darmadji Woko lahir pada tanggal 28 Juni 1951 di Yogyakarta.
