Puisi: Jalan Setapak (Karya Dodong Djiwapradja)

Puisi "Jalan Setapak" karya Dodong Djiwapradja menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan yang sederhana, dekat dengan alam, dan penuh rasa syukur.
Jalan Setapak

Jalan setapak,
Becek-becek ke pegunungan
Tanda kampungku berpagar bambu
Kambing dan kerbau, sawahku tujuh bidang
Kebun temurun dari bapakku

Inikah anugerah dari Tuhan
Pada bapak dan ibu suci beriman
Tuan katakan, jalan ini becek setapak?
Mengalas batu mencabut rumput
Pada tanah berbambu dan berhutan kayu
Seekor burung lagi bernyanyi

Jalan setapak,
Tempat bapak pergi membajak
Kusilangkan garis di tanah simpangan dua
Bapakku ahli membajak
Aku anaknya membikin sajak.

1948

Sumber: Apresiasi Sastra (Elmatera, 2014)

Analisis Puisi:

Puisi "Jalan Setapak" karya Dodong Djiwapradja menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan yang sederhana, dekat dengan alam, dan penuh rasa syukur. Melalui citraan tentang jalan setapak, sawah, kebun, serta sosok ayah yang bekerja sebagai petani, penyair menghadirkan kenangan sekaligus penghormatan terhadap asal-usul dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan keluarga.

Dengan bahasa yang lugas namun puitis, puisi ini menunjukkan bahwa kesederhanaan bukanlah kekurangan, melainkan sumber kebanggaan dan inspirasi. Jalan setapak yang becek menjadi simbol perjalanan hidup yang membentuk karakter seseorang hingga akhirnya mampu berkarya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan pedesaan, rasa syukur, serta penghormatan terhadap orang tua dan warisan kehidupan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang hubungan manusia dengan alam, identitas diri, kerja keras, dan keberlanjutan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang kampung halamannya dengan jalan setapak yang becek menuju pegunungan. Kampung tersebut dipenuhi pagar bambu, sawah, kebun warisan keluarga, serta kehidupan yang sederhana namun penuh makna.

Penyair memandang semua itu sebagai anugerah Tuhan yang diberikan kepada kedua orang tuanya yang beriman. Jalan setapak bukan hanya menjadi akses menuju ladang, tetapi juga menjadi saksi perjuangan sang ayah yang setiap hari pergi membajak sawah.

Di akhir puisi, penyair menghadirkan perbandingan yang indah antara ayah dan anak. Jika sang ayah mahir membajak tanah untuk menghasilkan kehidupan, maka sang anak membajak kata-kata dengan menciptakan sajak. Dengan demikian, puisi ini memperlihatkan bahwa setiap generasi dapat meneruskan warisan keluarga melalui cara yang berbeda.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa keberhasilan seseorang tidak terlepas dari akar kehidupan dan perjuangan orang tuanya. Kesederhanaan kampung halaman menjadi fondasi yang membentuk karakter, cara berpikir, dan kreativitas seseorang.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa pekerjaan apa pun memiliki nilai yang mulia. Membajak sawah dan menulis puisi sama-sama merupakan bentuk pengabdian kepada kehidupan, meskipun diwujudkan melalui bidang yang berbeda.

Selain itu, jalan setapak dapat dimaknai sebagai simbol perjalanan hidup yang mungkin tidak mudah, tetapi justru mengantarkan manusia menuju kedewasaan dan jati dirinya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Bersyukurlah atas kehidupan sederhana yang telah membentuk diri kita.
  • Hormatilah perjuangan orang tua karena dari merekalah lahir kesempatan bagi anak-anaknya untuk berkembang.
  • Jangan melupakan kampung halaman dan akar kehidupan.
  • Setiap profesi memiliki kemuliaannya masing-masing jika dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
  • Warisan terbaik orang tua bukan hanya harta, tetapi juga nilai-nilai kerja keras, kejujuran, dan ketekunan.
Puisi "Jalan Setapak" karya Dodong Djiwapradja merupakan ungkapan cinta terhadap kampung halaman, penghormatan kepada orang tua, dan rasa syukur atas kehidupan sederhana yang menjadi dasar pembentukan jati diri. Melalui gambaran jalan setapak, sawah, kebun, dan sosok ayah yang bekerja sebagai petani, penyair menunjukkan bahwa nilai kehidupan tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari ketulusan, kerja keras, dan warisan moral yang diteruskan kepada generasi berikutnya.

Puisi ini mengingatkan bahwa setiap langkah dalam kehidupan, sekecil apa pun, dapat menjadi jalan menuju lahirnya karya dan penghormatan kepada asal-usul kita.
Dodong Djiwapradja
Puisi: Jalan Setapak
Karya: Dodong Djiwapradja
    Biodata Dodong Djiwapradja:
    • Dodong Djiwapradja lahir di Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 25 September 1928.
    • Dodong Djiwapradja meninggal dunia pada tanggal 23 Juli 2009.
    © Sepenuhnya. All rights reserved.