Puisi: Jalan Setapak (Karya Iswadi Pratama)

Puisi "Jalan Setapak" karya Iswadi Pratama menyiratkan kritik terhadap cara pandang masyarakat yang sering melihat suatu tempat hanya dari ...
Jalan Setapak

Engkau jalan setapak di pinggiran tanjungkarang
meliuk di pinggang bukit, lempang di landai pantai
rumpang-lusuh di kampung kumuh

di minggu pagi,
orang-orang, sebagian kecil orang di kota ini
merayakan akhir pekan, melintasimu sambil menduga-duga

seberapa dekat ujungmu pada tanjung
seberapa hampir tubirmu pada pasir
seberapa hirap harapmu pada lanskap

tapi bagi para peronce perih
engkau tak lain rima di runcing lidah
syair yang gampang menggerung getir

umpama buku, sampul mereka kuning belaka
terlalu ricuh pada sandi sebab takut terduga
bila luka, merah mereka meriah rona

maka datang lagi aku ketika mereka lelah-jemu
di hari-hari sibuk, di terik tarikh
mengetam kerak ngilu di sekujurmu

engkau jalan setapak yang mengantarku
ke hutan di pinggiran tanjungkarang
hutan yang belum pernah mereka temukan

1 Agustus 2012

Sumber: Harakah Baru (Nuansa Cendekia, 2015)

Analisis Puisi:

Puisi "Jalan Setapak" karya Iswadi Pratama merupakan puisi reflektif yang memadukan lanskap alam dengan realitas sosial. Melalui simbol jalan setapak, penyair tidak hanya menggambarkan sebuah jalur fisik di pinggiran Tanjungkarang, tetapi juga menghadirkan makna tentang perjalanan hidup, kesenjangan cara pandang, serta kedekatan seseorang dengan ruang yang sering diabaikan oleh orang lain.

Dengan pilihan diksi yang kaya dan puitis, puisi ini mengajak pembaca melihat bahwa tempat yang tampak sederhana dapat menyimpan cerita, penderitaan, dan makna yang tidak selalu dipahami oleh semua orang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup dan perbedaan cara manusia memaknai sebuah tempat serta realitas sosial. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kepedulian terhadap masyarakat kecil, hubungan manusia dengan alam, dan pencarian makna di balik hal-hal yang sederhana.

Puisi ini bercerita tentang sebuah jalan setapak di pinggiran Tanjungkarang yang memiliki makna berbeda bagi setiap orang.

Pada bagian awal, penyair melukiskan bentuk jalan tersebut.

"Engkau jalan setapak di pinggiran tanjungkarang
meliuk di pinggang bukit, lempang di landai pantai
rumpang-lusuh di kampung kumuh."

Jalan setapak digambarkan melintasi berbagai bentang alam dan kawasan permukiman yang sederhana. Gambaran ini menunjukkan bahwa jalan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Selanjutnya, penyair menggambarkan bagaimana sebagian orang memandang jalan itu.

"di minggu pagi,
orang-orang...
melintasimu sambil menduga-duga."

Bagi para pengunjung atau masyarakat kota, jalan itu hanya menjadi objek wisata atau tempat untuk memenuhi rasa ingin tahu.

Namun, maknanya berbeda bagi mereka yang hidup dalam kesulitan.

"tapi bagi para peronce perih
engkau tak lain rima di runcing lidah
syair yang gampang menggerung getir."

Di sini, jalan setapak menjadi bagian dari perjuangan hidup masyarakat kecil. Ia bukan sekadar jalur, tetapi saksi penderitaan dan kerja keras.

Pada bagian akhir, penyair kembali menyusuri jalan tersebut.

"engkau jalan setapak yang mengantarku
ke hutan di pinggiran tanjungkarang
hutan yang belum pernah mereka temukan."

"Hutan" dalam penutup puisi dapat dimaknai sebagai ruang batin, kebenaran, atau pengalaman hidup yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang benar-benar menyelaminya.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa setiap tempat memiliki nilai yang berbeda bergantung pada pengalaman orang yang menjalaninya.

Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap cara pandang masyarakat yang sering melihat suatu tempat hanya dari permukaannya, tanpa memahami kehidupan orang-orang yang menggantungkan harapan di sana.

Selain itu, "jalan setapak" menjadi simbol perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan, alam, dan kemanusiaan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Jangan menilai sesuatu hanya dari penampilannya.
  • Hargailah pengalaman hidup masyarakat kecil yang sering luput dari perhatian.
  • Setiap perjalanan dapat membawa manusia pada pemahaman yang lebih dalam.
  • Alam dan lingkungan menyimpan banyak pelajaran bagi mereka yang mau memperhatikannya.
  • Kepedulian dan kepekaan sosial akan membuka sudut pandang yang lebih luas terhadap kehidupan.
Puisi "Jalan Setapak" karya Iswadi Pratama merupakan puisi reflektif yang mengangkat makna perjalanan hidup melalui simbol sebuah jalan kecil di pinggiran Tanjungkarang. Jalan tersebut bukan sekadar jalur fisik, tetapi juga menjadi lambang perjuangan, harapan, dan kedalaman pengalaman yang tidak selalu dipahami oleh setiap orang. Puisi ini mengajak pembaca menyadari bahwa makna terbesar sering tersembunyi di tempat-tempat yang tampak sederhana dan luput dari perhatian.

Iswadi Pratama
Puisi: Jalan Setapak
Karya: Iswadi Pratama

Biodata Iswadi Pratama:
  • Iswadi Pratama lahir pada tanggal 8 April 1971 di Tanjungkarang, Bandar Lampung, Lampung, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.