Puisi: Keduniawian (Karya Mohammad Diponegoro)

Puisi "Keduniawian" karya Mohammad Diponegoro merupakan puitisasi yang menghadirkan pesan utama Surah At-Takatsur, yakni peringatan agar manusia ...
Keduniawian
(Puitisasi terjemahan al-Qur’an: At-Takasur)

Telah alpa kalian karena lomba keduniawian
tiada keputusan hingga menjelang mati
tegahlah! Nanti kalian akan mengerti
tegahlah! Segerah kalian akan mengerti
tegahlah! Jika kalian tahu pasti
akan tampak padamu neraka Jahim
kausaksikan dia dengan mata yakin
lalu padamu akan diperhitungkan
tentang nikmat telah kaukecap

Sumber: Kabar dari Langit (1988)

Analisis Puisi:

Puisi "Keduniawian" karya Mohammad Diponegoro merupakan puitisasi terjemahan dari Surah At-Takatsur dalam Al-Qur'an. Puisi ini menyampaikan peringatan yang tegas mengenai kecenderungan manusia untuk berlomba-lomba mengejar kenikmatan dunia hingga melupakan tujuan hidup yang sesungguhnya. Dengan bahasa yang padat dan penuh penegasan, penyair mempertahankan pesan utama surah tersebut, yaitu agar manusia tidak terlena oleh kekayaan, jabatan, dan berbagai bentuk kemegahan duniawi.

Melalui rangkaian peringatan tentang kematian, Hari Perhitungan, dan pertanggungjawaban atas nikmat yang telah diberikan Allah, puisi ini mengajak pembaca melakukan introspeksi terhadap orientasi hidupnya. Pesan yang disampaikan tidak hanya bersifat religius, tetapi juga mengandung nilai moral yang relevan bagi kehidupan modern yang sering diwarnai persaingan material.

Tema

Tema utama puisi ini adalah peringatan terhadap sikap berlebihan dalam mengejar kenikmatan dunia serta pentingnya kesadaran akan kehidupan akhirat. Tema-tema pendukung yang turut hadir dalam puisi ini meliputi:
  • Keterlenaan manusia terhadap dunia.
  • Kepastian datangnya kematian.
  • Hari pembalasan dan pertanggungjawaban.
  • Kesadaran spiritual.
  • Rasa syukur atas nikmat Tuhan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kesuksesan dunia bukanlah tujuan akhir kehidupan apabila membuat manusia melupakan tanggung jawab kepada Tuhan. Selain itu, puisi ini juga mengandung beberapa makna lain, yaitu:
  • Harta dan kedudukan bersifat sementara.
  • Kematian mengakhiri seluruh persaingan duniawi.
  • Setiap nikmat merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
  • Kesadaran spiritual hendaknya dibangun sebelum datang penyesalan.
  • Kehidupan akhirat merupakan kenyataan yang harus dipersiapkan sejak di dunia.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Jangan menjadikan harta dan kemewahan sebagai tujuan utama hidup.
  • Ingatlah bahwa kematian akan datang kepada setiap manusia.
  • Gunakan nikmat yang diberikan Tuhan untuk kebaikan.
  • Persiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat dengan memperbanyak amal saleh.
  • Lakukan introspeksi sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi berguna.
  • Syukurilah setiap nikmat melalui tindakan yang sesuai dengan ajaran agama.
Puisi "Keduniawian" karya Mohammad Diponegoro merupakan puitisasi yang menghadirkan pesan utama Surah At-Takatsur, yakni peringatan agar manusia tidak terlena oleh persaingan mengejar kehidupan dunia hingga melupakan kehidupan akhirat. Dengan bahasa yang singkat namun penuh daya tekan, puisi ini mengingatkan bahwa seluruh kenikmatan dunia bersifat sementara dan pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Puisi ini mengajak pembaca untuk menata kembali orientasi hidupnya. Pesan utamanya adalah bahwa harta, kedudukan, dan segala kenikmatan dunia hendaknya menjadi sarana untuk berbuat kebaikan, bukan tujuan yang melalaikan manusia dari tanggung jawab kepada Tuhan.

Puisi: Keduniawian
Puisi: Keduniawian
Karya: Mohammad Diponegoro

Biodata Mohammad Diponegoro:
  • Mohammad Diponegoro lahir di Yogyakarta, pada tanggal 28 Juni 1928.
  • Mohammad Diponegoro meninggal dunia di Yogyakarta, pada tanggal 9 Mei 1982 (pada usia 53 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.