Puisi: Kelak Kemudian Hari (Karya F. Rahardi)

Puisi "Kelak Kemudian Hari" karya F. Rahardi mengangkat tema tentang ironi kehidupan, kemunafikan, serta refleksi mengenai makna iman yang ...
Kelak Kemudian Hari

laki-laki dan perempuan ditanyai
laki-laki dan perempuan diuji
namanya siapa
beragama apa
nabinya bagaimana
laki-laki dan perempuan yang lulus
direbus
laki-laki dan perempuan yang tidak lulus
dibakar
dibakar sukmanya
sampai masak
kuning dan enak.

1975

Sumber: Horison (Mei, 1979)

Analisis Puisi:

Puisi "Kelak Kemudian Hari" karya F. Rahardi merupakan puisi satiris yang memadukan unsur religius, kritik sosial, dan ironi. Dengan gaya bahasa yang singkat, lugas, tetapi penuh sindiran, penyair mengajak pembaca merenungkan bagaimana manusia memahami kehidupan setelah kematian, proses penghakiman, serta kecenderungan sebagian orang menyederhanakan persoalan keimanan hanya pada identitas formal.

Larik-larik dalam puisi ini sengaja disusun dengan kesan absurd pada bagian akhir. Justru melalui absurditas itulah penyair menghadirkan kritik yang tajam terhadap cara berpikir yang dangkal dan kecenderungan manusia menghakimi sesamanya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan setelah kematian, penghakiman manusia, dan kritik terhadap pemahaman keagamaan yang bersifat formalistik. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang ironi kehidupan, kemunafikan, serta refleksi mengenai makna iman yang sesungguhnya.

Puisi ini bercerita tentang laki-laki dan perempuan yang, setelah kehidupan berakhir, menghadapi proses pertanyaan dan ujian mengenai identitas serta keyakinan mereka.

Puisi dibuka dengan larik:

"laki-laki dan perempuan ditanyai
laki-laki dan perempuan diuji."

Bagian ini menggambarkan situasi penghakiman yang mengingatkan pada keyakinan tentang kehidupan setelah kematian.

Selanjutnya muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar.

"namanya siapa
beragama apa
nabinya bagaimana."

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa identitas keagamaan menjadi fokus utama. Namun, penyair tampaknya ingin mengajak pembaca mempertanyakan apakah iman cukup diukur hanya melalui identitas formal.

Bagian berikutnya menghadirkan ironi.

"laki-laki dan perempuan yang lulus
direbus."

Sementara itu:

"laki-laki dan perempuan yang tidak lulus
dibakar."

Puncak ironi muncul pada penutup.

"dibakar sukmanya
sampai masak
kuning dan enak."

Ungkapan tersebut jelas bukan gambaran harfiah, melainkan sindiran yang memperlihatkan absurditas cara manusia membayangkan hukuman atau bahkan mempermainkan persoalan yang sangat serius.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa manusia sering kali terlalu sibuk memperdebatkan identitas lahiriah, sementara nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan kualitas keimanan justru terabaikan.

Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap kecenderungan menghakimi orang lain berdasarkan label agama atau kelompok, seolah-olah keselamatan dapat dipastikan hanya melalui identitas tersebut.

Bagian akhir yang bernada satiris mengingatkan pembaca agar tidak memandang persoalan kehidupan setelah kematian secara dangkal atau sekadar menjadi bahan retorika.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Jangan menilai kualitas seseorang hanya dari identitas agamanya.
  • Keimanan seharusnya diwujudkan melalui perilaku dan akhlak, bukan sekadar pengakuan.
  • Hindari sikap mudah menghakimi sesama manusia.
  • Renungkan kembali hakikat kehidupan dan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.
  • Bersikaplah kritis terhadap pemahaman yang terlalu menyederhanakan persoalan agama.
Puisi "Kelak Kemudian Hari" karya F. Rahardi merupakan puisi satiris yang mengajak pembaca merenungkan hubungan antara identitas, keimanan, dan pertanggungjawaban manusia. Melalui ironi dan absurditas pada bagian akhir, penyair mengkritik cara pandang yang terlalu menitikberatkan pada label agama tanpa memperhatikan kualitas moral dan kemanusiaan seseorang. Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat persoalan keagamaan dengan lebih bijaksana dan reflektif.

Floribertus Rahardi
Puisi: Kelak Kemudian Hari
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.