Kesaksian
kesaksianku atas kota ini adalah
kesaksian yang berpuluh tahun menyimpan
luka kemiskinan. Berat dan ringan impian
selalu jadi pertimbangan pengembaraan
membaca fikiran di keriuhan jalan
kesaksianku, seperti yang tertulis di batu-batu
menjadi nyanyian keterasingan
air mata pun tergadai di lipatan waktu
menunggu kedatangan sapaanmu
atas nama kerinduan pada masa kanak kotaku
kuterjemahkan tengadah wajahmu pada keluasan sunyi
langit masih demikian sulit dibaca
kalimat demi kalimatnya selalu saja tak selesai
mencatat kesaksianku
Banjarbaru, 1991
Sumber: Kota yang Bersiul (Tuas Media, Kertak Hanyar, 2012)
Analisis Puisi:
Puisi "Kesaksian" karya Ariffin Noor Hasby menghadirkan potret kehidupan kota yang dipenuhi luka sosial, kenangan, dan kerinduan. Penyair menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai saksi yang menyimpan pengalaman panjang mengenai kehidupan sebuah kota. Melalui bahasa yang puitis dan penuh simbol, puisi ini mengajak pembaca merenungkan realitas kemiskinan, keterasingan, serta harapan yang terus bertahan di tengah perjalanan waktu.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehidupan sosial di kota, kemiskinan, dan kerinduan terhadap masa lalu. Penyair menggambarkan bagaimana sebuah kota menyimpan luka yang tidak pernah benar-benar hilang, sementara kenangan akan masa kanak-kanak menjadi sumber kerinduan sekaligus harapan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menjadi saksi perjalanan sebuah kota selama bertahun-tahun. Ia menyaksikan kemiskinan, perjuangan hidup masyarakat, keterasingan, serta harapan yang terus dipertahankan. Di sisi lain, penyair juga mengenang masa kecil kotanya yang terasa lebih hangat dibandingkan kondisi sekarang.
Kesaksian tersebut bukan sekadar laporan tentang keadaan kota, tetapi juga ungkapan batin yang dipenuhi rasa kehilangan dan keinginan agar kehidupan menjadi lebih baik.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa setiap kota menyimpan sejarah dan luka yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang. Kemiskinan, kesepian, dan perjuangan hidup menjadi bagian dari kenyataan yang harus dihadapi masyarakat.
Selain itu, penyair ingin menunjukkan bahwa kenangan terhadap masa lalu sering menjadi cermin untuk menilai keadaan saat ini. Kerinduan terhadap masa kanak-kanak menggambarkan keinginan untuk kembali pada kehidupan yang lebih sederhana, jujur, dan penuh harapan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Jangan menutup mata terhadap persoalan sosial yang terjadi di sekitar kita.
- Setiap pengalaman hidup, termasuk penderitaan, memiliki nilai sebagai kesaksian sejarah.
- Kenangan masa lalu dapat menjadi pengingat untuk membangun masa depan yang lebih baik.
- Empati terhadap sesama merupakan sikap penting dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat.
- Harapan harus tetap dijaga meskipun keadaan tampak sulit.
Puisi "Kesaksian" karya Ariffin Noor Hasby merupakan refleksi mendalam tentang kehidupan kota yang dipenuhi kemiskinan, keterasingan, dan kerinduan terhadap masa lalu. Penyair mengajak pembaca menjadi saksi atas realitas sosial yang sering diabaikan. Puisi ini tidak hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga mengandung harapan agar manusia tetap memiliki kepedulian, empati, dan semangat untuk memperbaiki kehidupan bersama.
Karya: Ariffin Noor Hasby
Biodata Ariffin Noor Hasby:
- Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.