Puisi: Ketika Hari Hampir Senja (Karya F. Rahardi)

Puisi "Ketika Hari Hampir Senja" karya F. Rahardi pengingat agar manusia menghargai waktu dan menjalani hidup dengan penuh makna sebelum "hari" ...
Ketika Hari Hampir Senja

di sini mereka berkumpul lagi
tak tahu kita apa yang mesti kita katakan
pada mereka kali ini
tentang kain putih yang menutupi wajah itu
yang lupa kita hiasi bunga-bunga
atau tentang apa?
kau biarkan mereka mendekati meja
membuka kerudung itu; memandangnya
sejenak dan pergi
mereka tidak menangis atau menunduk
menghapus air mata
mereka diam, barangkali lupa menanyakan
nama-nama
siapa? siapa yang berangkat mendahului
kita?

12/9/1973

Sumber: Horison (Agustus, 1975)

Analisis Puisi:

Puisi "Ketika Hari Hampir Senja" karya F. Rahardi menghadirkan suasana yang sunyi dan penuh perenungan. Melalui gambaran sebuah peristiwa kematian, penyair tidak hanya mengisahkan kehilangan seseorang, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan makna kehidupan, kefanaan manusia, dan sikap manusia ketika berhadapan dengan kematian.

Dengan pilihan kata yang sederhana namun sarat makna, puisi ini menampilkan emosi yang ditahan. Tidak ada tangisan yang meledak-ledak, melainkan keheningan yang justru memperkuat kesedihan dan rasa kehilangan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kematian dan kefanaan hidup manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kehilangan, perenungan hidup, serta kesadaran bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian.

Puisi ini bercerita tentang suasana ketika orang-orang berkumpul di hadapan jenazah yang telah ditutupi kain putih. Penyair menggambarkan kebingungan mengenai apa yang seharusnya dikatakan kepada mereka yang datang melayat.

Hal tersebut tampak pada larik:

"tak tahu kita apa yang mesti kita katakan"

Jenazah digambarkan telah ditutup kain putih, bahkan penyair mengungkapkan penyesalan karena lupa menghiasinya dengan bunga.

Satu per satu para pelayat mendekati meja, membuka penutup wajah jenazah, memandangnya sesaat, kemudian pergi tanpa tangisan ataupun kata-kata.

Pada bagian akhir, muncul pertanyaan yang sangat menyentuh:

"siapa? siapa yang berangkat mendahului kita?"

Pertanyaan tersebut tidak sekadar menanyakan identitas orang yang meninggal, tetapi juga menjadi refleksi bahwa suatu hari setiap manusia akan menyusul perjalanan yang sama.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kematian merupakan bagian yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia.

Keheningan para pelayat menunjukkan bahwa ada perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dalam menghadapi kematian, manusia sering kali hanya mampu diam karena menyadari bahwa semua orang akan mengalami nasib yang sama.

Pertanyaan pada penutup puisi juga menyiratkan bahwa kematian bukan hanya milik orang lain, melainkan menjadi pengingat bagi setiap orang yang masih hidup.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Kehidupan manusia bersifat sementara sehingga harus dijalani dengan sebaik-baiknya.
  • Kematian merupakan kenyataan yang akan dialami setiap orang.
  • Jangan menunda untuk menghargai dan menyayangi orang-orang di sekitar selama mereka masih hidup.
  • Jadikan kematian sebagai pengingat untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan kehidupan yang lebih bermakna.
Puisi "Ketika Hari Hampir Senja" karya F. Rahardi merupakan puisi reflektif yang mengangkat tema kematian dan kefanaan hidup manusia. Puisi ini menjadi pengingat agar manusia menghargai waktu dan menjalani hidup dengan penuh makna sebelum "hari" benar-benar mencapai senja.

Floribertus Rahardi
Puisi: Ketika Hari Hampir Senja
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.