Lagi-Lagi tentang Maut,
Yang Kadang-Kadang Terasa
Cuma Sepeda Jauhnya di Depan,
Benarkah?
bau
kemenyan
itu
gelagat
yang
tak
terelak.
: tukang jagal yang mencegat di perjalanan
tukang sihir
pengembara
terasa mengalirkan bencana.
Dan barangkali telah bersembunyi di balik pintu, adakah kautahu?
Tidur bersama di atas kasur, adakah kau sadar?
Ada di langit-langit rumah, siapkah kau sudah?
......................., di sana? di sini? apa kau ngerti?
: ketika pagi (tepatnya selasa pagi)
ia datang tanpa permisi.
(adakah burung yang bernyanyi di atas pohon itu yang memberitahukannya, akan datangnya sang penagih, ketika tersingkap kabut memucat terkoyak matahari pagi, ketika datang ketika pada suatu ketika, ketika pagi?).
: duh, maut, mautku sendiri, mestikah engkau mencengkeramkan kesepuluh jemarimu yang hitam pantat kuali untuk mencampakkan kami di sini ketika tahu bahwa kami masih mencintai bumi ini dengan jalan bangun setiap hari pada pagi-pagi sekali?
1973
Sumber: Horison (Oktober, 1975)
Analisis Puisi:
Puisi "Lagi-Lagi tentang Maut, Yang Kadang-Kadang Terasa Cuma Sepeda Jauhnya di Depan, Benarkah?" karya Adri Darmadji Woko merupakan puisi reflektif yang mengangkat tema kematian sebagai sesuatu yang dekat, misterius, sekaligus tak terelakkan. Dengan gaya bahasa yang fragmentaris dan penuh pertanyaan retoris, penyair membangun suasana mencekam sekaligus kontemplatif tentang hubungan manusia dengan maut.
Judul yang panjang menjadi pintu masuk bagi pembaca untuk merenungkan kedekatan kematian dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan "cuma sepeda jauhnya di depan" menyiratkan bahwa maut bukan sesuatu yang jauh, melainkan dapat hadir sewaktu-waktu tanpa dapat dipastikan kapan dan bagaimana. Melalui simbol-simbol seperti bau kemenyan, tukang jagal, burung, pagi, dan rumah, penyair menghadirkan pengalaman eksistensial mengenai kefanaan manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kematian sebagai keniscayaan hidup dan kegelisahan manusia dalam menghadapinya. Selain tema utama tersebut, puisi ini juga mengangkat beberapa tema pendukung, yaitu:
- Kefanaan manusia.
- Ketidakpastian hidup.
- Kesadaran akan waktu.
- Pergulatan batin menghadapi akhir kehidupan.
- Cinta manusia terhadap kehidupan.
Puisi ini bercerita tentang renungan seseorang mengenai kedatangan maut yang tidak dapat diprediksi. Kematian digambarkan melalui berbagai tanda simbolis, seperti bau kemenyan dan sosok-sosok misterius yang mengintai perjalanan hidup manusia.
Penyair kemudian mengajukan berbagai pertanyaan yang menunjukkan bahwa maut dapat berada di mana saja: di balik pintu, di atas tempat tidur, bahkan di langit-langit rumah. Semua itu memperlihatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar mengetahui kapan kematian akan datang.
Pada bagian berikutnya, penyair menggambarkan kematian datang "tanpa permisi", tepat pada suatu pagi biasa. Hal ini menegaskan bahwa maut tidak memilih waktu yang dianggap tepat oleh manusia.
Di bagian penutup, penyair menyampaikan semacam keluhan sekaligus doa kepada maut. Ia mempertanyakan mengapa kematian harus datang ketika manusia masih mencintai kehidupan, masih menikmati rutinitas sederhana seperti bangun pagi dan menjalani hari.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia hidup berdampingan dengan kematian setiap saat, meskipun sering kali berusaha melupakannya. Selain itu, puisi ini juga mengandung beberapa makna lain, yaitu:
- Kematian merupakan bagian alami dari kehidupan yang tidak dapat dihindari.
- Tidak ada seorang pun yang mengetahui waktu datangnya ajal.
- Kesadaran akan maut seharusnya membuat manusia lebih menghargai kehidupan.
- Rasa takut terhadap kematian muncul karena manusia mencintai dunia yang dijalaninya.
- Kehidupan dan kematian merupakan dua sisi yang saling melengkapi dalam perjalanan manusia.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Sadarilah bahwa kematian dapat datang kapan saja.
- Gunakan waktu hidup untuk melakukan hal-hal yang bermakna.
- Jangan menunda berbuat baik karena usia manusia tidak dapat dipastikan.
- Terimalah kematian sebagai bagian dari ketentuan hidup.
- Cintailah kehidupan dengan menjalani setiap hari secara penuh tanggung jawab.
Puisi "Lagi-Lagi tentang Maut, Yang Kadang-Kadang Terasa Cuma Sepeda Jauhnya di Depan, Benarkah?" karya Adri Darmadji Woko merupakan refleksi mendalam mengenai kematian sebagai kenyataan yang selalu menyertai kehidupan manusia. Dengan bahasa yang puitis, simbolis, dan penuh pertanyaan retoris, penyair mengajak pembaca menyadari bahwa maut bukan sesuatu yang jauh, melainkan dapat hadir kapan saja tanpa pemberitahuan.
Puisi ini mengingatkan bahwa kesadaran akan kematian bukan untuk menumbuhkan ketakutan semata, melainkan agar manusia lebih menghargai setiap hari yang dijalani. Karya ini menegaskan bahwa justru karena hidup memiliki batas, setiap detiknya menjadi begitu berharga.
Karya: Adri Darmadji Woko
Biodata Adri Darmadji Woko:
- Adri Darmadji Woko lahir pada tanggal 28 Juni 1951 di Yogyakarta.
