Lelaki
Siapakah engkau sesungguhnya
Yang memberiku nama perempuan
dan melanggengkan kenikmatan beriring
kesakitan, menjadi sulur sejarah hidup kita
Pada matamu terlukis cahaya berwarna marun
menyala di jantung, menanam mawar dan mencucup
sisa senja dengan takzim dan penuh hasrat
Sedang aku tetap mengulum matahari, memberimu
ladang mimpi, hendak diam atau menggali lubang
untuk tubuh tanpa detak nadi
Siapakah engkau sesungguhnya
Ketika sunyi menjadi puisi dan kerinduan
Kini kutahu, di dadamu kutetesi darah
Dari pecahan hati yang setia kuutuhkan kembali
Sebab laut selalu memilik pantai, seperti hatiku
yang selalu setia berlabuh
2014
Sumber: Sisa Cium di Alun-Alun (2016)
Analisis Puisi:
Puisi "Lelaki" karya Weni Suryandari adalah karya yang memotret kompleksitas hubungan antara dua insan, menggali identitas dan makna di balik relasi tersebut.
Pertanyaan Identitas: Puisi dimulai dengan pertanyaan siapakah lelaki tersebut sesungguhnya. Penyair menyoroti aspek identitas dengan merenungkan nama perempuan yang diberikan lelaki dan hubungan yang penuh dengan kenikmatan dan kesakitan. Puisi membuka ruang pemikiran tentang makna nama dan peran dalam sebuah hubungan.
Imaji Mata: Deskripsi mata lelaki dengan cahaya berwarna marun menambah dimensi keindahan dalam puisi. Mata tersebut menjadi cermin batin, menciptakan gambaran tentang kehangatan dan keintiman. Penyair berhasil mengekspresikan kecintaan dan ketulusan melalui gambaran mata yang menyala di jantung.
Kontras Antara Matahari dan Senja: Puisi menggambarkan kontras antara penyair yang tetap mengulum matahari dan lelaki yang menanam mawar di senja. Ini bisa diartikan sebagai perbedaan karakter dan perspektif dalam hubungan. Lelaki mewakili kelembutan dan keindahan, sementara penyair lebih condong pada ketegasan dan kenyataan.
Ladang Mimpi dan Realitas: Penyair memberikan gambaran metaforis tentang memberi lelaki ladang mimpi. Hal ini bisa diartikan sebagai penyediaan ruang untuk impian dan harapan dalam hubungan. Namun, ada juga kontras dengan gambaran menggali lubang untuk tubuh tanpa detak nadi, menciptakan nuansa ketidakpastian dan potensi kehilangan.
Sunyi sebagai Puisi dan Kerinduan: Puisi menggambarkan lelaki ketika sunyi menjadi puisi dan kerinduan. Hal ini menciptakan citra kehadiran dan ketiadaan lelaki sebagai sumber inspirasi dan rindu dalam keheningan. Sunyi diangkat sebagai elemen yang kaya akan makna dan potensi keindahan.
Pecahan Hati dan Kesetiaan: Penyair mengungkapkan bahwa di dalam dadanya, darah mengalir dari pecahan hati yang telah setia dipulihkan. Ini dapat diartikan sebagai kesetiaan dalam menjalani dan memperbaiki hubungan. Perbandingan dengan laut dan pantai menciptakan gambaran tentang kesetiaan dan keterikatan yang kuat.
Puisi "Lelaki" karya Weni Suryandari menggambarkan kompleksitas hubungan dengan sentuhan keindahan dan filosofi. Dengan pertanyaan identitas, imaji mata, dan kontras antara elemen alam, puisi ini mengajak pembaca merenungkan makna cinta, kesetiaan, dan keindahan dalam hubungan yang penuh dengan dinamika dan perubahan.
Karya: Weni Suryandari
Biodata Weni Suryandari:
- Weni Suryandari lahir pada tanggal 4 Februari 1966 di Surabaya, Indonesia.
