Puisi: Mataku dan Matahari (Karya Sugiarta Sriwibawa)

Puisi "Mataku dan Matahari" karya Sugiarta Sriwibawa mengajarkan bahwa setiap perjalanan hidup akan membawa seseorang pada saat ketika ia harus ...
Mataku dan Matahari

Luluh lesah kujilat peluh
Rekah lidah bangkit menggeliat
Urat-urat regang siang terpanggang
Bayang-bayang tersirap menyala terbakar

Telah kupanggul matahari, tanpa
Kunyana pembakaran bumi jelaga
Awan-awan tersapu, luka jari-jari
Hari terputus sumbu

Kakiku bergisir pingkur
Mengelupas jejak matahari
Merejam garis-garis langkahku
Memintas ubun-ubun dan cakrawala
Tercecah segala bayangan
Ah, masih kucoba meremas bara
Tantangan di langit mengutuk, lalu
Berhadap-hadapan mataku dengan matahari

Sumber: Garis Putih (1983)

Analisis Puisi:

Puisi "Mataku dan Matahari" karya Sugiarta Sriwibawa merupakan puisi reflektif yang sarat simbolisme. Melalui citraan panas, cahaya, tubuh, dan matahari, penyair menggambarkan perjuangan manusia menghadapi kerasnya kehidupan sekaligus pencarian makna di tengah berbagai ujian. Matahari dalam puisi ini tidak hanya dimaknai sebagai benda langit, melainkan juga sebagai lambang kekuatan, tantangan, harapan, bahkan kebenaran yang harus dihadapi secara langsung.

Pembaca diajak merasakan kelelahan fisik sekaligus pergulatan batin seseorang yang tetap melangkah meskipun harus memanggul beban yang terasa begitu berat. Puncak puisi terjadi ketika "mataku" akhirnya berhadap-hadapan dengan "matahari", sebuah momen yang dapat dimaknai sebagai keberanian menghadapi kenyataan atau mencapai kesadaran baru.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan manusia menghadapi tantangan hidup dan keberanian menghadapi kebenaran atau kenyataan. Selain tema utama tersebut, puisi ini juga mengangkat beberapa tema pendukung, yaitu:
  • Keteguhan menghadapi cobaan.
  • Pergulatan batin.
  • Ketahanan diri.
  • Hubungan manusia dengan alam.
  • Pencarian makna kehidupan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menjalani perjalanan berat di bawah terik matahari. Tubuhnya digambarkan lelah, berkeringat, dan terus berjuang menghadapi panas yang membakar.

Penyair bahkan menyatakan telah "memanggul matahari", sebuah ungkapan yang melambangkan beban hidup yang sangat besar. Dalam perjalanan itu, ia merasakan bumi seperti terbakar, hari seakan kehilangan arah, dan setiap langkah dipenuhi luka.

Meski demikian, ia tidak berhenti. Dengan kaki yang terluka dan tenaga yang terkuras, ia tetap mencoba "meremas bara". Pada bagian akhir, penyair akhirnya berdiri berhadapan langsung dengan matahari. Momen tersebut menjadi simbol keberanian menghadapi tantangan terbesar dalam hidup tanpa lagi menghindar.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan selalu menghadirkan tantangan yang berat, tetapi manusia harus memiliki keberanian untuk menghadapinya secara langsung. Selain itu, puisi ini juga mengandung beberapa makna lain, yaitu:
  • Beban hidup merupakan bagian dari proses pendewasaan.
  • Keberanian lahir dari ketekunan menghadapi kesulitan.
  • Penderitaan dapat menjadi jalan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri.
  • Alam menjadi cermin dari pergulatan batin manusia.
  • Kemenangan sejati bukan terletak pada menghindari ujian, melainkan pada kemampuan bertahan menghadapinya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Hadapilah setiap tantangan hidup dengan keberanian.
  • Jangan menyerah meskipun perjalanan terasa berat.
  • Kesulitan merupakan bagian dari proses pembentukan karakter.
  • Jadikan setiap pengalaman sebagai pelajaran menuju kedewasaan.
  • Keberanian menghadapi kenyataan akan membawa seseorang pada pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan.
Puisi "Mataku dan Matahari" karya Sugiarta Sriwibawa merupakan puisi yang menggambarkan perjuangan manusia dalam menghadapi kerasnya kehidupan melalui simbol-simbol alam yang kuat. Matahari tidak hanya menjadi objek fisik, tetapi juga melambangkan tantangan, beban, dan kebenaran yang harus dihadapi dengan keberanian.

Puisi ini mengajarkan bahwa setiap perjalanan hidup akan membawa seseorang pada saat ketika ia harus berhadapan langsung dengan tantangan terbesar, dan hanya keberanian yang mampu membawanya melampaui batas-batas dirinya.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Mataku dan Matahari
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Biodata Sugiarta Sriwibawa:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
© Sepenuhnya. All rights reserved.