Melaka Diremas Sepi
Melaka diremas sepi
angin lembut langkah hang tuah dekat perigi
datanglah ke mari
bersenda dengan puisi.
Benteng portugis menatap ke selat
berwajah cemberut
meneteskan air mata
dalam bahnya melaka.
Bintang kejut dari langit
tidak terkejut bumi peringgit
lautmu yang asin melaka
di tenggorokan mau bersin.
Melaka diremas sepi
diremas keinginan sendiri
laut berombak di bibir selat
mengukuhkan diri bersahabat.
1977
Sumber: Pelabuhan (1980)
Analisis Puisi:
Puisi "Melaka Diremas Sepi" karya Lazuardi Anwar memadukan lanskap alam, sejarah, dan perasaan menjadi sebuah refleksi yang puitis. Melaka tidak hanya dihadirkan sebagai sebuah kota bersejarah, tetapi juga sebagai ruang yang memiliki jiwa, kenangan, dan emosi. Melalui simbol-simbol seperti Hang Tuah, benteng Portugis, Selat Melaka, dan ombak laut, penyair membangun suasana yang melankolis sekaligus penuh penghormatan terhadap perjalanan sejarah.
Kesunyian yang digambarkan dalam puisi ini bukan sekadar ketiadaan keramaian, melainkan kesunyian yang lahir dari jejak sejarah, perubahan zaman, dan kerinduan terhadap nilai-nilai yang pernah hidup di masa lalu.
Tema
Tema utama puisi ini adalah sejarah, kerinduan terhadap masa lalu, kesunyian, serta persahabatan yang melampaui ruang dan waktu. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang hubungan antara manusia dengan tempat yang menyimpan memori sejarah. Melaka menjadi simbol peradaban yang tetap hidup melalui kenangan dan sastra.
Puisi ini bercerita tentang Kota Melaka yang digambarkan sedang diliputi kesunyian. Di tengah suasana tersebut, penyair menghadirkan bayangan Hang Tuah yang melangkah lembut menuju perigi, seolah-olah tokoh legendaris itu masih hidup dalam ingatan sejarah.
Selanjutnya, benteng Portugis digambarkan memandang Selat Melaka dengan wajah muram dan meneteskan air mata. Gambaran ini menunjukkan bahwa bangunan-bangunan bersejarah seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang kota tersebut.
Pada bagian akhir, penyair menyatakan bahwa Melaka diremas oleh keinginannya sendiri, tetapi ombak di bibir selat tetap mengukuhkan persahabatan. Penutup ini memberi kesan bahwa meskipun waktu terus berubah, hubungan antarmanusia dan nilai-nilai kemanusiaan tetap dapat dipelihara.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang, melainkan terus hidup dalam kenangan, tempat, dan karya sastra.
Ungkapan "Melaka diremas sepi" menunjukkan bahwa sebuah kota dapat mengalami perubahan, kehilangan, atau kerinduan terhadap masa lalunya. Kesunyian tersebut menjadi simbol perjalanan sejarah yang tidak selalu dipenuhi kemegahan.
Tokoh Hang Tuah melambangkan keberanian, kesetiaan, dan identitas budaya Melayu. Sementara itu, benteng Portugis menjadi simbol jejak kolonial yang masih membekas dalam ingatan sejarah.
Penutup puisi yang berbicara tentang persahabatan menunjukkan bahwa di balik sejarah yang penuh pergolakan, masih ada harapan untuk membangun hubungan yang damai dan saling menghargai.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Sejarah merupakan bagian penting dari identitas suatu bangsa dan patut dihargai.
- Kenangan masa lalu dapat menjadi sumber pembelajaran bagi kehidupan masa kini.
- Sastra mampu menghidupkan kembali tokoh, tempat, dan peristiwa sejarah melalui imajinasi.
- Persahabatan dan perdamaian lebih penting daripada terus memelihara luka sejarah.
- Manusia hendaknya menjaga warisan budaya dan sejarah agar tidak hilang ditelan waktu.
Puisi "Melaka Diremas Sepi" karya Lazuardi Anwar menghadirkan perpaduan indah antara sejarah, alam, dan perasaan. Melalui simbol-simbol seperti Melaka, Hang Tuah, benteng Portugis, dan Selat Melaka, penyair menyampaikan refleksi tentang perjalanan waktu, kerinduan terhadap masa lalu, serta pentingnya menjaga warisan sejarah.
Puisi ini mengajak pembaca melihat bahwa sebuah kota bukan sekadar kumpulan bangunan, melainkan ruang yang menyimpan memori kolektif, identitas budaya, dan harapan akan persahabatan yang tetap terpelihara di tengah perubahan zaman.
Puisi: Melaka Diremas Sepi
Karya: Lazuardi Anwar
Biodata Lazuardi Anwar:
- Lazuardi Anwar lahir pada tanggal 12 april 1941 di Pariaman, Sumatera Barat.