Puisi: Memikat Sunyi (Karya Lalik Kongkar)

Puisi "Memikat Sunyi" karya Lalik Kongkar menunjukkan bahwa waktu mungkin mengubah banyak hal, tetapi ketulusan perasaan dapat tetap bertahan.

Memikat Sunyi


Ketika kupintal dengan sunyi sulaman sajak
Aku merajut benang kasih yang kau urai
Sebab cintaku dikejar waktu
Yang berpacu menjadi ngilu di dadaku

Riuh gaduh menjadi sehelai kain penghangat
Untuk kau lilitkan di pundakmu
Daun yang melambai bernyanyi
Iringi gemuruh bayu yang mendayu
Iring-iringan awan menari tetap saja sunyi

Tak seperti di ujung jalan itu
Sibuk berlarian mengejar mimpi
Tanpa henti kaki berjalan saling berhimpitan
Aku di sini masih dengan segenap rasa

2023

Analisis Puisi:

Puisi "Memikat Sunyi" karya Lalik Kongkar mengangkat tema cinta, kerinduan, dan perenungan. Penyair memanfaatkan unsur-unsur seperti sunyi, benang, sulaman, kain, daun, angin, dan awan untuk menggambarkan pergulatan batin seseorang yang tetap setia menjaga perasaannya di tengah perjalanan waktu.

Keindahan puisi ini terletak pada perpaduan antara suasana alam dan emosi manusia. Kesunyian tidak digambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai ruang untuk merawat cinta, mengingat kenangan, dan memahami makna kehidupan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta, kerinduan, dan keteguhan hati dalam penantian. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kesetiaan, perjalanan waktu, refleksi diri, dan pertentangan antara ketenangan batin dengan hiruk-pikuk kehidupan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengekspresikan perasaannya melalui sajak dan kesunyian. Pada bait pertama, penyair mengungkapkan bahwa ia memintal sunyi menjadi sulaman sajak.

"Ketika kupintal dengan sunyi sulaman sajak
Aku merajut benang kasih yang kau urai."

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa puisi menjadi media untuk merawat cinta yang mulai terurai oleh waktu atau keadaan.

Selanjutnya, penyair menggambarkan bagaimana waktu terus mengejar sehingga menghadirkan rasa ngilu di dalam dada.

Pada bait kedua, riuh kehidupan justru diubah menjadi "kain penghangat" bagi orang yang dicintai. Alam pun digambarkan ikut menemani perjalanan batin melalui daun yang bernyanyi, angin yang mendayu, dan awan yang menari.

Pada bait terakhir, penyair membandingkan kesunyiannya dengan dunia luar yang sibuk mengejar mimpi.

"Aku di sini masih dengan segenap rasa."

Larik penutup ini menegaskan bahwa penyair tetap bertahan menjaga perasaannya meskipun kehidupan di luar terus bergerak.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kesunyian bukan selalu berarti kesepian. Dalam kesunyian, seseorang dapat menemukan ruang untuk menjaga cinta, mengenang, dan memahami dirinya sendiri.

Puisi ini juga menunjukkan bahwa waktu mungkin mengubah banyak hal, tetapi ketulusan perasaan dapat tetap bertahan. Di tengah dunia yang sibuk mengejar berbagai impian, masih ada orang yang memilih setia pada nilai-nilai kasih, kenangan, dan keikhlasan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Cinta yang tulus membutuhkan kesabaran dan keteguhan hati.
  • Kesunyian dapat menjadi ruang untuk mengenali diri dan merawat perasaan.
  • Jangan biarkan kesibukan hidup membuat kita melupakan nilai kasih sayang.
  • Waktu memang terus berjalan, tetapi ketulusan dapat tetap hidup dalam hati.
  • Hargailah setiap perasaan yang lahir dari kejujuran dan keikhlasan.
Puisi "Memikat Sunyi" karya Lalik Kongkar merupakan puisi yang mengangkat keindahan cinta dan perenungan melalui simbol-simbol alam. Penyair menunjukkan bahwa kesunyian bukanlah kehampaan, melainkan ruang untuk merawat kasih, mengenang, dan mempertahankan ketulusan di tengah perjalanan waktu.

Lalik Kongkar
Puisi: Memikat Sunyi
Karya: Lalik Kongkar

Biodata Lalik Kongkar:
  • Lalik Kongkar. Pemerhati Pembangunan Desa, Minat Kajian Politik, Filsafat dan Sastra.
© Sepenuhnya. All rights reserved.