Menjahit Duka
"Terbangun sendiri
dan hanya sendiri
menjahit duka."
Pernah kucoba
membuka hati
dari seb'ah janji
tanpa tepati
Pernah kucoba
menggali iri
mendekap pelangi
menabur mimpi
Tapi kini
aku mengerti:
Dengan berlari
lukajanji
takkan terobati
dengan sembunyi
masalalu
takkan teratasi
Pernah kucoba
membawa diri
hindari belati
hindari sepi
Sampai berlalu
beribu rindu
merasuki hari
memahat pilu
Tapi kini
aku mengerti:
Hanya dengan waktu
kita bisa
menjahit duka
dengan waktu
kita bisa
untuk berbiasa
2021
Analisis Puisi:
Puisi "Menjahit Duka" karya A. Munandar menggambarkan proses penyesalan, kehilangan, serta perjuangan dalam menghadapi kesedihan dan memahami bahwa waktu memiliki peran penting dalam proses penyembuhan.
Tahapan Emosi: Penyair menggunakan tiga tahap emosi: upaya membuka hati, merenungkan tindakan, dan hasil akhir. Pada awalnya, dia mencoba membuka hati untuk memenuhi janji-janji yang tak terpenuhi, berusaha memahami dan menggali keinginan serta harapan. Namun, pada akhirnya, dia menyadari bahwa pelarian dan penyembunyian dari masa lalu tidak akan mengatasi atau menyembuhkan luka.
Proses Penyesalan: Puisi ini mencerminkan perasaan penyesalan dan kekecewaan atas janji yang tak tertepati, iri yang muncul, serta usaha yang tak membuahkan hasil. Penyair berusaha untuk menghindari kesedihan, tetapi waktu yang terus berlalu membawa rindu dan kesedihan yang menyelimuti hari-harinya.
Kesadaran Akan Waktu: Pesannya cukup jelas: bahwa waktu memiliki peran penting dalam proses penyembuhan. Meskipun perasaan kehilangan, penyesalan, dan kesedihan itu ada, penyair menemukan pengertian bahwa hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka, dan melalui waktu, seseorang akan bisa terbiasa dengan keadaan tersebut.
Metafora Menjahit Duka: Metafora "menjahit duka" menggambarkan bahwa kesedihan dan duka tidak bisa dihilangkan, tetapi dapat dijahit dalam pikiran dan hati kita. Waktu membantu kita untuk merajut kembali potongan-potongan hati yang terluka, sehingga pada akhirnya, kita bisa terbiasa dengan rasa sakit yang ada.
Puisi ini menekankan pentingnya menerima kenyataan, menyesuaikan diri dengan waktu, dan belajar menghadapi dan merajut kembali duka yang telah kita alami. Meskipun tidak menghilangkan kesedihan sepenuhnya, waktu membantu kita untuk memperoleh kedamaian dan menerima realitas hidup.
