Puisi: Musim yang Terbunuh (Karya Sugiarta Sriwibawa)

Puisi "Musim yang Terbunuh" karya Sugiarta Sriwibawa mengingatkan bahwa perdamaian tidak akan terwujud tanpa keadilan, kepedulian terhadap sesama, ...
Musim yang Terbunuh

Letus bedil menjerit jauh
Sesayup malam yang berjaga hiba
Matinya anak murtad yang meronta

Letus bedil menjerit hatinya
(Jahatku karena laparku
Laparku karena kejamnya!)

Kami terus berbunuhan lagi
Anak-anak yang tak kenal orang tua
(Sampai kau menyeru, bapa?)

Sumber: Garis Putih (1983)

Analisis Puisi:

Puisi "Musim yang Terbunuh" karya Sugiarta Sriwibawa merupakan puisi yang menggambarkan tragedi kemanusiaan melalui larik-larik singkat, padat, dan penuh daya emosional. Dengan menghadirkan bunyi letusan bedil, jeritan, kelaparan, serta anak-anak yang kehilangan arah, penyair melukiskan sebuah dunia yang dikuasai oleh kekerasan hingga nilai-nilai kemanusiaan seolah ikut mati.

Judul "Musim yang Terbunuh" mengandung makna simbolis. Musim biasanya identik dengan siklus kehidupan dan harapan, tetapi dalam puisi ini musim justru "terbunuh". Hal tersebut menyiratkan terhentinya kehidupan yang wajar akibat perang, konflik, atau kekerasan yang berkepanjangan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah tragedi kemanusiaan akibat kekerasan, perang, dan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kelaparan, penderitaan masyarakat, kehilangan figur pembimbing, dan kritik terhadap siklus kekerasan yang terus berulang.

Puisi ini bercerita tentang suasana mencekam yang dipenuhi bunyi letusan senjata dan jeritan manusia. Puisi dibuka dengan gambaran yang langsung menghadirkan suasana perang.

"Letus bedil menjerit jauh
Sesayup malam yang berjaga hiba."

Suara tembakan tidak hanya terdengar secara fisik, tetapi juga menjadi simbol penderitaan yang menggema di tengah malam.

Penyair kemudian menggambarkan kematian seorang anak.

"Matinya anak murtad yang meronta."

Larik ini dapat dibaca sebagai gambaran tragis tentang seseorang yang dianggap menyimpang atau tersisih, tetapi tetap merupakan korban kekerasan.

Selanjutnya muncul pengakuan yang menyentuh.

"(Jahatku karena laparku
Laparku karena kejamnya!)"

Penyair menyiratkan bahwa kejahatan tidak selalu lahir dari watak manusia, tetapi juga dapat dipicu oleh kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan.

Pada bagian akhir, penyair memperlihatkan konflik yang terus berulang.

"Kami terus berbunuhan lagi
Anak-anak yang tak kenal orang tua."

Larik tersebut menggambarkan generasi yang tumbuh tanpa kasih sayang, tanpa bimbingan, dan tanpa mengenal nilai-nilai kemanusiaan.

Puisi ditutup dengan pertanyaan yang menggugah.

"(Sampai kau menyeru, bapa?)"

Pertanyaan ini dapat dimaknai sebagai seruan kepada sosok ayah, pemimpin, atau bahkan kepada Tuhan agar kekerasan tersebut segera diakhiri.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kekerasan sering kali merupakan akibat dari ketidakadilan sosial. Ketika kemiskinan, kelaparan, dan kebencian dibiarkan tumbuh, manusia kehilangan arah hingga saling membinasakan.

Ungkapan:

"Jahatku karena laparku."

menunjukkan bahwa kejahatan tidak selalu lahir dari pilihan bebas, tetapi dapat dipengaruhi oleh kondisi hidup yang memaksa.

Sementara itu, larik:

"Anak-anak yang tak kenal orang tua."

menjadi simbol generasi yang kehilangan pendidikan moral, kasih sayang, atau figur teladan akibat konflik yang berkepanjangan.

Judul "Musim yang Terbunuh" sendiri menyiratkan bahwa harapan, kedamaian, dan masa depan telah "dibunuh" oleh kekerasan yang tidak kunjung berakhir.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Puisi ini mengandung beberapa pesan penting, yaitu:
  • Kekerasan tidak akan pernah menjadi solusi bagi persoalan kemanusiaan.
  • Kemiskinan dan kelaparan harus diatasi agar tidak melahirkan keputusasaan dan kejahatan.
  • Setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
  • Generasi muda memerlukan kasih sayang, pendidikan, dan teladan agar tidak terjebak dalam siklus kebencian.
  • Perdamaian harus diperjuangkan melalui keadilan, bukan melalui kekerasan.
Puisi "Musim yang Terbunuh" karya Sugiarta Sriwibawa merupakan puisi yang menghadirkan kritik tajam terhadap perang, kekerasan, dan ketidakadilan sosial. Melalui simbol musim, bedil, malam, anak, dan kelaparan, penyair menunjukkan bahwa konflik tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan harapan dan masa depan manusia.

Puisi ini mengingatkan bahwa perdamaian tidak akan terwujud tanpa keadilan, kepedulian terhadap sesama, dan keberanian untuk memutus rantai kebencian yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Musim yang Terbunuh
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Biodata Sugiarta Sriwibawa:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
© Sepenuhnya. All rights reserved.