Puisi: Nostalgia ke Citeureup (Karya F. Rahardi)

Puisi "Nostalgia ke Citeureup" karya F. Rahardi adalah kritik terhadap pembangunan yang mengabaikan keseimbangan lingkungan. Habitat alami yang ...
Nostalgia ke Citeureup

Seekor kakek kampret
seekor nenek kampret
dan seekor cucunya
yang selama ini menghuni
celah lengan Sosrobau
jalan layang Cawang-Priok
pada suatu sore
bernostalgia ke bekas bukit pasir
di kawasan Citeureup.

Sepanjang perjalanan lewat
jalan tol Jagorawi
mereka mencaploki nyamuk
dan anak-anak belalang
kadang juga kutu loncat.

Udara sore sehabis hujan
terasa enak
langit bersih
ada satu dua awan yang
tak banyak bergerak

Tiga ekor kampret itu sudah
lama berencana mudik
sekalian bernostalgia
lalulintas di Jagorawi sudah
agak sepi
ada banyak bintang-bintang
rumput dan gerombolan kembang merak
di tengah jalan tol itu
masih sangat basah.
Juga kerumunan bugenvil
pokok-pokok kaliandra
dan pohon sengon
yang tegak
jauh di pinggiran sana.

"Cu, lu jangan terbang
kelewat rendah lo
nanti disambar sedan
habis deh keturunan gua."

"Tidak kek
tuh, mobil-mobilnya kan
tampak kecil-kecil di bawah sana."
"Sudahlah kek, dia pun ude gede
ude bisa ngatur dirinye sendiri.
Ngomel melulu."

Nenek kampret itu sewot
mereka meluncur terus
di atas kawasan Cibubur
tiga ekor kampret itu agak
memperlambat terbang mereka.

"Kok banyak amat warga kampret
di sini ya Cu.
Dulu sini ini sepi lo."

"Nggak tau kek
itu pan penghuni baru
kakek lu itu memang ude pikun
di sini pan ada bumi perkemahan
yang banyak rumput dan pohon
ada taman bunga
ada bangunan bikinan manusia
yang kosong
nganggur
mereka pake aja gratis."

"O, iya ya, lupa aku
kawasan ini memang sip buat kampret
tapi kenapa dulu kita ngungsi
sampai jauh-jauh di sana ya nek?"

"Lo pan situ sendiri yang ngotot
dulu mintanya deket lapangan
golpnya Pak Presiden
katanye nyamuknye gemuk-gemuk
orang siangnye habis ngegigit
jendral-jendral
dan bos-bos yang darahnya gurih
lain ame darah tukang becak
di Citeureup."

"O, iya ya, lupa aku."

"Udelah, ayo terbangnya cepetan!"

Malam itu sekitar pukul 23.30 WIB
tiga ekor kampret Jakarta
sudah sampai di bekas kampung
halaman mereka.

"Inilah Cu
di sini bekas bukit itu
bekas gua itu
sekarang lu liat sendiri
kayak gini kan sekarang."

Kampret tua itu lalu menangis.
Cucu kampret bengong
nenek kampret diam saja.
Di kawasan itu memang hanya
tampak gundukan batu-batu
petak tanaman singkong
gerumbulan lantana liar
dan alang-alang
sepi
tak ada suara-suara
juga gelap.

"Dulu anak-anak dan menantuku
mati di dekat batu-batu itu."

"Dulu!
Kakekmu itu sukanya memang
ngomong tentang dulu
pan nanti juga penting kek
sekarang juga penting
besok
bulan depan
tahun depan
pan semua juga penting
ya kan cu."

"Kau jangan suka motong-motong
orang ngomong nek
aku lagi terharu lo."

"Terharu melulu
kita pulang saja
nanti kesiangan sampai di jalan tol
kita bisa mampus disambar treler."

Kakek, nenek dan cucu kampret itu
lalu pulang
udara pagi segar
oksigen banyak
debu pabrik semen agak mengendap
dan embun
mulai mengkristal
di daun-daun
di rumput-rumput
juga di ujung bulu-bulu halus
di wajah tiga ekor kampret itu.

Sumber: Migrasi Para Kampret (1993)

Analisis Puisi:

Puisi "Nostalgia ke Citeureup" karya F. Rahardi merupakan puisi naratif yang memadukan humor, satire, dan kritik sosial. Melalui tokoh-tokoh berupa tiga ekor kampret—kakek, nenek, dan cucunya—penyair menyampaikan kisah tentang perubahan lingkungan akibat pembangunan serta kerinduan terhadap kampung halaman yang telah berubah. Di balik dialog-dialog yang ringan dan jenaka, puisi ini menyimpan kritik yang tajam mengenai kerusakan alam, urbanisasi, dan hilangnya ruang hidup makhluk lain.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perubahan lingkungan, nostalgia terhadap kampung halaman, serta kritik terhadap pembangunan yang mengorbankan alam. Selain itu, puisi ini mengangkat tema tentang kenangan, kehilangan habitat, dan benturan antara kemajuan dengan kelestarian lingkungan.

Puisi ini bercerita tentang seekor kakek kampret, nenek kampret, dan cucunya yang melakukan perjalanan dari kawasan Jalan Layang Cawang–Priok menuju Citeureup, tempat yang dahulu menjadi habitat mereka.

Selama perjalanan, mereka mengenang masa lalu sambil berdialog mengenai perubahan yang terjadi. Kakek kampret teringat bahwa dahulu kawasan Citeureup memiliki bukit pasir dan gua yang menjadi tempat tinggal mereka. Namun, ketika tiba di lokasi, yang tersisa hanyalah gundukan batu, tanaman singkong, alang-alang, dan kesunyian.

Kakek kampret kemudian mengenang anggota keluarganya yang telah mati di tempat itu. Sementara itu, nenek kampret mencoba menghibur dan mengajak keluarganya kembali sebelum siang tiba. Kisah sederhana tersebut menjadi gambaran tentang hilangnya habitat akibat eksploitasi alam dan pembangunan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap pembangunan yang mengabaikan keseimbangan lingkungan. Habitat alami yang dahulu menjadi rumah bagi berbagai makhluk hidup berubah menjadi kawasan industri dan pertambangan, sehingga banyak makhluk kehilangan tempat tinggal.

Tokoh kampret dipilih sebagai simbol makhluk yang sering dianggap tidak penting. Melalui sudut pandang mereka, penyair menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pada seluruh ekosistem.

Selain itu, puisi ini mengingatkan bahwa nostalgia bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga menyadari apa yang telah hilang akibat pilihan-pilihan manusia dalam membangun peradaban.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Pembangunan hendaknya tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan habitat makhluk hidup.
  • Jangan melupakan sejarah suatu tempat karena masa lalu menyimpan pelajaran yang berharga.
  • Kemajuan seharusnya tidak mengorbankan keseimbangan alam.
  • Setiap makhluk hidup memiliki hak atas ruang hidup yang layak.
  • Nostalgia hendaknya menjadi sarana untuk mengevaluasi masa kini dan membangun masa depan yang lebih baik.
Puisi "Nostalgia ke Citeureup" karya F. Rahardi merupakan puisi yang memadukan narasi, humor, dan kritik sosial secara efektif. Melalui perjalanan tiga ekor kampret menuju kampung halaman, penyair memperlihatkan dampak pembangunan terhadap lingkungan serta hilangnya ruang hidup makhluk lain. Kisah yang awalnya ringan berubah menjadi refleksi mendalam tentang kenangan, kehilangan, dan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian alam. Dengan gaya bahasa yang komunikatif dan simbolis, puisi ini mengajak pembaca untuk melihat pembangunan dari sudut pandang yang lebih luas, yakni tidak hanya demi kepentingan manusia, tetapi juga seluruh makhluk yang berbagi bumi yang sama.

F. Rahardi
Puisi: Nostalgia ke Citeureup
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.