Sumber: Migrasi Para Kampret (1993)
Analisis Puisi:
Puisi "Nostalgia ke Citeureup" karya F. Rahardi merupakan puisi naratif yang memadukan humor, satire, dan kritik sosial. Melalui tokoh-tokoh berupa tiga ekor kampret—kakek, nenek, dan cucunya—penyair menyampaikan kisah tentang perubahan lingkungan akibat pembangunan serta kerinduan terhadap kampung halaman yang telah berubah. Di balik dialog-dialog yang ringan dan jenaka, puisi ini menyimpan kritik yang tajam mengenai kerusakan alam, urbanisasi, dan hilangnya ruang hidup makhluk lain.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perubahan lingkungan, nostalgia terhadap kampung halaman, serta kritik terhadap pembangunan yang mengorbankan alam. Selain itu, puisi ini mengangkat tema tentang kenangan, kehilangan habitat, dan benturan antara kemajuan dengan kelestarian lingkungan.
Puisi ini bercerita tentang seekor kakek kampret, nenek kampret, dan cucunya yang melakukan perjalanan dari kawasan Jalan Layang Cawang–Priok menuju Citeureup, tempat yang dahulu menjadi habitat mereka.
Selama perjalanan, mereka mengenang masa lalu sambil berdialog mengenai perubahan yang terjadi. Kakek kampret teringat bahwa dahulu kawasan Citeureup memiliki bukit pasir dan gua yang menjadi tempat tinggal mereka. Namun, ketika tiba di lokasi, yang tersisa hanyalah gundukan batu, tanaman singkong, alang-alang, dan kesunyian.
Kakek kampret kemudian mengenang anggota keluarganya yang telah mati di tempat itu. Sementara itu, nenek kampret mencoba menghibur dan mengajak keluarganya kembali sebelum siang tiba. Kisah sederhana tersebut menjadi gambaran tentang hilangnya habitat akibat eksploitasi alam dan pembangunan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap pembangunan yang mengabaikan keseimbangan lingkungan. Habitat alami yang dahulu menjadi rumah bagi berbagai makhluk hidup berubah menjadi kawasan industri dan pertambangan, sehingga banyak makhluk kehilangan tempat tinggal.
Tokoh kampret dipilih sebagai simbol makhluk yang sering dianggap tidak penting. Melalui sudut pandang mereka, penyair menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pada seluruh ekosistem.
Selain itu, puisi ini mengingatkan bahwa nostalgia bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga menyadari apa yang telah hilang akibat pilihan-pilihan manusia dalam membangun peradaban.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Pembangunan hendaknya tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan habitat makhluk hidup.
- Jangan melupakan sejarah suatu tempat karena masa lalu menyimpan pelajaran yang berharga.
- Kemajuan seharusnya tidak mengorbankan keseimbangan alam.
- Setiap makhluk hidup memiliki hak atas ruang hidup yang layak.
- Nostalgia hendaknya menjadi sarana untuk mengevaluasi masa kini dan membangun masa depan yang lebih baik.
Puisi "Nostalgia ke Citeureup" karya F. Rahardi merupakan puisi yang memadukan narasi, humor, dan kritik sosial secara efektif. Melalui perjalanan tiga ekor kampret menuju kampung halaman, penyair memperlihatkan dampak pembangunan terhadap lingkungan serta hilangnya ruang hidup makhluk lain. Kisah yang awalnya ringan berubah menjadi refleksi mendalam tentang kenangan, kehilangan, dan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian alam. Dengan gaya bahasa yang komunikatif dan simbolis, puisi ini mengajak pembaca untuk melihat pembangunan dari sudut pandang yang lebih luas, yakni tidak hanya demi kepentingan manusia, tetapi juga seluruh makhluk yang berbagi bumi yang sama.
Karya: F. Rahardi
Biodata F. Rahardi:
- F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
