Nyanyian Anak Gunung
Dari pucuk Lebong anak bukit Malino
Senja mengapung
Dapat kulihat punggung-punggung bangau
Terbang pulang dari sawah-sawah
Lihat, anak-anak sedang menari
Bersama halimun; dijemputnya
Para sahabat alam
Hinggap di sarang-sarang bambu
Berjingkrak-jingkrak anak-anak bernyanyi:
Kondo buleng, kondo buleng
Pangngekeanga bulaeng
Arrappopi asengku
Nakusareko sisikko...
Ketika tamak orang-orang kota
Menusuk ke bukit-bukit
Punahlah hati bertaut
Bangau-bangau dan anak-anak
Malam turun di bukit Lebong
Halimun berarak arah ke timur
Menyisakan nyanyian
Yang berangsur menjadi
Isak tangis…
Bukit Lebong, Malino, 2007
Sumber: Jalan Menuju Jalan (2007)
Catatan:
Nyanyian rakyat Gowa.
Analisis Puisi:
Puisi "Nyanyian Anak Gunung" karya Rahman Arge menghadirkan gambaran indah tentang kehidupan di gunung, hubungan dengan alam, dan perubahan yang dialami oleh komunitas pedesaan akibat modernisasi dan urbanisasi. Dalam puisi ini, penulis menciptakan gambaran tentang kedamaian dan kerinduan di tengah lingkungan alami.
Kehidupan di Gunung: Puisi ini membawa kita ke gunung Lebong, tempat di mana kehidupan anak-anak gunung dan alam bercampur. Gambaran senja yang mengapung, punggung bangau yang terbang pulang dari sawah-sawah, dan anak-anak yang menari bersama halimun (kabut tebal) menciptakan suasana damai dan alami. Ini menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam, di mana manusia hidup berdampingan dengan alam dan merasakan ritme alamiahnya.
Nyanyian Anak-Anak: Nyanyian anak-anak di dalam puisi ini memberikan nuansa kegembiraan dan kedamaian yang menyatu dengan alam. Lirik nyanyian tersebut mencerminkan bahasa dan budaya lokal yang terkait erat dengan lingkungan mereka. Nyanyian ini adalah bentuk ekspresi kegembiraan anak-anak gunung, dan liriknya menggambarkan suasana sekitar dengan kata-kata yang sederhana dan akrab.
Ancaman Modernisasi: Penulis menyiratkan ancaman modernisasi dan urbanisasi terhadap kedamaian anak-anak gunung. Ketika "tamak orang-orang kota" menusuk ke bukit-bukit, hati dan kehidupan anak-anak gunung menjadi "punah." Ini menggambarkan bagaimana modernisasi dapat merusak keseimbangan dan keharmonisan dalam kehidupan pedesaan.
Puisi "Nyanyian Anak Gunung" menghadirkan gambaran tentang kehidupan di gunung, hubungan manusia dengan alam, dan perubahan yang dihadapi oleh komunitas pedesaan. Melalui lirik sederhana dan gambaran yang kuat, penulis mengungkapkan kerinduan terhadap kehidupan yang lebih sederhana dan alami serta perasaan kehilangan akibat perubahan yang cepat. Puisi ini memaksa kita untuk merenungkan nilai-nilai manusiawi dan pentingnya menjaga keseimbangan dengan alam di tengah dunia yang terus berkembang.
Puisi: Nyanyian Anak Gunung
Karya: Rahman Arge
Biodata Rahman Arge:
- Rahman Arge (Abdul Rahman Gega) lahir pada tanggal 17 Juli 1935 di Makassar, Sulawesi Selatan.
- Rahman Arge meninggal dunia pada tanggal 10 Agustus 2015 (pada usia 80).
- Edjaan Tempo Doeloe: Rachman Arge.