Nyanyian Orang Ladang
aku mendengar bunyi beburing pipit menyambut pagi
menyebarkan embun pada pucukan daun
dan basah batu-batu sungai
di setiap galangan ladang
penuh runduk padi menguning
setelah sekian bulan memandu cuaca
yang kadang tak tentu lagi turunnya
kadang hujan menderas, sedikit gerimis
lalu panas kembali menggantang
dilalui dengan segenap pengharapan
dari anjung rumah sampai ke tanah sawah
memikul tutujah dan tajak
sampai pada harit dan ranggaman
bergulat dengan lumpur dan matahari
setiap peluh yang ditanamkan telah berisi
berbuah menguning
di atas pondok rampa
di tengah belukar
orang-orang ladang lirih bersenandung
"kuning-kuning banihku lantur manguning amas dikatam diirik
dilabang...
hanyar diurai si banih hanyar himung lihum musim katam banyak
bapakulih...
jangan kulumpanan basyukur... sakira tahun dihadap babarkah
pulang..."
orang-orang ladang bersyair
meminta berkat sesuai harapan
sekaligus mengucapkan rasa syukur
agar terusir hama dan bala bencana,
hidup makmur di tanah subur banua
Balangan, 2015
Sumber: Suara Orang Pedalaman (Tahura Media, 2016)
Analisis Puisi:
Puisi "Nyanyian Orang Ladang" karya Fahmi Wahid menghadirkan potret kehidupan para petani yang hidup berdampingan dengan alam. Melalui gambaran tentang pagi di ladang, kerja keras mengolah sawah, hingga nyanyian syukur saat musim panen tiba, penyair memperlihatkan hubungan yang erat antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Puisi ini tidak hanya menggambarkan aktivitas bertani, tetapi juga merekam kekayaan budaya masyarakat agraris Banjar. Penggunaan kosakata lokal seperti beburing pipit, tutujah, tajak, harit, ranggaman, pondok rampa, dan syair panen berbahasa Banjar memperkuat identitas budaya yang menjadi ruh puisi. Dengan demikian, puisi ini merupakan penghormatan terhadap kerja keras petani sekaligus pelestarian tradisi lokal.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehidupan petani, kerja keras, rasa syukur, dan keharmonisan manusia dengan alam. Selain tema utama tersebut, puisi ini juga mengangkat beberapa tema pendukung, yaitu:
- Ketekunan dalam mencari nafkah.
- Pengharapan terhadap hasil panen.
- Tradisi dan budaya masyarakat agraris.
- Nilai spiritual dalam bercocok tanam.
- Kebersamaan dan gotong royong masyarakat ladang.
Puisi ini bercerita tentang kehidupan para petani yang memulai hari sejak pagi dengan penuh harapan. Alam digambarkan menyambut mereka melalui suara burung pipit, embun yang membasahi dedaunan, dan sungai yang mengalir tenang.
Perjalanan bertani kemudian digambarkan sebagai proses panjang yang penuh tantangan. Para petani harus menghadapi cuaca yang tidak menentu, hujan, gerimis, dan panas matahari. Dengan peralatan tradisional, mereka mengolah ladang, bergelut dengan lumpur, dan mencurahkan tenaga demi menanam padi.
Ketika musim panen tiba, hasil kerja keras mereka mulai menguning. Di pondok ladang, mereka melantunkan syair tradisional sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus doa agar panen berikutnya tetap diberkahi dan dijauhkan dari hama maupun bencana.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa setiap hasil yang baik lahir dari kesabaran, kerja keras, doa, dan rasa syukur. Selain itu, puisi ini juga mengandung beberapa makna lain, yaitu:
- Alam merupakan sahabat sekaligus ujian bagi kehidupan manusia.
- Petani adalah penopang kehidupan yang sering luput dari perhatian.
- Tradisi lokal mengandung nilai-nilai spiritual yang patut dijaga.
- Keberhasilan bukan hanya hasil usaha manusia, tetapi juga anugerah Tuhan.
- Bersyukur merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat agraris.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Hargailah kerja keras para petani sebagai penyangga kehidupan masyarakat.
- Jangan mudah menyerah menghadapi tantangan dalam bekerja.
- Selalu bersyukur atas rezeki yang telah diberikan Tuhan.
- Lestarikan budaya dan tradisi lokal yang mengandung nilai-nilai luhur.
- Jagalah hubungan yang harmonis dengan alam agar kehidupan tetap berkelanjutan.
Puisi "Nyanyian Orang Ladang" karya Fahmi Wahid merupakan puisi yang mengangkat kehidupan petani sebagai simbol kerja keras, kesabaran, dan rasa syukur. Melalui perpaduan antara lanskap alam, budaya Banjar, dan nilai spiritual, penyair menunjukkan bahwa hasil panen bukan sekadar buah dari tenaga manusia, tetapi juga hasil keharmonisan antara usaha, alam, dan doa.
Puisi ini berhasil menyampaikan penghormatan kepada para petani sekaligus mengajak pembaca untuk menghargai alam dan melestarikan budaya lokal. Karya ini menjadi pengingat bahwa kemakmuran sejati lahir dari kerja keras yang disertai kesabaran, kebersamaan, dan rasa syukur.
Karya: Fahmi Wahid
Biodata Fahmi Wahid:
- Fahmi Wahid lahir pada tanggal 3 Agustus 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.