Puisi: Panggilan (Karya Sugiarta Sriwibawa)

Puisi "Panggilan" karya Sugiarta Sriwibawa menggambarkan kematian sebagai sebuah kepulangan yang sarat makna spiritual. Walaupun dipenuhi nuansa ...
Panggilan

Tengadah dada garis mati putih tertegun-tegun pergi
Gemetar meniti sunyi bergayut tonggak usia
Seberang senja tepian pamit terbentang

Garis bertaut masih terengah melabuh
Ke terawang asing terasa cacat yatim piatu
Rendah menangis disapa, disangka alam hiba

Selembar senja bersukma bapa bermuka bunda
Putihmu putihku dari nyawa yang diliput duka
Pulanglah meniti hinggaplah di teduh warna noda
Patahnya garis pucat kuraba tangan menangkup dada

Sumber: Garis Putih (1983)

Analisis Puisi:

Puisi "Panggilan" karya Sugiarta Sriwibawa merupakan puisi yang sarat dengan nuansa spiritual, kehilangan, dan perenungan tentang kematian. Melalui pilihan diksi yang simbolis, penyair menggambarkan perjalanan manusia menuju akhir kehidupan sebagai sebuah "panggilan" yang tidak dapat dihindari. Larik-lariknya tidak disusun secara naratif, melainkan membangun rangkaian citraan yang mengajak pembaca menafsirkan makna kehidupan, perpisahan, dan kepulangan kepada Sang Pencipta.

Simbol-simbol seperti senja, garis putih, dada, tangan, bapa, bunda, dan pulang menghadirkan kesan bahwa kematian bukan hanya akhir perjalanan, melainkan juga sebuah proses kembali ke asal kehidupan. Oleh karena itu, puisi ini terasa religius sekaligus penuh renungan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kematian sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kepasrahan, kerinduan kepada orang tua, kesedihan, spiritualitas, dan harapan akan kedamaian setelah kehidupan berakhir.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang merenungkan datangnya sebuah panggilan menuju kehidupan yang lain. Panggilan tersebut dapat dimaknai sebagai kematian atau saat manusia kembali kepada asalnya.

Sepanjang puisi, penyair menggambarkan perjalanan itu melalui simbol-simbol seperti senja, garis putih, dan langkah yang perlahan menuju keheningan. Tokoh dalam puisi merasakan kesedihan, kesunyian, dan kerinduan yang mendalam. Sosok bapa dan bunda kemudian muncul sebagai lambang kasih sayang, asal kehidupan, atau bahkan representasi pelukan Ilahi yang menyambut kepulangan manusia.

Bagian akhir puisi memperlihatkan sikap menerima perjalanan tersebut dengan tangan yang menangkup di dada, sebuah isyarat penghormatan, doa, atau kepasrahan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menerima panggilan menuju akhir kehidupan, dan perjalanan tersebut seharusnya dijalani dengan keikhlasan serta kesadaran akan asal-usulnya.

Kata "pulang" bukan sekadar berarti kembali ke rumah, melainkan menjadi simbol kepulangan manusia kepada Tuhan atau kepada kehidupan yang abadi.

Sementara itu, senja melambangkan masa penghujung kehidupan, ketika manusia mulai meninggalkan dunia. Kehadiran sosok bapa dan bunda menyiratkan kerinduan akan kasih yang murni serta harapan akan sambutan yang penuh kedamaian.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Kematian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.
  • Setiap orang perlu menjalani hidup dengan kesadaran bahwa suatu saat akan kembali kepada Sang Pencipta.
  • Kepasrahan dan keikhlasan dapat menghadirkan kedamaian dalam menghadapi perpisahan.
  • Kasih sayang dan kenangan terhadap orang tua menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup.
  • Kehidupan hendaknya dijalani dengan kebaikan agar saat "pulang" tiba, manusia dapat menerimanya dengan tenang.
Puisi "Panggilan" karya Sugiarta Sriwibawa merupakan puisi reflektif yang mengajak pembaca merenungkan hakikat kehidupan dan kematian. Melalui simbol-simbol seperti senja, putih, perjalanan, serta sosok bapa dan bunda, penyair menggambarkan kematian sebagai sebuah kepulangan yang sarat makna spiritual. Walaupun dipenuhi nuansa duka, puisi ini juga menghadirkan harapan akan kedamaian dan penerimaan. Karya ini tidak hanya berbicara tentang akhir kehidupan, tetapi juga tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup dengan penuh kesadaran, ketulusan, dan keimanan.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Panggilan
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Biodata Sugiarta Sriwibawa:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
© Sepenuhnya. All rights reserved.