Pekabaran
(Puitisasi terjemahan al-Qur’an: An-Naba')
Pekabaran (1)
Ah, tentang apa mereka saling bertanya?
(Saling bertanya tentang datangnya kabar wigati
- Tentang kabar mereka masih sih-selisih
Oho! Nanti mereka bakal mengerti sendiri
Pasti mereka bakal mengerti sendiri
Tidakkah Kami jadikan bumi tempat berpijak
Gunung terhunjam jadi pasak-pasak
Dan kalian pasangan joli-sejoli
Dan waktu tidurmu tempat kalian berhenti
Dan malam-malam terbebar jadi pakaian gebar
Dan siang-siang terang jadi ruang kehidupan
Dan Kami susun kokoh di atasmu langit lapis tujuh
Dan senyala dian berbinar-binar
Dari awan Kami ruahkan air berlimpah
Lalu Kami bersilkan biji-biji dan tumbuh-tumbuhan
Dan kebun-kebun yang subur merimbun
Benarlah Hari Keputusan sudah pasti akan datang
Bila nafiri ditiup dan kalian datang berbondongan
Dan langit terbuka jadi pintu-pintu ternganga
Dan gunung berlalangan menjadi bayang-bayang
Benarlah Jahanam sudah terbuka menanti
Para pelanggar batas pada pulang kembali
Tetahunan mereka di dalamnya jadi penghuni
Tiada mengecap sejuk atau mencicip minum
Kecuali air mendidih dan getah daging
- Suatu pembalasan atas dosanya sebanding
Mereka tiada takut pada Hari Perhitungan
Mendustakan ayat Kami dengan dusta bukan terkipa-kipa
Lalu Kami rekam setiap perkara dalam buku catatan
Ah, rasai kini! Rasai!
Kami takkan menambah selain dera pada kalian!
Pekabaran (2)
Para pematuh-patih yang akan menuai hasil
- Kebun-kebun dan taman-taman anggur
Dan bida-bida muda sebaya
Dan sebuah piala kaca penuh wina
Mereka tak mendengar di sana omong kosong atau dusta
- Suatu balasan Tuhan, anugerah pada sepadan
Penyempurna langit dan buana dan segala dalam kolongnya
- Tuhan Pengasih
Tak siapa juga kuasa membuka mulut pada-Nya
Pada hari kapan Ruh bangkit
bersama malaikat banjar berderet
Semuanya bungkam
Kecuali siapa diizinkan Tuhan
Pengasih. Dan berkata tentang kebenaran
Inilah Hari sebenar Hari
Maka siapa suka, mari
kembali berlindung pada Gusti
Benarlah Kami ingatkan kalian
pada siksa hampir tiba
kapan insan jadi saksi
segala kerja tangannya sendiri
Dan berkatalah sikafir mengesah: Ah!
Semoga saja aku jadi tanah
Sumber: Siasat (31 Desember 1958)
Analisis Puisi:
Puisi "Pekabaran" karya Mohammad Diponegoro merupakan puitisasi terjemahan Surah An-Naba' (An-Naba') dalam Al-Qur'an. Penyair tidak menciptakan gagasan baru di luar kandungan surah tersebut, melainkan mengolah terjemahan ayat-ayat Al-Qur'an ke dalam bentuk bahasa puitis yang lebih estetik tanpa menghilangkan pesan pokoknya.
Penyair menggambarkan tanda-tanda kekuasaan Allah, kepastian datangnya Hari Kiamat, balasan bagi orang yang ingkar maupun orang yang bertakwa, serta ajakan agar manusia mempersiapkan diri sebelum datang Hari Perhitungan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kepastian Hari Kiamat, kekuasaan Allah sebagai Pencipta alam semesta, serta balasan bagi setiap amal perbuatan manusia. Selain itu, puisi ini mengangkat tema keimanan, tanggung jawab manusia terhadap amalnya, keadilan Ilahi, dan ajakan untuk kembali kepada jalan yang benar.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara, sedangkan kehidupan akhirat merupakan tujuan akhir yang pasti akan dihadapi setiap manusia.
Penyair mengajak pembaca untuk tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memahami bahwa seluruh ciptaan merupakan tanda kekuasaan Allah. Gunung, langit, hujan, dan tumbuhan bukan sekadar fenomena alam, melainkan bukti bahwa Allah memiliki kuasa untuk menghidupkan kembali manusia setelah kematian.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa penyesalan pada Hari Kiamat tidak lagi bermanfaat. Karena itu, kesempatan memperbaiki diri hanya tersedia selama manusia masih hidup di dunia.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah:
- Yakinilah bahwa Hari Kiamat dan Hari Pembalasan merupakan ketetapan Allah.
- Renungkan alam semesta sebagai bukti kebesaran Sang Pencipta.
- Gunakan kehidupan dunia untuk memperbanyak amal saleh.
- Jangan mendustakan petunjuk Allah karena setiap amal akan dipertanggungjawabkan.
- Bertakwalah agar memperoleh balasan berupa kenikmatan di akhirat.
- Penyesalan setelah datang Hari Pembalasan tidak lagi membawa manfaat.
Puisi ini mengajak pembaca membangun keseimbangan antara rasa takut terhadap hukuman Allah dan harapan terhadap rahmat-Nya.
Puisi "Pekabaran" karya Mohammad Diponegoro merupakan puitisasi Surah An-Naba' yang berhasil menghadirkan kandungan Al-Qur'an dalam bentuk bahasa sastra yang indah dan menggugah. Penyair mengajak pembaca merenungkan hakikat kehidupan serta tanggung jawab manusia di hadapan Allah.
Sebagai karya sastra religius, puisi ini bukan sekadar menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga mengajak pembaca memperdalam keimanan, memperbaiki amal, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.
Karya: Mohammad Diponegoro
Biodata Mohammad Diponegoro:
- Mohammad Diponegoro lahir di Yogyakarta, pada tanggal 28 Juni 1928.
- Mohammad Diponegoro meninggal dunia di Yogyakarta, pada tanggal 9 Mei 1982 (pada usia 53 tahun).
