Puisi: Pelangi Titian Dewata (Karya Korrie Layun Rampan)

Puisi "Pelangi Titian Dewata" karya Korrie Layun Rampan mengingatkan bahwa mengenali dan menghargai akar budaya merupakan langkah penting untuk ...

Pelangi Titian Dewata


pelangi titian dewata
membilang air
membilang rumah pertama

yang meninggalkan jejak
lamin hutan pusaka
membilang jarak

betung bumbung bubu
membilang ikan
membilang wanita pertama

yang air yang tanah
membilang putra langit
wajah lelaki pertama

dari yang mulai
membilang satu-satu
dari yang sampai
membilang satu-satu

Sumber: Horison (Januari, 1985)

Analisis Puisi:

Puisi "Pelangi Titian Dewata" karya Korrie Layun Rampan merupakan puisi yang kaya akan simbol budaya, alam, dan spiritualitas. Penyair, yang dikenal banyak mengangkat kehidupan masyarakat Dayak Kalimantan dalam karya-karyanya, menghadirkan gambaran mengenai hubungan erat antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Melalui diksi yang padat dan penuh makna, puisi ini mengajak pembaca menelusuri asal-usul kehidupan serta menghargai warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pelangi dalam puisi ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan menjadi lambang penghubung antara dunia manusia dan dunia ilahi. Sementara itu, berbagai unsur seperti lamin, betung, bumbung, dan bubu memperlihatkan identitas budaya masyarakat Dayak yang hidup selaras dengan alam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah asal-usul kehidupan manusia, hubungan dengan alam, serta penghormatan terhadap budaya dan leluhur. Tema pendukung dalam puisi ini meliputi:
  • Kearifan lokal masyarakat Dayak.
  • Hubungan manusia dengan alam.
  • Spiritualitas dan kepercayaan terhadap Yang Maha Kuasa.
  • Identitas budaya.
  • Perjalanan kehidupan dari awal penciptaan.
Puisi ini bercerita tentang proses mengenang dan menelusuri asal-usul kehidupan melalui simbol-simbol alam dan budaya. Pelangi digambarkan sebagai "titian dewata", yaitu jembatan yang menghubungkan manusia dengan dunia yang sakral.

Penyair kemudian menghadirkan berbagai simbol kehidupan, seperti air, rumah pertama, lamin, hutan pusaka, betung, bumbung, bubu, wanita pertama, putra langit, hingga lelaki pertama. Semua unsur tersebut seolah dihitung atau "dibilang" satu per satu sebagai bagian dari perjalanan panjang kehidupan manusia.

Pada bagian akhir, penyair menegaskan bahwa segala sesuatu, sejak permulaan hingga perjalanan yang telah ditempuh, merupakan bagian dari satu kesatuan yang perlu dikenang dan dihargai.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari alam, budaya, dan sejarah asal-usulnya.

Kata "membilang" yang terus diulang menunjukkan upaya mengingat, menghitung, atau menelusuri kembali jejak kehidupan. Penyair mengajak pembaca untuk tidak melupakan akar budaya dan nilai-nilai leluhur yang menjadi fondasi kehidupan.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia merupakan bagian dari tatanan alam semesta yang saling berkaitan. Kehidupan tidak berdiri sendiri, tetapi terbentuk melalui hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Jangan melupakan asal-usul dan identitas budaya.
  • Jagalah hubungan yang harmonis antara manusia dan alam.
  • Hargailah warisan leluhur sebagai bagian dari jati diri.
  • Kehidupan merupakan perjalanan yang harus disyukuri sejak awal hingga akhir.
  • Alam dan budaya adalah sumber kebijaksanaan yang perlu dilestarikan.
Puisi "Pelangi Titian Dewata" karya Korrie Layun Rampan merupakan puisi yang kaya akan nilai budaya, spiritualitas, dan penghormatan terhadap asal-usul kehidupan. Melalui simbol pelangi, air, rumah pertama, hutan pusaka, serta berbagai unsur budaya Dayak, penyair mengajak pembaca memahami bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari alam dan warisan leluhurnya.

Puisi ini mengingatkan bahwa mengenali dan menghargai akar budaya merupakan langkah penting untuk memahami jati diri sekaligus menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Korrie Layun Rampan
Puisi: Pelangi Titian Dewata
Karya: Korrie Layun Rampan

Biodata Korrie Layun Rampan:
  • Korrie Layun Rampan adalah seorang penulis (penyair, cerpenis, novelis, penerjemah), editor, dan kritikus sastra Indonesia berdarah Dayak Benuaq.
  • Korrie Layun Rampan lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur.
  • Korrie Layun Rampan meninggal dunia pada tanggal 19 November 2015 di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.