Puisi: Perempuan yang Lupa Amanah (Karya Emi Suy)

Puisi "Perempuan yang Lupa Amanah" karya Emi Suy mengingatkan bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan kejujuran dan tanggung ...

Perempuan yang Lupa Amanah

/1/

Yang terhormat Sri Hartini di bumi Klaten
Engkau mengabdikan diri menjadi bupati
Namun sayang sungguh sayang sekali engkau terlena
Dengan dunia kekuasaan dan jabatan
Engkau komersilkan kekuasaan dari singgasana
Engkau menumpuk harta
Membuka lapak menjualbelikan jabatan

/2/

Terdakwa Suramlan disebut jaksa menyuapmu 200 juta
Ia rela berutang Rp 50 juta demi kedudukan
Menjadi Kabid SMP Dinas Pendidikan

/3/

Pak Jaksa berkata: Meski terdakwa tidak mempunyai uang
Rp 50 juta. Ia mencari pinjaman untuk membeli jabatan
Kini Suramlan didakwa dan dijerat Pasal 5 Ayat 1 huruf a UU Tipikor
Selamat mendekam di rumah pesakitan, Suramlan!

/4/

Sri Hartini sangat lihai jualan kursi
Tujuh tersangka kasus jabatan disergap KPK
Total uang suap mencapai Rp 5,2 miliar dan USD 100
Sri, apakah kau masih mau membantah?

/5/

Ingatlah Sri Hartini; apakah semua bakal engkau bawa mati?
Menemani tidur panjangmu nanti?
Apakah kelak harta yang akan mengantarmu ke surga?
Tidak, tidak, Sri Hartini--kekuasaan dan hartamu
Menjadi petaka yang senantiasa membelenggumu, menyiksamu!

Jakarta, 31 Maret 2017

Sumber: Puisi Menolak Korupsi 6 (Elmatera Publishing, 2017)

Analisis Puisi:

Puisi "Perempuan yang Lupa Amanah" karya Emi Suy merupakan puisi kritik sosial yang secara langsung menyoroti penyalahgunaan jabatan dan praktik korupsi dalam pemerintahan. Berbeda dengan puisi liris yang mengedepankan simbolisme, puisi ini menggunakan bahasa yang lugas, bahkan menyebut nama tokoh dan fakta-fakta yang berkaitan dengan kasus dugaan jual beli jabatan.

Melalui puisi ini, penyair tidak hanya mengkritik tindakan individu, tetapi juga mengingatkan bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus dijalankan dengan jujur. Ketika amanah dikhianati demi harta dan kepentingan pribadi, akibatnya tidak hanya dirasakan di dunia melalui proses hukum, tetapi juga menjadi beban moral yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan pengkhianatan terhadap amanah jabatan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang moralitas, keadilan, tanggung jawab seorang pemimpin, serta konsekuensi dari perbuatan yang melanggar hukum dan etika.

Puisi ini bercerita tentang seorang pejabat yang dinilai menyalahgunakan kewenangannya dengan memperjualbelikan jabatan demi memperoleh keuntungan pribadi. Penyair menggambarkan bagaimana jabatan yang seharusnya menjadi sarana untuk mengabdi kepada masyarakat justru dijadikan komoditas.

Puisi juga menyinggung keterlibatan pihak lain yang rela memberikan suap demi memperoleh posisi tertentu dalam pemerintahan. Penyair kemudian menggambarkan proses hukum yang menjerat para pelaku hingga akhirnya memberikan renungan bahwa harta dan kekuasaan tidak akan dibawa mati.

Pada bagian penutup, puisi berubah menjadi nasihat moral yang mengingatkan bahwa kekayaan hasil penyimpangan tidak akan membawa keselamatan, melainkan menjadi sumber penderitaan.

Makna Tersirat

Di balik kritik yang disampaikan secara langsung, puisi ini mengandung beberapa makna tersirat.
  • Pertama, jabatan adalah amanah, bukan alat untuk memperkaya diri sendiri. Penyalahgunaan kekuasaan merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan masyarakat.
  • Kedua, korupsi tidak hanya merugikan negara secara materi, tetapi juga merusak sistem pemerintahan dan menghilangkan keadilan bagi masyarakat.
  • Ketiga, keinginan memperoleh jabatan melalui jalan yang tidak benar menunjukkan rusaknya nilai integritas, baik pada pemberi maupun penerima suap.
  • Keempat, penyair mengingatkan bahwa kekuasaan dan harta bersifat sementara. Pada akhirnya, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya, sehingga tidak ada kekayaan dunia yang dapat menggantikan nilai kejujuran.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan sejumlah pesan penting, antara lain:
  • Jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
  • Penyalahgunaan kekuasaan demi kepentingan pribadi akan membawa konsekuensi hukum dan moral.
  • Harta yang diperoleh melalui cara yang tidak benar tidak akan membawa kebahagiaan sejati.
  • Integritas, kejujuran, dan tanggung jawab harus menjadi dasar dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin.
  • Setiap manusia hendaknya menyadari bahwa kekuasaan dan kekayaan dunia bersifat sementara, sedangkan pertanggungjawaban atas perbuatan bersifat abadi.
Puisi "Perempuan yang Lupa Amanah" karya Emi Suy merupakan puisi kritik sosial yang mengangkat persoalan korupsi, jual beli jabatan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Dengan bahasa yang lugas dan merujuk pada peristiwa nyata, penyair mengingatkan bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan kejujuran dan tanggung jawab.

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa keserakahan hanya akan membawa kehancuran. Karya ini mengajak pembaca untuk menjunjung tinggi integritas, menjauhi korupsi, dan menyadari bahwa kekuasaan serta harta hanyalah titipan yang tidak akan dibawa hingga akhir kehidupan.

Emi Suy
Puisi: Perempuan yang Lupa Amanah
Karya: Emi Suy

Biodata Emi Suy:
  • Emi Suy (Emi Suyanti) lahir pada tanggal 2 Februari 1979 di Magetan, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.