Puisi: Perjalanan ke Kota Tua (Karya Tjahjono Widarmanto)

Puisi "Perjalanan ke Kota Tua" karya Tjahjono Widarmanto menghadirkan kisah perjalanan yang tidak hanya menggambarkan keindahan pesisir, tetapi ...
Perjalanan ke Kota Tua
: Beo

tak ada yang sudi mengabadikan perjalanan ini
selain gugusan lintang, seleret bulan, hutan bakau yang runduk
bersanding lancip pohon kelapa menjulur langit
sesekali bayang-bayang salib di tepian jalan
aspal jalan melingkar-lingkar bisu dalam gigil yang sepi
orang-orang keluar rumah berjemur bulan ngobrol di tepian
bicara tentang laut, pantai dan ikan tuna 

nelayan-nelayan baru pulang melaut
mengusung ikan dalam pika juga kisah gelombang
di sini bahasa laut begitu bahagia dan selalu tertawa
meski bau garam terasa juga keras dan asin
seperti asinnya keringat air mata nelayan
berdendang tentang taufan dan gelombang
perahu-perahu yang karam pecah menghantam karang 

di jalanan sepi ini antara pohonan bakau dan bau pantai
begitu tabah nelayan menghitung cermat purnama
menakar berapa deras gelombang akan membadai
seberapa tebal halimun mematahkan kompas juru mudi
bergumul seperti sepasang kekasih merindu
tak sejengkal berpisah meski palung laut begitu dalam
dingin dan kejam, seperti tangan-tangan maut menjulur 

di sepanjang jalan bayang-bayang bakau rimbuk
selalu kudengar geremang mantram-mantram cinta
akan laut yang tak pernah tua untuk dipuja dan dicinta

Ngawi, Beo, 2017

Sumber: Porodisa Surga di Halaman Depan (2017)

Analisis Puisi:

Puisi "Perjalanan ke Kota Tua" karya Tjahjono Widarmanto menghadirkan kisah perjalanan yang tidak hanya menggambarkan keindahan pesisir, tetapi juga merekam kehidupan masyarakat nelayan yang penuh perjuangan. Melalui deskripsi alam yang kaya dan bahasa yang puitis, penyair memperlihatkan hubungan yang erat antara manusia, laut, dan kehidupan yang mereka jalani.

Perjalanan dalam puisi ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perjalanan batin untuk memahami kerja keras, ketabahan, dan kecintaan masyarakat pesisir terhadap laut yang menjadi sumber kehidupan sekaligus menghadirkan berbagai ancaman.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan masyarakat nelayan, hubungan manusia dengan alam, serta ketabahan menghadapi kerasnya kehidupan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang perjalanan, cinta terhadap laut, dan penghormatan kepada mereka yang menggantungkan hidup pada alam.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan menuju sebuah kota tua di kawasan pesisir. Dalam perjalanan tersebut, penyair menyaksikan pemandangan alam yang indah, seperti hutan bakau, laut, bulan, dan pantai, sekaligus melihat kehidupan para nelayan yang baru kembali dari melaut.

Para nelayan membawa hasil tangkapan sekaligus kisah tentang ombak, badai, dan kapal yang karam. Mereka hidup berdampingan dengan laut yang memberi kehidupan, tetapi juga menyimpan bahaya. Meskipun demikian, mereka tetap tabah, memahami tanda-tanda alam, dan terus mencintai laut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan selalu menuntut keberanian, kesabaran, dan kemampuan berdamai dengan alam. Laut menjadi simbol kehidupan yang penuh peluang sekaligus risiko. Nelayan digambarkan sebagai sosok yang memahami bahwa rezeki dan bahaya datang dari tempat yang sama.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa keindahan alam tidak dapat dipisahkan dari perjuangan manusia yang hidup di dalamnya. Di balik panorama laut yang memukau, terdapat kerja keras, pengorbanan, dan keteguhan hati yang sering luput dari perhatian.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Hargailah perjuangan para nelayan yang mempertaruhkan keselamatan demi mencari nafkah.
  • Manusia harus hidup selaras dengan alam serta memahami tanda-tandanya.
  • Keindahan alam selalu berdampingan dengan tantangan yang harus dihadapi dengan kebijaksanaan.
  • Ketabahan dan kerja keras merupakan bekal penting dalam menjalani kehidupan.
  • Cintailah lingkungan pesisir dan laut sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga kelestariannya.
Puisi "Perjalanan ke Kota Tua" karya Tjahjono Widarmanto merupakan refleksi puitis tentang kehidupan masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada laut. Melalui perjalanan menuju kota tua, penyair menghadirkan panorama alam yang indah sekaligus menggambarkan kerasnya kehidupan para nelayan. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih menghargai perjuangan manusia, mencintai alam, dan memahami bahwa kehidupan selalu berjalan berdampingan dengan harapan serta tantangan.

Tjahjono Widarmanto
Puisi: Perjalanan ke Kota Tua
Karya: Tjahjono Widarmanto

Biodata Tjahjono Widarmanto:
  • Tjahjono Widarmanto lahir pada tanggal 18 April 1969 di Ngawi, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.