Puisi: Pesisir Jimbaran (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi "Pesisir Jimbaran" karya Wayan Jengki Sunarta memperlihatkan bagaimana pesisir yang dahulu menjadi ruang hidup masyarakat dan ekosistem kini ...
Pesisir Jimbaran

di tanah cuaca tanah tropika
kita terlahir
menuntun perjalanan sebuah sejarah

ayu, terlalu banyak saudara kita
yang jadi berjiwa budak
terlalu banyak
tak henti angin asing datang gemuruh
menggusur tanahmu rawabakaumu
bukitkapurmu pasirputihmu

mereka renggut
purnama yang terbit
dari indah mata bersitatap
redup saat laut surut:
di rawarawa di bakaubakau
di karangkarang di pasirpasir
hotelhotel menjalar bagai parasit

terlalu banyak
yang tak bisa hidup sahaja

di pesisir ini, ayu, kita rindu nelayan berlagu
pulang dari laut jauh
kita kenang penyu bertelur saat bulan penuh
kita kangen manggang ikan di bawah gemintang
bercengkerama dengan angin garam
di malam langit jimbaran

kita hanya bisa kangen
tak mampu berbuat apa

namun ada kupunya mimpi
menjaga tanah bali
dalam rangkuman kasih puisi.

1996

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi "Pesisir Jimbaran" karya Wayan Jengki Sunarta merupakan puisi bertema lingkungan, budaya, dan kritik sosial. Penyair menghadirkan potret pesisir Jimbaran di Bali yang mengalami perubahan akibat pesatnya pembangunan dan arus kapitalisasi pariwisata. Melalui bahasa yang puitis sekaligus lugas, puisi ini mengungkap kerinduan terhadap Bali yang alami, tempat nelayan, penyu, hutan bakau, dan kehidupan masyarakat pesisir hidup berdampingan dengan alam.

Di balik keindahan lanskap tropis yang digambarkan, puisi ini menyampaikan kritik terhadap eksploitasi ruang pesisir yang mengorbankan lingkungan dan identitas budaya. Pada bagian akhir, penyair menghadirkan secercah harapan melalui mimpi untuk menjaga tanah Bali dengan cinta dan kepedulian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pelestarian alam dan budaya di tengah ancaman pembangunan yang berlebihan. Tema-tema pendukung yang muncul dalam puisi ini meliputi:
  • Kritik terhadap eksploitasi lingkungan.
  • Kerinduan pada kehidupan pesisir yang sederhana.
  • Identitas budaya masyarakat Bali.
  • Dampak kapitalisasi pariwisata.
  • Harapan untuk menjaga warisan alam.
Puisi ini bercerita tentang perubahan yang terjadi di kawasan pesisir Jimbaran akibat derasnya pembangunan dan masuknya kepentingan luar. Penyair menggambarkan bagaimana tanah tropis yang dahulu menjadi ruang hidup masyarakat kini perlahan berubah oleh pembangunan hotel dan berbagai bentuk eksploitasi.

Keindahan alam seperti rawa bakau, bukit kapur, pasir putih, hingga pemandangan bulan di tepi laut seolah direbut oleh kepentingan ekonomi. Kehidupan nelayan yang dahulu menjadi bagian penting dari pesisir pun mulai memudar, begitu pula keberadaan penyu yang bertelur dan tradisi masyarakat menikmati malam di tepi pantai.

Meski dipenuhi rasa kehilangan, puisi ini ditutup dengan harapan. Penyair menyatakan mimpinya untuk menjaga tanah Bali melalui kasih, kepedulian, dan kekuatan puisi sebagai media penyadaran.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kemajuan ekonomi tidak semestinya mengorbankan kelestarian alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal. Selain itu, puisi ini juga mengandung beberapa makna lain, yaitu:
  • Alam merupakan bagian dari identitas suatu daerah.
  • Pembangunan yang tidak terkendali dapat menghilangkan warisan budaya.
  • Masyarakat lokal sering menjadi pihak yang paling terdampak oleh perubahan.
  • Kerinduan terhadap masa lalu lahir karena hilangnya keseimbangan antara manusia dan alam.
  • Sastra dapat menjadi bentuk kepedulian dan perlawanan terhadap kerusakan lingkungan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Jagalah alam sebagai warisan yang tidak tergantikan.
  • Pembangunan hendaknya memperhatikan keseimbangan lingkungan dan budaya.
  • Hargailah kehidupan masyarakat lokal yang telah lama menjaga alam.
  • Jangan membiarkan kepentingan ekonomi menghapus identitas suatu daerah.
  • Gunakan seni dan sastra sebagai sarana menumbuhkan kesadaran terhadap pelestarian lingkungan.
Puisi "Pesisir Jimbaran" karya Wayan Jengki Sunarta merupakan puisi yang memadukan keindahan alam dengan kritik terhadap perubahan sosial dan lingkungan. Penyair memperlihatkan bagaimana pesisir yang dahulu menjadi ruang hidup masyarakat dan ekosistem kini menghadapi tekanan akibat pembangunan yang tidak selalu berpihak pada alam maupun budaya lokal.

Puisi ini mengajak pembaca menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam. Karya ini menjadi seruan agar keindahan Bali tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Pesisir Jimbaran
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.