Puisi: Sarinande-Sarinande (Karya F. Rahardi)

Puisi "Sarinande-Sarinande" karya F. Rahardi adalah kritik terhadap kemunafikan religius, perpecahan dalam kehidupan beragama, dan kerinduan akan ...
Sarinande-Sarinande

semesta semakin sunyi
lalu lenyap di lengkung langit
lantai kudus bangku-bangku kudus
lilin di altar dan bunga-bunga mawar
halaman gereja
september dan kembang jeruk
dan vas-vas segar tersunting
di rambut dara-dara kudus
halaman gereja
dan bencana-bencana, ada perpecahan
sayang: pendeta-pendeta merinai
kuntum-kuntum patah
maka dunia berangsur semu
dengan buku-buku dan ayat-ayat kudus
bukan kudus, hanya kudis dan kuman-kuman
telah menghempaskan kita
di pantai kenyataan (sunyi lagi).

18 September 1969

Sumber: Semangat (Desember, 1970)

Analisis Puisi:

Puisi "Sarinande-Sarinande" karya F. Rahardi merupakan puisi religius yang sarat kritik sosial. Dengan memanfaatkan simbol-simbol gereja, altar, lilin, bunga mawar, kitab suci, dan ayat-ayat kudus, penyair menggambarkan kontras antara kesucian yang diidealkan dengan kenyataan yang dipenuhi perpecahan dan kemerosotan moral.

Judul "Sarinande-Sarinande" mengingatkan pembaca pada lagu rakyat Nusantara yang bernuansa lembut dan penuh kerinduan. Dalam puisi ini, nuansa tersebut berubah menjadi ironi. Keindahan, kekhusyukan, dan kesucian perlahan memudar ketika manusia gagal menghayati nilai-nilai yang mereka yakini.

Puisi ini tidak menyerang agama sebagai ajaran, melainkan mengkritik perilaku manusia yang menjadikan simbol-simbol religius kehilangan makna karena tidak diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik terhadap kemunafikan religius, perpecahan dalam kehidupan beragama, dan kerinduan akan kesucian yang sejati. Selain itu, puisi ini mengangkat tema mengenai hubungan antara simbol keagamaan dan praktik kehidupan, serta pentingnya menghidupi nilai-nilai iman, bukan sekadar menampilkannya.

Puisi ini bercerita tentang suasana sebuah gereja yang mula-mula dipenuhi simbol-simbol kesucian. Penyair menghadirkan gambaran lantai kudus, bangku-bangku kudus, lilin di altar, bunga mawar, halaman gereja, dara-dara kudus, dan suasana yang tampak damai.

Namun, keindahan tersebut berubah ketika muncul bencana-bencana dan perpecahan. Pendeta-pendeta digambarkan menangis, sementara kuntum-kuntum bunga patah, melambangkan rusaknya sesuatu yang semula indah.

Pada bagian akhir, penyair menyatakan bahwa dunia menjadi semu. Bahkan, buku-buku dan ayat-ayat kudus tidak lagi menghadirkan kesucian apabila manusia dipenuhi penyakit moral. Permainan kata "bukan kudus, hanya kudis dan kuman-kuman" menjadi puncak kritik terhadap kehidupan beragama yang kehilangan esensinya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kesucian tidak terletak pada bangunan, simbol, atau kitab suci semata, melainkan pada sikap hidup manusia yang mengamalkan nilai-nilai yang diyakininya.

Penyair menunjukkan bahwa simbol-simbol religius dapat kehilangan makna apabila manusia terjebak dalam konflik, perpecahan, dan kemunafikan. Permainan bunyi antara kudus, kudis, dan kuman memperlihatkan perubahan dari keadaan yang suci menuju keadaan yang rusak.

Ungkapan "pantai kenyataan" mengisyaratkan bahwa pada akhirnya manusia harus menghadapi realitas hidup, tempat nilai-nilai keagamaan diuji melalui tindakan nyata, bukan sekadar ucapan atau ritual.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Nilai-nilai agama harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, bukan hanya dalam simbol dan ritual.
  • Perpecahan dalam kehidupan beragama bertentangan dengan hakikat ajaran yang mengajarkan kasih dan persaudaraan.
  • Kesucian lahir dari hati dan tindakan, bukan sekadar dari tempat ibadah atau atribut keagamaan.
  • Manusia perlu terus mengoreksi diri agar tidak terjebak dalam kemunafikan.
  • Agama hendaknya menjadi sumber perdamaian, bukan alasan munculnya konflik.
Puisi "Sarinande-Sarinande" karya F. Rahardi merupakan puisi religius yang menyampaikan kritik sosial melalui bahasa yang simbolis dan puitis. Dengan menghadirkan gambaran gereja, altar, lilin, bunga, dan kitab suci, penyair menunjukkan bahwa simbol-simbol agama akan kehilangan makna apabila manusia membiarkan perpecahan, kemunafikan, dan kerusakan moral menguasai kehidupan.

Puisi ini mengajak pembaca kembali kepada hakikat agama sebagai jalan menuju kasih, persatuan, dan kemanusiaan. Oleh karena itu, karya ini tidak hanya menjadi refleksi spiritual, tetapi juga seruan agar nilai-nilai kesucian diwujudkan dalam kehidupan nyata, bukan berhenti pada simbol-simbol keagamaan semata.

Floribertus Rahardi
Puisi: Sarinande-Sarinande
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.