Puisi: Sekilas Senja Pengukir Rindu (Karya Rizal De Loesie)

Puisi "Sekilas Senja Pengukir Rindu" karya Rizal De Loesie mengajarkan bahwa kehilangan memang menyakitkan, tetapi kenangan tetap menjadi bagian ...

Sekilas Senja Pengukir Rindu

Hanya secangkir kopi, dari racikan hati
harapku kau tuang di penghujung petang
Kauaduk dari rasa cinta dan irama senja
mungkin aku lupa mengenali aroma,
Membedakan syair atau kata-kata

Asap kopi mengepulkan hasrat yang terjerat
Tabir lelah menadah angin,
Tingkap langit menganga menunggu tiba
Antara lereng harapan dan memuja
Di balik-balik batu dan butiran pasir
Kusembunyikan rasa yang pernah hadir

Ingin airmataku tumbuh di sudut matamu
Berbagi sekeping pilu,
Ingin 'ku berlayar di rekah bibirmu
Dalam kecamuk ombak paling dasyat
Nyatanya, kutepis sekian lapis mimpi itu
Di matamu tak lagi kulihat bait puisi yang kutitip dulu

Mungkin sebait puisi menanam benih
Atas segala kehilangan jejak,
Membuat bertahan dalam liang rindu
Sesunyi-sunyinya

Bandung, Februari 2023

Analisis Puisi:

Puisi "Sekilas Senja Pengukir Rindu" karya Rizal De Loesie merupakan puisi yang menggambarkan perjalanan perasaan seseorang dalam menghadapi cinta, harapan, dan kehilangan. Melalui simbol kopi, senja, angin, ombak, dan puisi, penyair menghadirkan kisah tentang kerinduan yang masih tersimpan meskipun hubungan yang diharapkan mulai menjauh.

Puisi ini menggunakan bahasa yang lembut dan penuh perasaan. Setiap larik menggambarkan pergulatan batin seseorang yang ingin mempertahankan kenangan cinta, tetapi harus menerima kenyataan bahwa sesuatu yang pernah indah mungkin tidak lagi dapat kembali seperti semula.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan, kehilangan, dan kenangan cinta yang masih tersimpan dalam hati. Selain itu, puisi ini juga mengangkat beberapa tema pendukung, yaitu:
  • harapan terhadap cinta yang telah berubah,
  • kesedihan akibat kehilangan,
  • kenangan masa lalu,
  • perjuangan menerima kenyataan.

Makna Tersirat

Puisi ini memiliki berbagai makna tersirat yang mendalam.
  • Secangkir kopi melambangkan kenangan, kehangatan, dan harapan yang ingin kembali dirasakan.
  • Senja menjadi simbol masa peralihan, suasana akhir, atau perjalanan menuju sesuatu yang tidak pasti.
  • Asap kopi menggambarkan keinginan dan kerinduan yang perlahan menghilang.
  • Tabir lelah melambangkan beban batin akibat perjalanan cinta yang tidak mudah.
  • Ombak dahsyat menggambarkan pergolakan emosi dan rasa sakit dalam hati.
  • Bait puisi yang hilang menjadi simbol cinta atau perhatian yang tidak lagi ditemukan.
Makna besar yang tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kenangan cinta dapat tetap hidup meskipun hubungan telah berubah. Seseorang mungkin masih menyimpan rasa, tetapi harus belajar menerima bahwa tidak semua harapan dapat diwujudkan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, yaitu:
  • Kenangan indah tetap memiliki nilai meskipun suatu hubungan telah berakhir.
  • Seseorang harus mampu menerima perubahan dalam kehidupan.
  • Cinta membutuhkan dua hati yang saling menjaga, bukan hanya satu pihak yang berharap.
  • Kesedihan akibat kehilangan dapat menjadi bagian dari proses pendewasaan.
  • Perasaan yang tulus tetap bermakna meskipun tidak selalu mendapatkan balasan.
Pesan utama puisi ini adalah bahwa manusia perlu menghargai kenangan, tetapi juga harus belajar menerima kenyataan dan melanjutkan perjalanan hidup.

Puisi "Sekilas Senja Pengukir Rindu" karya Rizal De Loesie merupakan puisi tentang cinta yang tertinggal dalam kenangan. Melalui simbol kopi dan senja, penyair menggambarkan seseorang yang masih menyimpan rasa, tetapi harus menerima bahwa cinta yang dahulu mungkin tidak lagi sama.

Puisi ini berhasil menghadirkan suasana rindu yang mendalam. Puisi ini mengajarkan bahwa kehilangan memang menyakitkan, tetapi kenangan tetap menjadi bagian berharga dari perjalanan hidup manusia.

Rizal De Loesie
Puisi: Sekilas Senja Pengukir Rindu
Karya: Rizal De Loesie

Biodata Rizal De Loesie:
  • Rizal De Loesie (nama asli Yufrizal) adalah seorang Ayah dari seorang putri yang mengabdikan diri sebagai Aparatur Sipil Negara di Pemerintah Kota Bandung. Ia lahir di Pasaman, Sumatera Barat. Sejak masa sekolah dulu telah menyukai kesusasteraan. Tetapi tidak begitu fokus karena bekerja di Pemerintahan, menulis baginya adalah menyampaikan apa yang dilihat, dirasa dan segala sesuatu yang muncul dalam pikiran, dituangkan dalam bentuk untaian kata.
  • Rizal adalah Penerima anugerah Widya Pratama Penggiat Literasi Kota Bandung pada tahun 2019.
© Sepenuhnya. All rights reserved.