Puisi: Sementara (Karya Muhammad Haji Salleh)

Puisi “Sementara” karya Muhammad Haji Salleh mengingatkan bahwa segala sesuatu akan berlalu, tetapi kesadaran untuk menghargai perjalanan, alam, ...

Sementara


di sisi hutan
dan julangan batu
semua jalan sementara.
di sisi mendung bersih
dan bukit yang berpeta kurun
semua pengembara sementara.

dalam suatu musim
daun dan ranting menagih pinjaman tanah,
bekas sepatu pendaki
di rumput paya batu
hanya tinggal gambar ingatan.

Gol, 11 Agustus 1986

Sumber: Horison (Januari, 1987)

Analisis Puisi:

Puisi “Sementara” karya Muhammad Haji Salleh merupakan puisi kontemplatif yang mengangkat tema tentang kefanaan, perjalanan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat simbol, penyair mengajak pembaca memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara: perjalanan, keberadaan manusia, bahkan jejak yang ditinggalkan.

Judul “Sementara” menjadi kunci utama dalam memahami puisi ini. Kata tersebut menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar abadi. Alam, manusia, dan segala pengalaman hidup hanya hadir dalam suatu rentang waktu sebelum akhirnya berubah atau menghilang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketidakkekalan kehidupan dan perjalanan manusia dalam ruang serta waktu. Selain itu, puisi ini juga mengangkat beberapa tema pendukung, yaitu:
  • hubungan manusia dengan alam;
  • perjalanan dan pengembaraan hidup;
  • perubahan waktu;
  • kenangan sebagai satu-satunya peninggalan manusia.
Puisi ini memperlihatkan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari perjalanan alam yang jauh lebih panjang.

Puisi ini bercerita tentang kehidupan yang selalu berada dalam keadaan sementara. Penyair menggambarkan jalan, hutan, batu, bukit, dan para pengembara sebagai sesuatu yang tidak pernah menetap selamanya.

Pada bagian awal, penyair menggambarkan bahwa:

"semua jalan sementara"
"semua pengembara sementara"

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan manusia tidak bersifat kekal. Setiap langkah memiliki batas waktu, dan setiap manusia pada akhirnya akan meninggalkan tempat yang pernah dilaluinya.

Pada bagian akhir, penyair menggambarkan daun dan ranting yang "menagih pinjaman tanah" serta bekas sepatu pendaki yang hanya tersisa sebagai "gambar ingatan". Hal ini menunjukkan bahwa manusia hanya meminjam ruang di bumi dan meninggalkan jejak yang perlahan akan hilang.

Makna Tersirat

Puisi ini memiliki makna tersirat tentang kesadaran manusia terhadap keterbatasan hidup. Beberapa makna yang dapat dipahami antara lain:
  • Dunia bukanlah tempat yang kekal untuk dimiliki manusia, melainkan tempat yang hanya dipinjam sementara.
  • Perjalanan hidup manusia akan meninggalkan kenangan, tetapi tidak selalu meninggalkan jejak yang abadi.
  • Alam memiliki siklusnya sendiri dan manusia harus menghargai keberadaannya.
  • Kehidupan perlu dijalani dengan kesadaran karena waktu tidak dapat diulang.
  • Manusia harus rendah hati karena keberadaannya sangat kecil dibandingkan perjalanan alam dan waktu.
Puisi ini mengajak pembaca untuk menerima perubahan sebagai bagian alami dari kehidupan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, yaitu:
  • Sadari bahwa kehidupan dan segala sesuatu di dalamnya bersifat sementara.
  • Hargai alam karena manusia hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan bumi.
  • Jangan terlalu melekat pada sesuatu yang tidak dapat dimiliki selamanya.
  • Tinggalkan jejak kebaikan karena keberadaan manusia akan dikenang melalui pengalaman yang diberikan kepada orang lain.
  • Jalani perjalanan hidup dengan rendah hati dan penuh kesadaran.
Penyair mengingatkan bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan pengembara yang singgah untuk sementara.

Puisi “Sementara” karya Muhammad Haji Salleh merupakan puisi yang mengajak pembaca merenungkan hakikat keberadaan manusia di dunia. Melalui gambaran alam seperti hutan, batu, bukit, dan jejak pendaki, penyair menunjukkan bahwa manusia hanyalah pengembara yang singgah dalam perjalanan waktu yang panjang.

Kekuatan puisi ini terletak pada kesederhanaan bahasanya yang mampu menghadirkan pemikiran mendalam tentang kehidupan. Karya ini mengingatkan bahwa segala sesuatu akan berlalu, tetapi kesadaran untuk menghargai perjalanan, alam, dan setiap momen yang dimiliki merupakan hal yang membuat kehidupan menjadi bermakna.

Muhammad Haji Salleh
Puisi: Sementara
Karya: Muhammad Haji Salleh

Biodata Muhammad Haji Salleh:
  • Muhammad Haji Salleh (Prof. Dr. Muhammad bin Haji Salleh) lahir pada tanggal 26 Maret 1942 di Taiping, Perak, Malaysia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.