Senandung Si Bisu
Dengan menyandang sebuah gitar ukulele
seorang bocah menyanyikan lagu
entah lagu lama atau lagu baru
karena sang penyanyinya seorang bisu
suaranya yang parau menggesek terik siang
sesak panas dalam bis kota
mengaduk-aduk pikiran para penumpang
bertamasya ke pengalaman masing-masing
irama musik dan lagunya
kadang seperti tak sejalan
atau karena telinga penumpang sulit mendengar
suara-suara yang terlontar apa adanya
mungkin dibutuhkan alat bantu dengar
dengan meminjam telinga langit
biar bisa terdengar merdunya nada
dari penyanyi bisu sepanjang jalan
senandung si bisu masih terngiang
diterbangkan angin ke pelosok-pelosok rasa
dan menyisakan tanya di kaca jendela bis kota
Jakarta, 7 & 8 April 2001
Sumber: Penyadaran (Bumi Budhi, 2006)
Analisis Puisi:
Puisi "Senandung Si Bisu" karya Budhi Setyawan merupakan puisi yang sarat dengan kritik sosial dan nilai kemanusiaan. Penyair menghadirkan sosok seorang anak bisu yang memainkan ukulele dan bernyanyi di dalam bus kota. Meskipun secara fisik ia tidak mampu berbicara seperti kebanyakan orang, kehadirannya justru menyampaikan pesan yang lebih kuat daripada kata-kata.
Melalui simbol "penyanyi bisu", Budhi Setyawan mengajak pembaca merenungkan bagaimana masyarakat sering kali gagal mendengar suara-suara yang tulus, sederhana, dan penuh perjuangan. Puisi ini tidak hanya berbicara tentang keterbatasan fisik, tetapi juga tentang keterbatasan empati manusia dalam memahami sesama.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kemanusiaan, perjuangan hidup, dan pentingnya empati terhadap mereka yang sering tidak didengar. Tema-tema pendukung dalam puisi ini meliputi:
- Kritik terhadap kepekaan sosial.
- Perjuangan hidup kaum marginal.
- Komunikasi yang melampaui kata-kata.
- Kepedulian terhadap penyandang disabilitas.
- Refleksi tentang cara manusia mendengarkan sesama.
Puisi ini bercerita tentang seorang bocah bisu yang membawa gitar ukulele dan bernyanyi di dalam sebuah bus kota. Walaupun tidak memiliki suara yang sempurna, ia tetap berusaha menyampaikan lagu kepada para penumpang.
Suara yang keluar dari mulutnya terdengar parau dan tidak lazim. Sebagian penumpang mungkin menganggap lagu itu tidak selaras, tetapi penyair justru mempertanyakan apakah masalahnya ada pada penyanyi atau pada pendengar yang tidak memiliki kepekaan untuk memahami.
Pada bagian akhir, penyair membayangkan bahwa manusia membutuhkan "alat bantu dengar" yang bukan sekadar alat fisik, melainkan hati yang lebih terbuka. Senandung bocah bisu itu akhirnya meninggalkan kesan mendalam dan pertanyaan yang terus bergema dalam hati para penumpang.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa banyak suara yang paling jujur justru berasal dari mereka yang sering diabaikan oleh masyarakat.
"Bisu" dalam puisi ini tidak hanya menunjuk pada kondisi fisik, tetapi juga melambangkan kelompok-kelompok yang suaranya tidak didengar karena kemiskinan, keterbatasan, atau posisi sosial mereka.
Sementara itu, "alat bantu dengar" menjadi simbol perlunya empati, kepedulian, dan hati yang terbuka agar manusia mampu memahami penderitaan serta perjuangan orang lain.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa keindahan tidak selalu terletak pada kesempurnaan suara, melainkan pada ketulusan yang menyertainya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Belajarlah mendengarkan orang lain dengan hati, bukan hanya dengan telinga.
- Jangan meremehkan seseorang karena keterbatasan fisiknya.
- Setiap manusia memiliki cara untuk menyampaikan perasaan dan harapannya.
- Tumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan.
- Ketulusan sering kali lebih bernilai daripada kesempurnaan.
Puisi "Senandung Si Bisu" karya Budhi Setyawan merupakan puisi yang mengangkat nilai kemanusiaan melalui kisah sederhana tentang seorang bocah bisu yang bernyanyi di dalam bus kota. Di balik keterbatasan fisiknya, penyair menghadirkan kritik terhadap masyarakat yang sering kali gagal mendengar suara-suara yang paling tulus.
Puisi ini mengingatkan bahwa mendengarkan sesama membutuhkan lebih dari sekadar telinga—dibutuhkan hati yang peka agar setiap suara kemanusiaan benar-benar dapat dipahami.
Karya: Budhi Setyawan
Biodata Budhi Setyawan:
- Budhi Setyawan lahir pada tanggal 9 Agustus 1969 di Purworejo.